Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
19. Memancing amarah


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


'Haduh ... pertanyaan menyebalkan kenapa di ungkit segala sih?' Adhisti sebal sekali jika masalah yang ingin ia lupakan malah di bahas lagi.


"Kesalahan fatal yang tidak pantas di ungkit!" jawab Adhisti sangat ketus pada Endaru.


"Sok tersakiti kamu, bukannya seharusnya kamu bahagia bisa dapat yang lebih baik." Mulai menonjolkan kelebihan dirinya lagi sambil mengibaskan jas kebesarannya selayaknya mau masuk ke dalam ruangan hall terbesar di dunia.


Ryan sebagai pendengar hanya menatap ke arah meja Endaru lalu bergantian ke sofa tempat duduk Adhisti.


'Haduh ... ini orang kenapa tingkat percaya dirinya selangit.' Adhisti membatin sekaligus tertekan dengan sikap yang di tonjolkan Endaru.


"Tapi memang kenyataannya saya tersakiti tuan, jika tidak mana mungkin saya berada di tempat ini," Adhisti tidak mau kalah dengan bos berkuasa seperti dia.


"Heh ... wanita yang merasa paling tertindas saja," Endaru berjalan mendekati tubuh Adhisti. "Ingat ya ... kamu itu wanita yang di jual kepada saya, jadi kamu harus merasa beruntung bertemu saya. Jika kamu bertemu orang lain apalagi orangnya semena-mena dan berbadan besar seperti tong aspal, bagaimana hem?" sambil mengangkat dagu Adhisti.


"Iya, saya ingat tuan tapi untung saja tuan tidak seperti yang barusan tuan bicarakan! tapi tuan yang angkuh dan kejam ini yang ada di depan saya bukan hanya semena-mena saja!" jawaban Adhisti langsung mendapatkan cengkraman kuat di kedua pundak Adhisti.

__ADS_1


Dengan cepat Endaru meraih tengkuk Adhisti dan mencium bibirnya dengan kasar sampai ada darah yang keluar, Adhisti merasakan sakit di bibirnya namun ia tahan sedikit.


Ryan menghela nafas panjang sambil menonton bioskop yang sebentar lagi live tanpa sensor.


"Ehem ... lihat kondisi dong kasihan yang punya mata sehat seperti gue." Sindiran keras untuk kedua insan yang hampir lupa dari jika di dalam ruangan ada yang ketiga yang artinya adalah setan.


"Setan," Endaru menatap tidak suka pada Ryan yang menggangu puncak kejayaannya bersama Adhisti.


Adhisti tertunduk malu, ia juga khilaf dengan perilaku Endaru barusan. Wajah bersemu merah terpancar jelas di mimik wajahnya yang imut dan menggemaskan itu.


Ryan menebah dadanya berulang kali saat Endaru menyebutnya setan.


"Mana buktinya jika gue setan?" Endaru tentu saja tidak terima.


"Cih ... sok polos dan gak tau apa-apa, jika bukan setan terus perbuatan yang Lo buat ke perusahaan orang gila yang menjual kekasihnya itu apa!" Ryan mengangkat kedua bahunya.


"Hal kecil kenapa tidak, lagian sudah mau roboh di congkel sedikit saja pasti rata dengan tanah." Endaru duduk sambil menyilangkan kakinya.

__ADS_1


Adhisti yang mendengar pembicaraan orang-orang penting hanya diam di pojokan sofa dan berharap selamat kehidupannya mendatang.


"Eh ... wanita mungil, sambung cerita kehidupan masa lalu kamu sekarang." Endaru kembali mengajak berbicara ke topik pembicaraan.


"Jika saya cerita, bisakah anda membebaskan saya dan tidak mengajak saya menikah secara resmi?" berbicara dengan nada hawatir.


"Tergantung!" Endaru menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sedangkan kepalanya bersandar di kursi kerjanya sambil menatap langit-langit kamarnya. "Tapi, sepertinya tidak jika saya tidak setuju. Ingat kamu sudah saya beli meski belum saya bayar!"


"Ya ... maka dari itu tuan, kan tuan tidak membeli jadi bolehkan saya lepas dari belenggu anda?" pertanyaan Adhisti langsung disorot tajam oleh Endaru.


"Ryan, pesankan hotel sekarang yang paling bagus." Endaru mencekal pergelangan tangan Adhisti dengan kasar.


Adhisti yang mendapat perlakuan kejam Endaru hanya meringis menahan sakit di tangannya, kaki kecil Adhisti berusaha mengimbangi langkah lebar Endaru.


'Tamat riwayat kamu Adhi, kenapa memancing di air keruh dan dapat ular piton.'


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...Ayo like, rate dan bintang 5 nya di kasih. Terimakasih, love love untuk semua...


__ADS_2