Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
100. End


__ADS_3

Adhisti dan Endaru berjalan beriringan masuk ke dalam lift yang tertuju pada ruang tempat menerima tamu. Suara pintu lift terbuka terdengar nyaring, bahkan Adinda dan Gerry langsung melihat ke sumber suara yang terdengar itu tanpa berkedip, sepasang suami istri ini ingin melihat Adhisti seperti apa jika pagi-pagi begini, apakah sudah rapi atau belum.


Tring


Adhisti dan Endaru saling berpegangan tangan meski kemarin ada sedikit insiden yang membuat mereka sedikit retak, tapi untuk pagi ini sudah tidak lagi usai semalam tidur saling memunggungi tapi ternyata mereka tidak sanggup jika saling mendiami pada akhirnya mereka berdamai dan saling terbuka satu sama lain. Jadi, pada intinya hubungan suami istri akan membaik jika saling jujur dan terbuka tidak ada sesuatu hal yang disembunyikan. Dan satu lagi kuncinya, harus menuntaskan hasrat yang terpendam pada pasangan(bagi yang sudah menikah).


Sejenak pandangan berhenti di tempat dan waktu tidak bergerak, Endaru tidak asing dengan dua pasangan suami istri ini seperti pernah melihat tapi dimana ya?


Dirinya teringat jika pernah bertemu di rumah sakit saat Mega melahirkan waktu itu, kenapa dua orang ini bisa datang kemari ada hajat spa kiranya kesini.


"Ada apa tuan dan nyonya kemari?" Endaru to the points pada intinya.


Gerry tersenyum.


"Kami ingin bersilaturahmi dengan kalian!" Gerry membawakan sesuatu, tidak mewah tapi cukup mengenyangkan perut. Roti lembut dengan merek Kecot(keju coklat) yang cukup di gemari masyarakat baik dari kalangan atas sampai bawah sebab harganya yang murah dan untuk ukuran sebesar ini harga tidak sampai 100k.


"Oh, dari mana anda tau jika saya dan istri saya tinggal di tempat ini?" sikap dingin Endaru membuat kedua tamu itu mati kata-kata.


Bahkan Gerry yang biasa membujuk istrinya minum obat dengan rayuan maut saja kini bibirnya terasa keluh dan lengket untuk berbicara dan harus berkata apa.


"Maaf sebelumnya, tuan Endaru. Bukan bermaksud menyinggung perasaan anda, tapi istri saya tengah mencari istri anda dan ingin berbicara lagi, tapi dia ingin berbicara berdua dengan Adhisti istri anda tuan Endaru!" dengan keberanian penuh Gerry berbicara meski yah ada rasa hawatir di usir dadakan sebab lancang bertamu sepagi ini.

__ADS_1


Endaru menatap Gerry dengan penuh curiga sebelum ia melepas istrinya.


Tak


Tak


Tak


Suara sepatu dan tongkat berjalan beriringan, semua menatap sumber suara, Malik terkejut dengan apa yang ia lihat begitu juga Melati. Meski sudah bertahun-tahun tidak bertemu namun wajah ini tidak akan pernah di lupa, kenapa mereka ada di sini jangan bilang jika tebakan selama satu tahun terakhir ini menjadi nyata adanya, jika Adhisti ada hubungannya dengan Adinda atau jangan-jangan mereka bersekongkol untuk menghancurkan keluarga Septian atau punya niatan lain yang tersembunyi.


"Kalian." Malik mendadak marah dan ingin menghajar laki-laki sialan yang sudah menculik calon istrinya dulu, tapi badannya di tongkat Melati.


"Lebih baik di selesaikan secara baik-baik dan kepala dingin, apa kamu tidak melihat dia hanya wanita lemah yang berada di kursi roda," Melati bicara apa adanya.


Melati dan Malik berjalan menuju sofa yang tidak jauh dari semua orang. Endaru sebenarnya bingung ada apa, sebab selama ini ia tidak tau cerita masa lalu yang ia tau mama Lidia ibu kandungnya menderita sebab ulah papanya yang bernama Malik itu.


"Ada apa kesini kalian?" tanya Melati menatap pasangan suami istri yang saling menggenggam tangan.


"Kedatangan kami, hanya memastikan jika Adhisti adalah putri kami yang hilang sejak lahir yang di culik oleh kedua orang tua angkat Adhisti!" Gerry sudah menyelidiki semua bukti-bukti pada tahun itu termasuk juru parkir rumah sakit lama tempat Adinda melahirkan, yang sudah ia cari melalui orang suruhannya.


"Jadi, kalian ingin melalukan tes DNA begitu?" Malik mendadak bertanya tentang ini, sebenarnya ia juga penasaran dengan Adhisti yang begitu mirip dengan Adinda wanita masa lalunya.

__ADS_1


Adhisti dan Endaru terkejut sampai tidak dapat bicara apa-apa yang jelas shock berat dan harus berbuat apa kedepannya, sekarang pikirannya kacau.


Satu persatu rahasia terungkap saat Malik, Melati, dan juga Gerry menceritakan kisah masa lalu itu. Jadi Lidia adalah sahabat karib Adinda dan dengan tega menyuruh Lidia untuk menggantikan pernikahan yang sampai pada akhirnya cinta Lidia bertepuk sebelah tangan sampai kecelakaan naas itu terjadi.


Tangan Endaru mengepal, untung saja wanita ketiga itu bukan Adinda jika iya pasti kedepannya jika Adhisti ada hubungan darah akan ada pembalasan dendam yang teramat pedih.


Beberapa hari kemudian.


Hasil sudah keluar dan ternyata benar Adhisti anak biologis dari Adinda dan juga Gerry, kabar ini merupakan kabar gembira namun sekaligus kabar duka. Bagaimana tidak pernikahan Adhisti dan Endaru sedikit goyah.


"Jadi kamu putri kandungnya?" menatap netra Adhisti.


"Aku juga tidak tau Aru, jika aku benar-benar putri mereka. Apa kamu akan meninggalkan aku lagi dan menyuruh aku pergi dari hidupmu lagi, Aru!" badan Adhisti mulai bergetar ia takut dan hendak menangis jika ini benar-benar terjadi.


Semua orang waspada, di tambah lagi pernikahan mereka belum genap satu tahun.


"Tidak, aku tidak akan meninggalkan kamu dan tidak akan menyuruh kamu pergi lagi dari hidupku. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku ini sayang." Meraih kedua pipi Adhisti dan melupakan keadaaan sekitar yang ramai.


Dua insan ini tidak tau malu saling berciuman padahal ini tempat umum. Semua orang bahagia dan gembira dengan kisah ini, pada akhirnya saling memaafkan dan menerima lebih indah dari pada permasalahan yang di perpanjang sampai nanti-nanti yang berujung pada penyesalan terdalam.


END

__ADS_1


Terimakasih sudah berkenan mampir dan membaca sampai cerita ini selesai.


__ADS_2