Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
86. Menikah


__ADS_3

2 Minggu kemudian.


"Astaga ... kamu cantik sekali Adhi." Puji Mega yang terkagum dengan wajah Adhisti yang cantiknya bukan main, tanpa riasan saja sudah cantik di tambah lagi sekarang pakai riasan dan juga kebaya.


Ya pernikahan ini menggunakan konsep Adat Jawa begitu juga semua tamu harus mengenakan pakaian Adat Jawa jika tidak tidak boleh masuk meski punya undangan, terkesan menekan tamu undangan tapi apa boleh buat biar seragam dan kompak.


"Gila ... benar-benar gila gue, sudah gue gak ngerti nih sama jalan pikiran Endaru. Masa iya di suruh pakai seperti ini semua tamu, gila apa. Atau jangan-jangan tuh anak mau viral kayak yang di tikt*k waktu itu, gak tau ah pusing kepala ini." Sambil menggoyangkan badannya melingkar.


Meski demi kian para tamu undangan banyak yang datang bahkan melebihi target yang datang, untung saja persiapan sudah matang selama 2 Minggu meski semua orang di buat kelimpungan sebab serba dadakan semua, pasti orang-orang mengira calon istrinya hamil duluan makannya semua dadakan, hanya mereka yang tidak tau jika Endaru masih di segel miliknya jadi aman terkendali kecebongnya.


"Kak Mega, yakin nih aku cantik. Perasaan ketebalan deh make up nya." Menatap cermin dengan malas.


"Kamu cantik seperti ini Adhi, percaya deh sama MUA artis yang satu ini, ini MUA langganan para artis yang ada di tv ... tv itu loh Adhi," Mega memang berbicara benar adanya bahkan tangannya juga di hias oleh perias hena yang cantiknya bak Barbie yang sudah terkenal dimana-mana itu.


Adhisti memanyunkan bibirnya.


"Iya Kak Mega." Pasrah sudah.


Jam 08.30 WIB.

__ADS_1


Adhisti tersenyum saat menuju ke pelaminan dan ia di antar salah satu orang yang mewakilkan untuk mengantar Adhisti sampai di tempat pelaminan.


Acara ijab Qabul berjalan dengan hikmat tanpa ada hambatan sedikit pun bahkan Endaru juga lancar sekali pengucapan langsung SAH. Mahar yang di berikan pada Adhisti tidak sebanyak sebelumnya namun Endaru yakin meski maharnya kecil tidak akan membuat hubungannya juga kecil atau pernikahan pendek.


Para tamu undangan mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin yang langsung mengadakan resepsi hari ini juga, sebelum mereka menikmati hidangan yang sudah tersedia di sebelah ruangan resepsi. Sebenarnya Adhisti ingin mengeluh saat ini juga, kenapa tamunya banyak sekali kapan kaki dan tangannya beristirahat sama senyum di bibirnya, rasanya kram semua badannya.


"Capek?" saat sudah selesai acaranya.


"Iya, kakiku jadi kaki gajah Aru. Lihat!" jawabnya mulai panik sendiri saat kakinya bengkak dan berwarna merah.


"Ya ampun, sini aku lihat kamu duduk dulu di tepi ranjang. Aku kompres ya," dengan buru-buru Endaru menyiapkan air hangat untuk mengompres kakinya, untung ini di rumah jika masih di hotel pasti lama sebab harus menunggu pelayan datang.


'Haduh ... gagal malam pertama nih, sudah capek eh ... malah kaki Adhisti bengkak seperti ini. Pasti sakit banget nih jika aku paksain minta hak malam ini, sudahlah lagian sudah pernah malam pertama juga ko, seret pula.' Tersenyum-senyum sendiri mengingat beberapa bulan yang lalu saat ia pertama kali melakukannya.


Adhisti sebenarnya tidak enak harus seperti ini tapi mau bagaimana lagi, badannya rasanya mau rontok di tambah lagi kakinya bengkak dan sakit.


"Kenapa senyum-senyum Aru?" Adhisti di buat bingung dengan ekspresi wajah Endaru.


"Aku membayangkan pertama kali saat kita bercinta Adhi!" Endaru menggenggam tangan Adhisti dan merebahkan kepala Adhisti dan menidurkannya di atas paha yang sudah ia berikan bantal lebih dulu.

__ADS_1


Adhisti membenarkan posisinya dan menatap ke atas wajah Endaru.


"Memangnya kenapa?"


"Ish ... itu malam yang terindah sekaligus malam pertama untukku!" malu bukan main saat mencoba menjelaskannya.


Adhisti menyipitkan kedua matanya gak percaya jika itu pertama untuknya.


"Benarkah?" Adhisti tidak percaya.


"Benar sayang, itu malam pertama bagiku. Saat melakukannya waktu itu aku ada rasa takut Adhi dan terus ... terang saja aku gemeteran saat itu!" jawabnya memang Adhisti saat itu merasakan jika ada rasa ketakutan dalam diri Endaru.


"Pantesan gerogi kamunya waktu itu, ternyata baru pertama kali juga ya. Untung gak salah masuk."


"Iya ... ya ..., kalau salah masuk sepertinya kamu akan teriak lebih kencang deh. Aa ... ha ... ha," Endaru tertawa renyah sekali.


"Aru ...." Memukul wajah Endaru dengan guling.


***

__ADS_1


Sampai part ini pasti sdh banyak yang bosan, maaf ya jika tulisannya kurang menarik. Emak masih belajar dan belum pandai merangkai kata yang ngena ke hati dan terimakasih banyak sudah membaca dan memberikan dukungannya.


__ADS_2