Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
96. Adhisti bertemu dengan Adinda


__ADS_3

Endaru pasrah pada Omanya, tapi tidak untuk kali ini ia akan berjuang merebutkan Adhisti meski halangan nya sebesar gunung Fuji di Jepang.


"Harus semangat empat lima, demi Adhisti." Endaru mendekati sang istri dan langsung memeluk pinggang ramping Adhisti.


"Aru," ia sedikit terkejut.


Melati mendengus kesal dan berlalu pergi, sekarang Endaru sudah ada pendamping yang akan membuat perubahan dalam hidup cucu kesayangannya itu, Melati hanya bisa membantu doa saja.


"Lanjutkan kegiatan kalian, lagian Oma sudah selesai ko menggangu kamu Dekil." Sambil menjulurkan lidahnya. Ia begitu bangga bisa membuat cucunya kualahan, tapi ini belum seberapa jika nanti ada Dekil kecil ia akan membuat sekutu dengannya biar sang Papa pusing kepalanya.


'Aduh aku sudah tidak sabar jika ada Dekil kecil lahir ditengah-tengah kehidupan kami ini. Pasti jika perempuan secantik Adhisti ibunya sedangkan laki-laki pasti setampan Dekil.'


Melati berangan-angan tinggi sekali.


Sudah satu minggu Gerry mencari informasi.


"Rumah ini?" ia menggigit bibir bawahnya, ada hubungan apa Adisti dengan Malik Septian. Atau jangan-jangan Adhisti menantu dari keluarga ini, tapi ia harus mencari bukti dulu yang kuat.


Gerry berjalan menuju satpam yang berada di tempat pos.


"Permisi Pak, apa ini benar rumah Adhisti?" Gerry yang masih berpakaian kemeja rapi di tatap oleh satpam tersebut dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Bapak siapa ya? ada perlu apa kemari!" satpam tersebut waspada dengan orang asing yang hendak menipu.


Sebab jaman sekarang orang menipu tidak bisa di prediksi pakaiannya apa saja baik tapi atau tidak.


"Saya masih ada kerabat dengan Adhisti, saya pamannya apa boleh saya bertemu dengannya?" terpaksa Gerry berbohong demi menguak siapa Adhisti yang telah membuat istrinya terus menerus menanyakan tentang gadis itu.

__ADS_1


"Oh Pamannya, tapi maaf Pak. Mbak Adhisti tidak tinggal di rumah ini, beliau tinggal di rumah suaminya Pak!" jawabnya tanpa curiga sedikitpun lagi pada Gerry.


"Sudah pindah, ko saya tidak di beri tau ya. Oh ya pak, jika saya boleh tau tinggal dimana ya, sebab saya juga tidak punya nomornya dan juga saya kehilangan kontak dia." Gerry berusaha menguak secara perlahan dari orang-orang yang kemungkinan pernah tau tentang Adhisti.


"Maaf Pak, saya tidak dapat memberikan informasi lebih. Sebab saya sendiri juga tidak tau," si satpam tiba-tiba bicara demikian, Gerry paham pasti dia mendapat laporan sebab saat ia berbicara tadi ada headset tanpa kabel di telinganya, pasti satpam ini juga bukan satpam biasa pasti rangkapan dari body guard atau sejenisnya yang ada di dunia gelap seperti Mafia dan lain-lainnya.


"Terimakasih banyak ya pak, saya permisi." Gerry beranjak pergi dan masuk ke dalam mobilnya lagi, tidak ada cara lain ia harus mengambil cuti untuk beberapa waktu dan juga mengawasi kantor Endaru.


Gerry sudah mengetahui kantor Endaru tinggal Rumahnya saja, saat mau mengikuti selalu ada halangan sebab ada saja pasien dadakan yang harus ia selamatkan nyawanya.


**


"Aru." Adhisti hendak berpamitan pada Endaru, tumben-tumbenan ia berkerja di rumah seolah-olah tau jika dirinya hendak pergi hari ini, atau jangan-jangan ia tau jadwal perginya.


"Mau kemana? kenapa sudah rapi pakaiannya?" menatap baju gamis yang di kenakan Adhisti.


