
...SELAMAT MEMBACA...
"Dokter, apa tidak bisa periksa nya lebih cepat lagi." Nada protesnya terjadi lagi dan lagi, sudah 4 kali Endaru menanyakan hal yang sama.
"Saya sedang berkerja, saya harap anda tenang di luar ruangan ini dan jangan menggangu pasien-pasien yang ada di Rumah Sakit ini," Reno memperingatkan Endaru untuk tetap tenang, tapi juga sedikit mengerjai Endaru yang membuat dirinya kesal setiap bertemu.
Namanya juga periksa keseluruhan pasti di lihat satu persatu, Reno sedikit kesal pada Endaru makanya ia sengaja mengerjai Endaru padahal bagian pribadi ini yang mengecek adalah bagian Dokter perempuan, sedangkan Reno hanya mengecek denyut nadi dan periksa anggota wajah saja.
"Apa sih yang di lakukan Dokter sok kecakepan itu? masa periksa pasien perempuan saja lama sekali, pasti gara-gara pasiennya Adhi makanya periksanya di lama-lamain biar puas berduaan dengan Adhi." Su'udzon di dahului padahal dalam kenyataan tidak sama seperti yang terjadi.
15 menit kemudian.
Semua hasil sudah keluar tidak ada masalah dari tubuh Adhisti bahkan kondisi darah dan juga organ dalam Adhisti sehat. Tapi meski begitu harus tetap menjaga kesehatan agar hal-hal yang tidak di inginkan tidak terjadi di masa yang akan datang.
"Diapain kamu tadi di dalam, lama banget periksanya?" ketus Endaru menatap kesal wajah Adhisti, padahal dirinya yang membawa ke tempat ini untuk periksa.
__ADS_1
Tapi justru dia yang berpikiran sempit, Adhisti langsung memukul lengan Endaru dengan keras. Ia begitu sebal dengannya.
"Aduh-aduh sakit Adhi, kamu mau melakukan kdrt apa pada suamimu ini." Endaru mengungkap identitas di tempat ini padahal ini masih wilayah Rumah Sakit bukan di dalam mobil atau di rumah.
"Iya kenapa, salahkan diri sendiri kenapa membawaku periksa tubuh aku keseluruhan. Setelah di periksa di tanyai ini itu, apa tidak bisa jika tidak bertanya. Lagi pula aku di dalam di periksa Dokter Sila yang cantiknya bak bidadari dari langit, bukan Dokter Reno yang tampannya setara dengan Para Nabi," dengan tersenyum-senyum bangga padahal Endaru sudah siap-siap menerkam mangsanya yang selalu mengagumi orang lain.
Adhisti bercanda lagian sepertinya permainan tarik ulur dengan Endaru ada efeknya sedikit demi sedikit cuma butuh ketelatenan dan perhatian serta kecuekkan yang membuatnya selalu rindu dimana pun dan kapanpun itu, entah rindu atau tidak yang penting berusaha dulu saja dan yakin pada diri sendiri.
"Puji orang lain aku habisi kamu dengan ini." Hendak mencium bibir Adhisti namun di tutupi oleh telapak tangan Adhisti.
"Ingat ini rumah sakit bukan rumah kamu," mengingatkan sang suami.
Dag
Dig
__ADS_1
Dug
Adhisti wajahnya tersipu malu, benarkah ini nyata atau hanya gurauan saja?
Endaru langsung tertawa.
"Aa ... ha ... ha ..., aku bercanda Adhi jangan anggap serius. Ayo pulang." Masih dengan suara tawanya yang nyaring namun dengan cepat berubah ekspresi menjadi dingin dan kejam lagi seperti sedia kala.
"Hem ... aku kira serius tadi." Gumam lirih di belakang Endaru.
Endaru yang mendengar samar-samar ucapan Adhisti hanya bisa tersenyum sambil berjalan lebih cepat sedikit dari Adhisti. Adhisti mengekori dari belakang dengan cepat sambil membawa beberapa berkas hasil uji lab nya tadi.
Ryan sebagai sopir hanya diam-diam menatap wajah Adhisti yang begitu sangat menawan, bahkan ia hampir lupa jika ia sudah memiliki istri bahkan sebentar lagi memiliki seorang anak yang akan lahir. Memang Ryan aku Adhisti sangatlah cantik dari pada istrinya, benar kata orang rumput tetangga selalu nampak hijau sebab di rawat dan di perhatikan kesuburannya seperti Adhisti yang cocok berpasangan dengan Endaru.
"Ehem, Endaru mau pergi kemana lagi sekarang?" Ryan fokus mengemudi.
__ADS_1
"Pulang saja, dari pada nanti gue kecebur sungai lagi jika dia meminta berhenti lagi!" benar-benar trauma ternyata.
...BERSAMBUNG...