
Endaru menelpon lagi tapi tidak di gubris sama sekali oleh Adhisti, ia coba telpon lagi dan lagi tapi tetap saja tidak ada tanggapan. Adhisti yang geram memasukkan ponselnya di tas kucing dan meletakkannya di dalam troli dari pada badannya bergetar terus akibat deringan ponsel yang sedari tadi bunyi terus.
"Haduh, seperti penjabat saja aku ini dari tadi di telpon mulu. Pengangguran yang sok sibuk, biarin saja tuh bunyi terus salah sendiri laki-laki ko cerewet." Adhisti bersikap biasa-biasa saja, ternyata ia pergi hari ini pengalamannya asam manis di daratan untung gak di lautan juga.
Meong
Meong
Adhisti tersenyum mendengar kucing barunya mengeluarkan suara sedari tadi pasti kucingnya gak bisa tidur dan bermalas-malasan di dalam tas dan meminta suara ponsel itu di matikan segera, tapi justru Adhisti tidak melakukannya ia membiarkan ponselnya terus berdering.
"Latihan pendengaran ya meong, sabar-sabar menghadapi majikan seperti aku ini ya." Adhisti melanjutkan belanjanya lagian nanggung kalau tidak sekalian mumpung ada yang berbaik hari memberi uang untuk belanja dan bersenang-senang di super market.
Endaru melempar ponselnya, bukannya mengangkat telponnya malah membiarkan dirinya jamuran di kursi.
__ADS_1
Ryan yang baru masuk menatap malas bosnya yang raut wajahnya lebih keriput dari Nenek buyutnya padahal Endaru masih umur 30 sama seperti dirinya tapi hari ini lebih tua dari Neneknya.
"Ck, muka kusut banget melebihi kusutnya lipatan origami tau gak. Nenek gue aja gak sekusut lo wajahnya." Sindiran Ryan langsung mendapatkan tatapan mematikan.
"Mau potong gaji lagi, hitung-hitung untuk membayar gaji karyawan lain?" ancaman yang kurang menguntungkan dan ini kelemahannya.
"Ya elah Endaru, tega bener sama gue. Mega buntingnya semakin besar loh!" sambil memperagakan lingkaran besar di perutnya.
"Gak peduli, lagian pengen ko gue potong gaji Lo buat makanan si meong." Endaru mengeluarkan polpen dan merinci semua yang ada di otaknya berapa jumlah makanan untuk kebutuhan kucing baru yang sedang di rawat Adhisti.
"Gue mau ngundurin diri aja deh jadi sekretaris Lo Endaru, gue gak kuat kalau potong gaji lagi." Hendak keluar tapi tidak jadi saat mengingat kebaikan Endaru yang membuatnya jadi seperti ini, dulu jika bukan Endaru yang menyelamatkannya dan juga sahabat baiknya mungkin sekarang ia tidak bisa berbahagia dengan Mega istrinya, kecelakaan saat balapan sewaktu SMA dulu terngiang-ngiang di pikirannya.
Endaru menatap kepergian Ryan.
__ADS_1
"Kenapa? menyesal atau teringat masa lalu?" benar pertanyaan Endaru, dirinya teringat pertolongan Endaru saat itu.
"Iya!" mengangguk sambil menangis sesenggukan dadakan pula sambil mengusap wajah ingusnya, iyuhh. Endaru jadi gimana gitu melihat pemandangan ini, seorang Ryan menangis tersendu-sendu seperti drama-drama yang di tonton Omanya beberapa hari yang lalu, gila ... benar-benar gila melihat Ryan yang seperti anak kecil minta popit sekalian dengan es creamnya.
Kosan Adhisti sore hari pukul 05.20 WIB.
Adhisti tengah asih bergelut dengan naskah yang ia pegang di ponselnya, ia beberapa kali membaca karya-karya para senior aplikasi tersebut dan mencari referensi untuk bahan tulisannya.
"Wah ... benar-benar berbeda ya dengan senior tulisanku ini, masih kayak ceker ayam. Tanda baca gak tepat di tambah lagi ini nih kurang gimana gitu feel-nya gak kena ke pembaca setia ini mah, alamat bakalan gak laku di pasaran. Coba deh aku rombak jadi kejam MC ceweknya siapa tau minat di tambah lagi ada kontrak nikah dadakan sepertinya bagus, sesekali si cewek berkuasa di sini. Gak kayak kehidupanku ini yang nyeseknya minta ampun sampai sujut-sujut biar gak ketelen batu batangkup." Adhisti membaca karya milik orang lain sampai lupa waktu jika dia sedang merebus air panas.
Adhisti penciumannya mencium sesuatu yang gosong dan kering, Adhisti teringat jika dirinya sedang merebus air panas.
"Mati gue." Menepuk jidatnya dan langsung berlari ke arah dapur dan mematikan kompornya.
__ADS_1
Ia menebah dadanya seraya bernafas lega untung gak terjadi kebakaran, kalau iya pasti dirinya sekarang berada di kantor polisi sebab gara-gara kelalaiannya terjadi kebakaran di kosan ini.
Setelah itu Adhisti mencari kain yang tebal dan membawa panci tak bersalah itu di tempat pencucian piring dan memberinya air sampai penuh nanti baru di gosok pakai gosokan kawat.