"Mau belanja Aru, bolehkan aku berangkat dengan Mbak Nita?" tanyanya sangat manja, di saat-saat seperti ini Adhisti berusaha merayu suaminya selihai mungkin. Supaya sang suami tidak curiga dengan gelagatnya pergi kemana saja.


"Iya, Aru." Adhisti lebih memilih mengiyakan saja dari pada nanti gagal usaha perginya hari ini, sedangkan Nita dan Tejo bisa ia atasi dengan idenya sendiri dan tentu saja mereka berdua akan menuruti perintah Adhisti.


Adhisti memang sengaja pergi belanja alasannya tapi tetap saja tujuan utamanya ialah mendapatkan seorang anak melalui periksa ke Dokter lagi dan lagi apakah kandungannya baik-baik saja atau tanya hal lain yang menyangkut rahim dan sebagainya.


"Mbak Adhi, yakin nih ke rumah sakit lagi?" tanyanya Nita yang sudah melihat ada genangan air mata di sudut mata Adhisti.


Adhisti hanya bisa mengangguk kepala dan Tejo hanya bisa pasrah juga dan tutup mulut rapat-rapat dari pada menyakiti hati Nona nya ini.


"Iya mbak Nita, aku mohon jangan sampai Endaru tau. Aku tidak ingin dia terluka mbak!" jawabnya menahan air mata.

__ADS_1


Di Rumah Sakit.


Tejo hanya siaga di luar rumah sakit, lebih tepatnya di sebrang rumah sakit yang kebetulan ada mini market, tempat ini bisa di jadikan alasan jika ada salah satu orang dari Endaru tak sengaja lewat, ia tidak mau rahasia dari Nona nya terbongkar di depan Endaru. Bisa-bisa ia di cap pengawal yang berhianat dan tidak setia, serta lebih parahnya lagi akan di bawa ke ranah hukum dan di jadikan seorang dengan tuduhan pencemaran nama baik dan tidak setia pada majikan bermaksud menghianati dengan sekongkol dengan penjahat dunia gelap.


Adhisti dan Nita sedang mengantri, untung Rumah Sakit hari ini longgar tidak banyak orang yang hendak periksa jadi waktu yang dibutuhkan juga tidak lama, tidak sampai setengah jam Adhisti sudah kembali ke mini market tersebut.


"Alhamdulillah ya mbak jika kandunganku ternyata baik-baik saja, aku senang mbak mendengar pernyataan Dokter tadi." Adhisti sangat gembira melihat hasil tes kesuburannya baik dan tidak ada kendala sama sekali bahkan sudah siap untuk mengandung.


"Iya mbak Adhi, selamat ya mbak semoga segera ada baby di dalam sini," sedikit menyentuh bagian perut Adhisti.


Adhisti berjalan mengambil beberapa makanan yang ia suka dan lihat namun tiba-tiba saat ia berjalan bertemu kembali pada wanita yang pernah ia lihat di Rumah Sakit waktu itu.


"Permisi Bu." Adhisti sekedar menyapa.


"Tunggu Nona, apa saya boleh berbicara sebentar dengan anda?" tanya Gerry pada Adhisti.


"Tapi ...," belum selesai namun sudah di sela Gerry.


"Saya mohon dengan tulus Nona, tolong ya Nona, istri saya terus menanyakan keadaan anda nona. Saya mohon." Gerry berharap banyak pada Adhisti.


Adhisti masih berpikir keras, lalu ia melihat wanita yang tengah duduk di kursi roda dan hanya bisa tersenyum namun dia mengisyaratkan jika dirinya tidak bisa berbicara saat ini dan ia hanya bisa menulis apa yang ia mau melalu layar tab miliknya.


📝 Saya mohon nak🥺🥺


Menunjukkannya pada Adhisti, Adhisti jadi luluh jika di buat begini. Tapi ---


***

__ADS_1


Semoga mau berbicara ya Adhisti, yuk tinggalkan jempol atau like lalu tekan bingtang 5 ya jangan lupa pencet love.


Terimakasih


__ADS_2