Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
36. Suami melindungi istrinya


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Endaru membalas perbuatan Adhisti yang memukul badannya dengan menggelitik perut dan tempat yang lain yang paling sensitif dengan sentuhan tangannya.


"Aduh ...." Kaki Adhisti terkena kaki meja.


'Nyut nyutan ini, belum juga sembuh sudah ke jedot lagi.'


"Eh, mana yang sakit Adhi?" sambil memeriksa luka memar di lututnya.


"Ini, bagian yang memar!" jawabnya menahan sakit.


Endaru dengan telaten meniup-niup luka Adhisti.


"Nita, ambilkan kompres dan krim yang tadi." Perintahnya langsung di anggukki Nita.


"Siap, Pak bos," Nita segera pergi melaksanakan tugasnya.


Endaru membantu Adhisti mengompres kakinya lalu memberinya krim dari Dokter tadi, dengan telaten Endaru mengolesi obat pada kakinya.


"Apa masih sakit?" Endaru menatap Adhisti yang ternyata dari tadi Adhisti melamun.

__ADS_1


Endaru melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Adhisti.


"Adhi ... hey sadar." Seketika Adhisti gelagapan sendiri.


"Iya, Aru. Ada apa?" baru kembali ke dunia nyata.


"Dari tadi ngelamunin apa? sampai-sampai aku tanyai enggak jawab."


"Tidak ada Aru, cuman ... jika nanti loh ya nanti bukan sekarang. Kalau kamu mau melepaskan aku kamu harus bilang baik-baik ya ke aku, jangan main selingkuh atau berpacaran diam-diam sementara itu aku masih menjadi istri yang masih sah di Agama saja Aru," Adhisti menahan air mata yang hendak tumpah ke pipinya.



"Aduh sakit Aru." Bohongnya merintih kesakitan pada kakinya dan sampai meneteskan air mata, namun pada kenyataannya hati dan pikirannya yang sakit.


'Lebih baik seperti ini, semoga Aru mendapatkan jodoh yang sesuai dengan dirinya dan kemauan keluarganya, meski aku belum di kenalkan. Ya maklum saja jika aku tidak di kenalkan, aku siapa dan baginya aku apa. Hanya istri yang di simpan, jika sudah membosankan sampai berjamur barulah aku di buang ke tempat sampah.' Batinnya terasa terkolek-kolek.


Dret


Dret


Dret

__ADS_1


Endaru menatap ponselnya.


"Hallo. Ada apa telpon?" Endaru cuek sekali.


"Apa kamu tidak ingin pulang ke rumah Papa dan mengenalkan istrimu pada Papa, Endaru!"


"Kalau aku pulang, apa nanti kamu menghancurkan aku. Papa Malik?" Endaru benar-benar melayani orang ini meski ia ada hubungan darah dengan dirinya.


Adhisti menatap ke arah ponsel Endaru, Malik nama Papanya. Sepertinya ia pernah tau dan mendengar nama itu sewaktu orang tuanya masih ada dan dia masih duduk di bangku SMA. Tapi mungkin itu orang lain bukan orang yang sama, yang pernah ia lihat beberapa kali mengunjungi rumahnya.


"Ayolah Aru, Papa ingin tau seperti apa menantu Papa dan berpendidikan sampai apa!" jawaban Malik langsung di putar balikkan.


"Maaf tuan Malik Septian yang terhormat, jaga ucapan anda tuan selagi saya masih menghormati anda. Apa anda lupa masa lalu anda hanya seorang wanita murahan yang tidak punya pendidikan bahkan tidak lulus SD." Sindiran Endaru memang apa adanya.


Padahal almarhum ibunya (Lidia) Endaru seorang Sarjana Hukum dan ia biasa jadi pengacara dan banyak yang menggunakan jasanya untuk menyelesaikan perkara yang rumit sekalipun. Bahkan orang biasa saja yang seprofesi dengannya tidak bisa menandingi kecerdasan dan detail pokok masalah kliennya.


"Maafkan Papa, Endaru. Papa mohon untuk menebus semua, Papa akan menerima pilihan kamu Endaru. Jadi Papa mohon kamu datang dan ajak sekali istrimu. Endaru," betapa sedihnya Malik mendengar penolakan putranya terus menerus sampai sekarang.


"Hem." Endaru mematikan saluran ponselnya tiba-tiba, ia tidak mau lantaran kasihan dengan sandiwara Malik Papanya dan berakibat ia kehilangan wanita yang mulai mengisi hari-harinya yang kosong semenjak Mamanya meninggal.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


Harap maklum ya jika Emak gak bisa kayak author yang lain yg up nya super ngebut sebab kesehatan emak menurun ya.


__ADS_2