
Endaru menggenggam erat tangan Adhisti dan menciumi tangannya berkali-kali, wangi yang lembut dan sama seperti sebelum-sebelumnya kini selalu Endaru rindukan setiap saat, saat dirinya berada di villa.
"Sayang, aku akan bicara terus terang ya." Menatap mata Adhisti yang jernih dan sangat bagus.
"Bicaralah Aru, aku juga ingin tau seperti apa cerita yang kamu sembunyikan dariku," tetap tersenyum meski yah ... dalam hati ada rasa kecewa sih, pasti ada lah.
"Begini Adhi, waktu itu."
Endaru berbicara mengenai fakta dirinya yang sebenarnya, takut akan kecewa dengan cinta ia pada akhirnya memutuskan untuk operasi vasektomi dan juga dari pada mengejang kebebasan Adhisti ia membatalkan pernikahan resmi waktu itu dan yang terjadi sekitar 2 bulanan ia tanpa kabar itu ia sedang perjalanan ke Singapura untuk membukanya kembali tapi naas saat pulang ke Indonesia ada kecelakaan beruntun di tol dan mengakibatkan kakinya yang terkena cidera sebab ia menyopiri sendiri mobilnya, dan baru sekitar 1 Minggu setelah sadar ia mendapati kenyataan jika dirinya cacat seperti sekarang.
"Apa kaki kamu tidak bisa sembuh Aru." Mengusap pelan kaki Endaru yang di perban.
"Kata Dokter bisa sayang, asalkan aku mau terapi dan lebih semangat dan giat usaha lagi," Endaru sangat sedih.
"Terus ...." Adhisti menautkan kedua alisnya.
"Terus apanya sayang?" bingung dengan pertanyaan Adhisti, mengapa ia minta terus ... terus dalam bicara apa maksudnya.
"Ya ... terus ... kamunya gimana? terapi enggak." Ketus nada bicaranya.
"Ya ... em ... rencananya sih begitu, terapi. Tap--," belum selesai bicara namun sudah di cela Adhisti.
"Nunggu kaki parah dan gak bisa di obati dan cacat seumur hidup baru menyesal, begitu. Maksudnya," sengak Adhisti.
"Ko kamu bilang gitu sih sayang, nyumpahin dan doain aku begitu sih." Endaru sewot.
"Salah sendiri, sudah tau kaki bisa kembali sembuh dengan terapi tapi kamunya gak berangkat terapi. Terus, dimana letak kesalahan aku coba?" Adhisti melipat tangannya.
"Iya aku salah, kasih dukungan begitu. Seperti menyemangati suaminya biar mau terapi gitu!" sedih hatinya.
"Dasar kamu ya, tadi misalnya kamu gak ketauan sepertinya tetap seperti ini ini doang, gak mau ke Rumah Sakit maupun mengundang Dokter untuk terapi dan lain sebagainya." Mencubit kuat-kuat kedua pipi Endaru.
__ADS_1
"Sakit, ya enggak sih sayang, sebenarnya berangkat ko tadi. Kenapa? apa aku seperti anak kecil umur tiga tahun yang masih imut dan menggemaskan sampai-sampai istriku selalu mencubit kedua pipiku ini," mengusap kedua pipinya yang sakit sebentar.
"Enggak, cuma tambah tembem aja." Adhisti menjauhkan badannya, terus terang saja ia selalu gemas melihat wajah Endaru.
Andai dia tidak opersi mungkin saja di dalam rahimnya sudah ada calon buah hati, jika lahir mirip dengannya pasti sangat lucu melihat dia cemburu dengan anaknya sendiri. Adhisti tersenyum-senyum sambil membayangkan punya anak.
Endaru merasakan terbaikmu di tambah lagi Adhisti sedang melamun sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Haduh, jangan bilang satu bulan aku tinggal gak ada kabar jadi tega sama suami. Apa ada yang lain sekarang?" ia mendengus kesal dan memalingkan wajahnya, ia marah dan merajuk seperti anak kecil yang minta mainan.
"Kalau ada memangnya kenapa, cemburu atau marah!" malah menampilkan senyum kailnya. Ia ingin melihat seperti apa kobaran api di dalam diri Endaru.
"Apa kamu lupa dengan ucapanku waktu itu, aku akan menunjukkan siapa aku di hatimu dan akan aku buat ia menyesal merebut bidadariku dari genggamanku," Endaru yakin sekali saat bicara.
Adhisti mendadak tertawa renyah.
