Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
80. Bertemu mantan menyebalkan


__ADS_3

Ryan kembali fokus menyetir usai melempar balik sepatu dan kaos kaki Endaru yang baunya entah sudah berapa bulan tidak tersentuh air, atau semenjak ia kehilangan Adhisti beberapa minggu ini.


"Sialan gue punya bos modelan Lo, makan hati iya, gajian di usret juga iya, di tambah lagi perilaku Lo seperti anak SD tau." Omel Ryan yang mendapat sambutan tawa dari Adhisti.


"Aa ... ha ... ha ..., aduh Kak Ryan stop ngelawaknya kak perut aku sampai sakit tau," memegang perutnya yang terasa kaku sekali.


"Biarin, gue suka Lo menderita Ryan." Endaru tidak bisa melepas senyumnya di bibir, benar-benar ya jika sudah saling bercanda lupa waktu dan tempat.


Endaru dan Ryan langsung menuju kantor sedangkan Adhisti tadi ia minta di berhentikan di salah satu super market katanya ada yang perlu ia beli selain kebutuhan si meong. Karena mendadak memiliki hewan peliharaan membuat Adhisti panik sendiri di dalam super market, makanan apa yang harus di beli di tambah lagi minumnya apa harus susu khusus kucing belum lagi tempat tidurnya si meong. Kepala Adhisti rasanya mau terbelah-belah menjadi empat potong.


"Hey Adhisti, ketemu lagi." Sapa seorang laki-laki yang kedatangannya malah menambah beban di kepalanya.


"Apaan lagi sih kamu datang?" sorot mata ketidak sukaannya pada orang tersebut.


"Gak kenapa-kenapa, apa yang kamu beli? bolehkah kita mengobrol sebentar di situ?" tidak tau malu malah mengajak Adhisti untuk mengobrol seenak udelnya sendiri.

__ADS_1


Adhisti menatap dia dari ujung kaki sampai kepala, apa masih orang yang sama ternyata benar orang yang sama orang tidak tau malu, sampah plus bajing4n yang masih saja merajalela di kota besar nan moderen ini.


Dengan terpaksa Adhisti duduk sebentar.


"Ada apa? kayaknya aku gak ada urusan lagi deh dengan pria seperti kamu." Sambil menyilangkan tangannya di dada sedangkan si kucing ia letakkan di sebelahnya dan tetap di dalam tas kucing.


Andy tersenyum.


"Ya memang sudah tidak ada urusan lagi dengan kamu, tapi apa tidak boleh sebagai mantan datang untuk meminta maaf dengan tulus," Andy menatap Adhisti dengan harapan yang besar.


"Stop ... stop ... stop .... Coba kamu ulangi lagi perkataan yang konyol itu, apa tadi mau meminta maaf? setelah kejadian panjang kali lebar kamu baru minta maaf, gak sopan kamu Andy gila ya kamu itu. Sudahlah bicara dengan orang seperti kamu harus menahan emosi sampai ke ubun-ubun, lebih baik aku lanjut belanja dari pada mendengar bualan mu." Sambil tangannya menyuruh dia diam.


Adhisti memang berubah dari asalnya, dulu dia tidak akan berani dan mampu berbicara sekasar ini pada orang lain, tapi kini ia berbeda dan menjadi wanita pemberani dan semakin menarik kata orang.


"Tapi ..., ya sudah. Lebih baik pergi juga yang penting sudah minta maaf, terserah mau memaafkan atau enggak gue gak peduli lagi. Yang terpenting gue sudah gak ada salah sama tuh orang." Andy bersikap biasa-biasa saja seperti tanpa dosa, padahal ia kesana kemari mencari skandal supaya ia tenar sana sini.

__ADS_1


Dret


Dret


Dret


Ponsel Adhisti berdering nyaring di tas, ia langsung membuka tas dan melihat siapa yang telpon tumben-tumbenan ada telpon masuk. Ia menatap heran dengan tulisan yang ada cuma angka dan dari nomor Indonesia, siapa ini coba ia tidak angkat panggilan itu apa nanti ia menelpon lagi dan lagi.


Ternyata benar setelah panggilan itu tidak terjawab ia telpon lagi di nomor Adhisti.


Cklik.


📞 "Iya, Hallo siapa ini? salah sambung." (Ucap cuek Adhisti)


📞 "Dasar lupa daratan kalau sudah masuk mall, segera pulang jangan main-main di luaran sana. Ini nomer baru aku dan pribadi kamu simpan jangan sampai ada yang tau nomor baruku," (Endaru geram sekali, kenapa Adhisti bersikap acuh tak acuh)

__ADS_1


📞 "Gak ada yang di omongin lagi kan, aku tutup lagi sibuk." (Adhisti menutup telponnya sepihak, ia malas jika belanja seperti ini harus melayani telpon yang akan menggangu konsentrasinya belanja.)


__ADS_2