Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
84. Kesedihan dan ketakutan Endaru


__ADS_3

Adhisti menatap kursi yang menghadap ke luar jendela besar, pasti Endaru berada di kursi itu. Secara perlahan Adhisti berjalan namun ia juga waspada takut tiba-tiba Endaru membalikkan kursinya.


Kedua alis Adhisti mengerut saat melihat Endaru yang ternyata tidur nyenyak sambil memegang bingkai foto dalam pelukannya, bingkai foto siapa yang ia peluk itu.


"Aru." Adhisti waspada saat membangunkan Endaru.


"Hem ... ada apa sayang," menatap kekasihnya tapi matanya masih sayup-sayup melihat Adhisti setengah tidak sadar lalu ia meletakkan bingkai foto yang ternyata foto almarhum Mamanya bersama dengan dirinya, saat Mamanya tengah mengandung dan Endaru sudah memakai seragam SMP.


Adhisti jongkok dan menatap Endaru, ia mengusap bekas air matanya.


"Jangan menangis lagi Aru, aku sedih melihat kamu seperti ini. Mengapa aku merasa Aru yang dulu sudah hilang? dimana Aru yang tegas dan suka memerintah aku dan melarang ku melakukan ini dan itu." Menatap dalam-dalam wajah Endaru.


"Apa aku tidak boleh menangis, aku punya mata dan juga air mata loh Adhi dan harus aku keluarkan supaya mata aku juga sehat," sambil ngelawak.


Bug


Pukulan mendarat di lengan Endaru.


"Dasar ya kamu ini, sedih-sedih masih saja bisa bersenda gurau. Yakin nih, gak sedih. Kalau gak sedih aku pulang ya, ga jadi menghibur orang sedih." Hendak membalikkan badannya namun dengan cepat pinggang Adhisti di raih Endaru dan langsung memeluknya, Endaru menenggelamkan wajahnya di perut Adhisti.


"Jangan pergi Adhi ... jangan pergi," sambil mengusapkan wajahnya di perut Adhisti.

__ADS_1


"Jangan gini Aru, basah bajuku." Masih sempat-sempatnya memikirkan baju yang basah gara-gara air mata lagi.


"Biarin, lagian mumpung kamu ada di pelukan ku," Endaru diam dan menenangkan hati serta pikirannya.


Ternyata di dalam pelukan orang yang di cintai itu sangat nyaman dan terasa aman seperti di lindungi dan di perdulikan secara langsung.


"Jangan pernah tinggalkan aku Adhi, jangan pernah." Ia tidak mau melepas dekapannya.


Adhisti bertanya-tanya kenapa sih Endaru seperti ini, siapa juga yang mau meninggalkannya gak ada ko. Kenapa ia sampai ketakutan seperti ini, kenapa. Apakah trauma masa lalu itu yang membuat Endaru takut sampai sekarang, takut kehilangan Mamanya orang yang paling ia cintai.


Adhisti mengusap surai rambut Endaru.


Adhisti merasa tidak nyaman di peluk secara posesif seperti ini, sebab badannya merasa terjepit dan tidak ada kebebasan untuk dirinya.


Endaru yang sadar langsung menarik tubuh Adhisti dan membuatnya jatuh di atasnya dan secara otomatis ia duduk di atas pangkuannya.


"Jangan pergi oke, janji jangan pernah tinggalin aku." Wajah imut dan menggemaskan.


"Janji Aru, tapi lepaskan dulu pelukanmu," memberontak namun sia-sia saja jika Endaru memeluknya dengan erat.


"Jika aku lepas pelukan kamu, kamu tidak akan pergi meninggalkan aku kan?" Endaru bersikap aneh lagi dan lagi, wajahnya sangat sendu.

__ADS_1


Padahal Adhisti juga tidak kemana-mana kenapa ia ketakutan sekali seolah-olah Adhisti akan pergi meninggalkan dirinya dan memilih yang lain yang ia suka, apa dia tidak sadar selama ini jika dirinya dan Adhisti sudah terikat batin satu sama lain dan sepertinya tidak akan terpisahkan.


'Kenapa Aru berbicara seperti ini, apa dia juga menganggap aku akan sama seperti mereka-mereka yang meninggalkan dirinya begitu saja, aku bukan mereka. Lebih baik aku hibur saja dia dari pada runyam kemana-mana.'


Adhisti tersenyum.


"Tidak akan Aru, aku tidak akan meninggalkan kamu. Tapi ...." Menatap Endaru.


"Tapi apa?" masih gak mau melepas pelukannya.


"Lepas pelukannya dulu, aku gerah!" sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah.


"Baiklah aku lepaskan, tapi ... kamu temani aku kerja ya hari ini." Permintaan yang gak dapat di ganggu gugat.


"Iya ... iya ... bawel ku yang manja," mencubit gemas pipi Endaru.


Adhisti membawa kue coklat lumer entah Endaru mau atau tidak yang jelas dirinya sendirilah yang sebenarnya ingin makan-makanan manis tersebut.


"Apa kamu mau ini Aru?" menunjukkan coklat yang sudah ia buka kotaknya.


Endaru menatap makanan itu, coklat memang baik menggembalakan mood yang hilang. Endaru mengangguk dan menerima pemberian Adhisti dan langsung memakannya tanpa menawari Adhisti yang ngiler di depan meja kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2