"AA ... HA ... HA .... Cemburu nih ceritanya, enggak ko gak ada yang lain Aru sayang." Mengusap surai rambut Endaru dengan gemasnya.
"Beneran gak ada yang lain?" matanya berubah sendu.
Adhisti melebarkan kedua matanya, kenapa suaminya jadi begini pasca kecelakaan atau jangan-jangan tidak cuma kakinya yang terluka tapi kepalanya juga, apa ia terkena sesuatu pada daya ingat dan membuatnya berperilaku seperti anak kecil saat memohon, entahlah yang jelas ia tidak hilang ingatan.
"Jika ada yang lain itu gak mungkin, buat apa aku cari yang lain jika suamiku saja sudah seperti ini. Buang-buang waktu saja mencari yang lain!" Adhisti membenarkan jilbab yang ia kenakan.
Wajah imut dan cantik Adhisti semakin terpancar jika seperti ini, sungguh tidak dapat di pungkiri pesonanya yang kian meningkat saja.
"Oh ... so sweat banget istriku ini, makin cinta deh."
"Iya dong, jika bukan Adhisti yang membuat seorang Endaru kelepek-kelepek jangan panggil Adhisti yang mempesona," dengan bangganya memamerkan diri sendiri.
"Pede banget jadi orang, bilang aku kelepek-kelepek dengan pesona kamu." Endaru meraih badan Adhisti dan mendudukkannya di pangkuan sambil memeluk erat badannya.
__ADS_1
"Apa kaki kamu baik-baik saja, aku berat loh Aru," hendak berdiri namun gak bisa.
"Gak apa-apa, masih Beratan beban dosa aku sayang. Yang begitu tega menyakiti hati istrinya."
"Jangan bilang begitu Aru,"
Setelah percakapan panjang lebar, Adhisti dan Endaru pulang yang di sopiri langsung oleh Ryan. Melati yang berada di rumah di buat hawatir oleh keadaan Adhisti yang tak kunjung pulang ke rumah padahal tadi pamitnya cuma ke kantor tapi dari pagi sampai hampir tengah malam belum juga pulang dan anehnya kenapa ponselnya juga ikut tidak aktif.
Setelah beberapa jam barulah Endaru dan Adhisti pulang ke rumah Septian.
Melati tidak bisa tidur, ia sangat cemas pada cucu menantu perempuannya.
"Kamu kemana sih Adhi, Oma tidak bisa tidur jika kamu belum pulang. Dan satu lagi, kemana sih Dekil kaburnya?" merebahkan diri di tempat tidur namun pikirannya melayang dan tidak dapat tidur.
Melati akhirnya memutuskan keluar dari kamar dan turun, ia mendengar suara dari luar sepertinya ini suara Dekil. Benar atau tidak, Melati yang yakin jika ini cucunya yang datang.
Melati menutup mulutnya saat melihat ternyata cucu kesayangannya berada di atas kursi roda dengan kedua kakinya yang di perban.
"Dekil." Langsung memeluk cucu kesayangannya, rasa hawatir kini sirna berganti dengan kebahagiaan yang tidak terkira. Ia terharu menyambut kedatangan Endaru, tangisnya pecah saat mengetahui cucunya selamat dan sehat meski ada masalah di kakinya.
"Oma, maafkan Endaru. Oma," ucapnya lirih di selingi tangis juga.
Adhisti dan Ryan jadi terharu melihat suasana ini, tak berselang lama Ryan berpamitan pulang sebab Mega juga butuh perhatiannya di tambah lagi ia juga punya tanggung jawab dari rahasia yang ia sembunyikan dari istrinya.
"Sudah ... sudah masuk dulu Dekil, Adhisti. Ayo." Melati menyuruh mereka langsung masuk.
"Kalian ke kamar ya, Tejo tolong bantu Endaru dan kami juga," menunjuk orang yang ada di dekat Tejo.
"Siap .... Nyonya Oma." Dengan hormat ia langsung membantu Endaru menuju kamarnya, sebenarnya tidak perlu repot jika mau menggunakan lift tapi apa boleh buat jika Oma dalam satu rumah, sebisa mungkin semua di kerjakan menggunakan tenaga bukan listrik.
"Tapi," Endaru mendapatkan isyarat jika dirinya di suruh istirahat saja dan jangan banyak bicara yang bukan-bukan ini sudah tengah malam dan mengantuk waktunya orang tidur.
__ADS_1
Endaru mengangguk saja, Adhisti membawa tas kecilnya sedangkan pakaian Endaru yang lain baik yang kotor dan bersih langsung di bawa ke kamar juga.