
...SELAMAT MEMBACA...
Endaru menepis tangan Tisha.
"Kenapa?!!" Tisha terkejut lagi dengan penolakan Endaru.
"Bukan muhrim!" jawaban yang membuat Tisha terkejut lagi dan membuat ia terkagum lebih lagi dengan Endaru.
Tadi sewaktu di perjalanan ia hampir melukai Mega sebab ia mengandung namun setelah ia tau jika Mega tidak mengandung anaknya langsung niatan buruk itu ia tepis jauh-jauh dari pikiran kotornya.
"Bisakah kamu mengantarku jalan-jalan keliling kota ini Endaru?" Tisha berucap seperti kenal baik dan lama pada Endaru, padahal dulu Tisha murid pindahan saja bukan murid baru dari kelas 1 melainkan kelas 3 SMP.
"Tidak bisa, jika mau keliling kota pesan aplikasi online yang bisa mengantarmu kesana kemari, gue sibuk gak ada waktu. Jika sudah bicaranya, silahkan pulang!" Endaru mempersilahkan Tisha pergi.
"Oke ... oke ... jika itu kemauan kamu Endaru, aku tau aku salah dulu. Maaf ...." Tisha sangat kecewa dengan penolakan Endaru pada dirinya.
"Pergilah," Endaru bergegas pergi dari taman dan masuk ke dalam rumah.
Endaru menatap kesana kemari namun tidak menjumpai wanita mungilnya, kemana dia? kenapa batang hidung yang minimalis itu tidak ada, sambil celingukan kesana kemari.
Nita yang baru turun dari lantai atas langsung melapor pada Endaru jika Adhisti berada di kamarnya.
__ADS_1
"Pak bos, mbak Adhi berada di kamar anda Pak bos." Nita berucap dengan sopan dan langsung di anggukki Endaru.
Endaru berjalan ke lantai atas dan membuka perlahan pintu kamar tersebut.
Ceklek.
"Mbak Nita, kenapa kamu kembali? bukannya saya sudah menyuruh kamu untuk pergi dan membiarkan saya sendiri." Adhisti tidak menatap siapa yang datang, ia lebih cenderung menatap ikan-ikan yang kompak berenang kesana kemari.
Endaru tersenyum lebar, istri mungilnya sedang cemburu ternyata dan membuat hati istrinya dilanda dilema saat ini.
"Sakit hatikah." Endaru memeluk tubuh Adhisti dengan erat.
"Sakit hati, karena apa tuan?" Adhisti mengelak jika memang benar hatinya sakit saat melihat suaminya pergi menemui wanita berambut pendek barusan.
Endaru menepuk jidatnya, ternyata istri mungilnya ini kurang peka terhadap perasaannya sendiri. Sepertinya ini hal yang di tunggu-tunggu oleh Endaru yaitu perasaan yang seharusnya tidak ada.
"Bagus, jika kamu tidak sakit hati. Ingat jangan ada perasaan kepada saya Adhi." Endaru melepas pelukan hangat dari tubuh Adhisti.
Lidah Adhisti keluh dan tidak mampu berucap apa-apa, jika di tanya lagi apakah ada rasa cinta? jawabannya ada. Memang benar ia selalu terkagum-kagum dengan sosok Endaru, tampan, manis dan berwibawa itu membuat siapa pun yang ada di dekatnya pasti suka di tambah lagi ia pengusaha yang mapan, tanpa pemikat apa pun semua ingin dekat dengannya, seperti bunga yang baru mekar dan mengundang hewan lain dengan pesona memikatnya.
Tapi, jika sang pemilik sudah berucap demikian dan jangan pernah berharap, lalu bisa apa. Memaksa? itu rasanya tidak manusiawi jika di lakukan demi ego sendiri.
__ADS_1
Cinta memang bisa datang kapan saja seiring berjalannya waktu dan ketika selalu bertemu dan bersama.
"Tuan, apa saya boleh bertanya?" Adhisti berjalan mendekati Endaru.
"Bicaralah Adhi, apa keluh kesahmu!" Endaru melipat kakinya.
"Siapa dia tuan, apa dia seseorang yang sepesial untuk tuan." Adhisti memastikan dulu, supaya ia tidak pernah lagi menaruh harapan pada Endaru.
Endaru hanya tersenyum.
Adhisti paham dengan senyum ini, pasti iya jawabnya. Dia cantik dan berpendidikan tinggi dan pantas sekali menjadi pendamping Endaru yang sesungguhnya bukan seperti dirinya ini.
Adhisti berjalan menjauhi Endaru.
...BERSAMBUNG....
...Dukungannya ya biar Emak makin semangat ngetiknya....
...Terimakasih...
__ADS_1