
...SELAMAT MEMBACA...
Endaru yang sudah kembali merasa ada yang aneh di rumahnya, sejak kapan tempat ini ramai perasaan ia tidak mengadakan acara apa pun malam ini.
"Happy birthday, Dekil." Seorang wanita berambut putih dan di gelung ke atas nampak cantik meski usianya sudah menginjak 70 tahun lebih, siapa lagi jika bukan Oma Endaru.
"Oma," dengan terkaca-kaca ia terharu dengan kejutan ini, kejutan yang selalu ia tunggu setiap tahunnya dan berharap sang Oma tetap sehat dan panjang umur.
"Dasar cucu dekil yang semakin bertambah umur bukannya mencari pasangan hidup malah bersenang-senang saja, ini tiup lilinnya tapi sebelum itu berdoa dulu." Menyodorkan kue ulang tahun ukuran sedang.
Endaru yang masih berkaca-kaca langsung memanjatkan doa, selain mendoakan kedua orang tua dan Omanya ia juga berdoa supaya berjodoh dengan sang pujaan Adhisti.
Usai berdoa Endaru memotong kue dan menyuapkan pada Omanya dengan penuh suka cita, memang hanya Oma Melati yang selalu memberinya kejutan semenjak ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Sedangkan Papanya satu kali saja tidak pernah ikut serta merayakan hari jadinya, Endaru sudah tau pasti alasannya ini dan itu semenjak SD kelas 3 ia tidak minta atau merengek lagi seperti sebelum-sebelumnya bahkan sampai sekarang pun.
"Dekil, kapan membawakan Oma cucu menantu?" Melati mengusap pipi Endaru yang terlihat kenyal dan juga tambah berisi.
"Oma maunya kapan?" malah balik menanyai Omanya, seharusnya jawabannya bukan ini.
Ini ada yang salah dengan kosa katanya seperti ada sesuatu yang berbeda sepertinya. Bukan penolakan ataupun mengelak melainkan rambu-rambu hijau yang artinya jalan terus dengan penuh cinta dan harapan.
__ADS_1
"Kamu sudah punya calonnya, Dekil? siapa-siapa ... Oma ingin berkenalan dengannya!" perubahan sikap Oma berubah drastis dan menjadi lebih bersemangat dari orang-orang yang sedang mengikuti ajang perlombaan tingkat Nasional.
"Eh Oma, em ... itu ... sedikit sulit di jelaskan sih Oma." Sambil menggaruk rambut belakangnya yang kebetulan tidak gatal.
"Gak papa ... gak papa ..., tidak usah di jelaskan tidak apa-apa Dekil, yang penting bawa kesini dia. Oma ingin lihat apakah dia lebih cantik dari Oma," Melati sungguh tidak sabaran.
"Oma ...." Endaru tersipu malu.
Melati tersenyum lebar melihat cucunya itu salah tingkah, seperti nya wanita ini bisa meluluhkan hati keras cucunya.
•
•
Melati ingin sekali bertemu dengan calon cucu menantunya itu, rasanya sudah tidak sabaran ingin melihatnya dari dekat.
Endaru yang berada di kamar tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila, tapi ini benar-benar gila hari dimana ia dan Adhisti jadian, bukan jadian lagi tapi ke jenjang yang lebih serius lagi.
"Hari yang begitu luar biasa, bisa bersama dengan Adhi di tambah lagi ternyata hari ini hari ulang tahunku yang genap berumur tiga puluh tahun, stw ternyata sudah tua a ... ha ... ha ...." Terpingkal-pingkal sendiri.
__ADS_1
💬 Adhi, apa sudah tidur?
5 menit kemudian Adhisti baru menjawabnya sebab ia terlena dengan permainan yang ada di ponsel barunya.
💬 Belum nih, lagi asik main game!
Adhisti kembali fokus bermain buah-buahan. Permainan yang sedang asik ia mainkan terganggu sebab Endaru menelponnya pakai acara vidio call mau tidak mau Adhisti mengangkatnya.
"Iya Aru ada apa?" menatap malas Endaru, malas sebab bermainnya terganggu.
"Ko begitu sih ekspresinya Adhi, gak suka nih aku telpon. Oh ya Oma ingin ketemu sama kamu Adhi, besok aku jemput pagi ya sebab Oma mengajak sarapan pagi bersama!" sambil tersenyum-senyum.
"Iya." Adhisti bimbang apakah Omanya Endaru seperti yang ada di drama-drama, harta dan tahta jelek gak papa asal banyak duitnya yang penting apa harta dan tahta.
"Kenapa cemas? jangan takut Oma bukan singa betina ko," meyakinkan Adhisti dengan penuh harapan dan keyakinan.
...BERSAMBUNG...
Di jeda dulu ya pertemuannya, nanti lanjut di part berikutnya. Teman-teman pembaca setia Istri Yang Disimpan.
__ADS_1