
...SELAMAT MEMBACA...
Adhisti langsung menatap jendela dan enggan lagi menatap tuan tampan yang berada di sampingnya itu.
Sesampainya di kantor Adhisti berjalan pelan takut terjatuh, lantai lobi kantor ini sangat mengkilat dan seperti di lapisi minyak goreng.
"Apa mereka menggunakan minyak goreng untuk mengepel, kenapa bisa semengkilap ini?" gumam lirih Adhisti membuat 2 orang body guard tersenyum.
Endaru tidak menggapai itu, tapi jika Adhisti mengulangi ucapan noraknya di pastikan mulutnya akan terjahit dengan rapi tanpa celah.
"Tuan, apakah saya harus masuk ke dalam lift bersama anda?" Adhisti berhati-hati saat melangkahkan kakinya.
"Iya!" singkat jawabnya.
Adhisti mengikuti saja selagi perbuatan Endaru tidak melanggar norma yang ada, tapi jika keterlaluan baru melawan dan memberontak sesuai kemampuan dirinya.
Ruang Endaru Septian.
Adhisti menatap seluruh penjuru ruangan ini yang tertata rapi dan mewah, apa semua orang kaya akan mendesain ruang pribadi saat berkerja seperti ini? Adhisti mengikuti langkah Endaru.
"STOP, kenapa kamu mengikuti saya?" Endaru membalikkan badan dan langsung menatap Adhisti.
'ABCDEFGHIJKL dasar tuan dan bos tolol, ini namanya mengerjai aku sudah menyuruhku ikut dengannya sampai di sini tapi di tanyai begitu! dasar bos kelakuannya padaku gak ada akhlak sama sekali.'
__ADS_1
"Hih ... menyebalkan, saya pulang tuan jika anda cuma mengerjai saya." Adhisti yang di buat kesal kini mulai berani lagi membangkang.
"Mau kemana?" tanyanya saat Adhisti hendak melangkahkan kakinya beranjak pergi.
"Pulang!" dengan sangat kesal ia menjawab.
"Kamu tidak bisa pulang jika bukan perintahku, duduk di situ dan nikmati ruangan ini." Perintahnya yang sangat menakutkan di pandang mata, banyak sekali sorot hantu yang berterbangan di raut wajah Endaru.
"Baiklah, terserah tuan mau menyuruh saya seperti apa saya menurut perintah bos besar yang menampung saya," Adhisti duduk ke sofa yang terlihat sangat empuk dan nyaman.
Tok
Tok
Tok
'Waw ... cantik.' Kagumnya pada Adhisti saat ia masuk ke dalam ruangan bosnya.
"Hey ... jaga mata kamu." Endaru tidak suka jika orangnya di pandang seperti itu oleh Ryan sahabat sekaligus Sekretarisnya.
"Ya elah bro ... bro ..., melirik doang gak mungkin juga lunturkan kecantikan dia?" tunjuknya pada Adhisti.
"Cih," Endaru merasa kesal sendiri ternyata sesuai dugaannya jika Adhisti menjelma seperti ini banyak mata keranjang yang siap menikmati pesonanya.
__ADS_1
Buktinya saat ia masuk ke kantor tadi banyak sepasang mata yang tidak berhenti menatap keanggunan Adhisti di tambah lagi Adhisti yang terlihat imut tapi bodo*.
"Kenapa dia bisa secantik ini, perasaan foto yang kamu kasih untuk me ...." Belum selesai bicara Endaru melempar sapu tangan tepat di wajah Ryan.
"Sorry ... sorry terlupa gue," malah di jabarkan oleh Ryan secara tidak langsung.
Adhisti tersenyum kecut, pasti bosnya ini sedang menyelidiki asal usulnya. Terserahlah mau menyelidiki lagian itu kenyataan yang suatu saat orang lain secara luas tau kebenaran ini, lebih baik cepat tau dan segera mengusir keluar raga dan tubuh ini dari dalam dunia hayalan semata.
"Tuan, jika anda ingin tau saya dan asal usul saya kenapa tidak bertanya langsung pada saya? kenapa anda menyuruh teman anda ini menyelidiki saya?" Adhisti langsung menebak pada inti pembicaraan ini.
Dua lelaki yang ada di depan Adhisti langsung terkejut bukan main, padahal tidak ada pembahasan di situ tapi kenapa dia bisa menebak dengan benar. Pertanyaan itu muncul di kepala mereka masing-masing dan saling menatap satu sama lain.
'Hem ... semakin menarik saja si mungil ini, kemarin mengejutkanku dengan lukisannya sekarang ia memberikan kejutan yang lain, sepertinya dia bukan wanita biasa-biasa saja. Bagus jika memang iya adanya.'
Endaru merasa beruntung ada orang seperti ini.
"Benar juga! jadi dari mana kamu dan kenapa kamu bisa kenal orang mata duitan itu?" Endaru penasaran kisah cinta Adhisti.
(Dari penasaran jadi cinta)
...BERSAMBUNG...
...Ayo dukungannya harap di tinggalkan....
__ADS_1
...Terimakasih....