Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
82. Merebutkan Adhisti


__ADS_3

Ada beberapa yang emak revisi karya ini, mungkin ada beberapa yang gimana gitu di baca gak enak juga, emak butuh dukungan biar karya ini laku dan Emak semangat lagi untuk melanjutkan karya ini.


Terimakasih sudah mampir dan membaca.


***


Adhisti menatap pintu kamarnya dan kembali memegang ponselnya dan melihat ada pesan masuk dari Endaru, ia malas melayani tapi terlanjur terpencet tulisan yang ada di layarnya.


💬 Lagi apa


💬 Lagi mager, tapi lapar


💬 Aku otw kesana Adhi, bawa makanan sebentar lagi


💬 Aku tunggu, makanannya 😁


Adhisti meletakkan ponselnya di atas meja dan menuju ruang tamu untuk melihat meong apakah makanannya masih ada atau tidak, dan ternyata sudah habis dan dia sedang tidur di kandangnya sangat imut dan menggemaskan ingin menguyel-uyel badannya yang gemuk.


"Kamu bangun dan makan dulu oke, jangan jadi pemalas kayak aku ini." Adhisti mengusap bulu halus di badan si meong.


Tentu saja si kucing yang mencium bau ikan dari makanannya bangkit dari tidur, benar-benar tajam ya indera penciumannya yang berada di kumisnya itu padahal lagi tidur kalau orang si saat tidur sering di bilang ngelindur kalau beginian.


Tok


Tok


Adhisti mengerutkan alisnya, Cepet banget Endaru datang perasaan baru saja ia menerima pesan singkat padanya jika akan datang tapi tidak mungkin secepat ini bukan.

__ADS_1


"Aru, cepet banget kamu datang." Adhisti salah sangka ternyata yang datang yaitu Reno sang Dokter ganjen yang beberapa waktu ini selalu lewat depan kosannya dengan alasan beribu-ribu macam.


Adhisti tersenyum kecut dan malas.


"Ngapain kesini?" Adhisti segera menutup pintu dan enggan memasukkan tamu tak di undang selain itu mencegah fitnah tetangga.


Adhisti dan Reno berbicara di luar kosan dan duduk di kursi seadanya sedangkan Reno berdiri sambil tersenyum, entah senyum apa maksudnya yang jelas di mata Adhisti ia hanya modus saja datang ke sini.


"Kangen kamu Adhi, makanya aku datang! apa kamu lagi sibuk? ayo keluar malam Minggu besok." Reno berharap jika Adhisti tidak menolak ajakan pertamanya ini.


"Ga jelas banget kamu Dokter Reno, lagian hari saya sudah penuh dengan nama saru orang tidak mungkin bisa menampung dua orang. Anda paham kan dengan maksud saya," Adhisti lebih baik tidak memberikan harapan apa-apa pada Reno dari pada nanti tersakiti hatinya, lebih baik ia stop dari sekarang harapan itu.


"Apa sama sekali gak ada kesempatan untuk aku Adhisti?" masih ngeyel bahkan ia dengan lancang menggenggam erat tangan Adhisti.


Sedangkan Endaru tersenyum penuh cinta di tubuhnya saat membawa makanan untuk Adhisti tapi ia terkejut saat melihat Adhisti tangannya sedang di genggam Dokter modus yang bernama Reno Reno itu.


"Hey ... hey ... lepas tangan anda dari Adhisti, tidak sopan secara terang-terangan merebut kekasih orang." Endaru langsung menarik tubuh Adhisti dalam pelukannya.


"Apa? dia ngajakin kamu berkencan besok. Tidak bisa ... enak saja ngajakkin kamu yang nota benenya kekasih aku!" mengeratkan pelukannya.


Sebenarnya Reno emosinya sudah sampai ke otak dan ingin memukul Endaru dan merebut Adhisti dari tangannya, tapi ia tidak mau ceroboh saat merebut gadis yang sukses memporak porandakan hatinya.


"Tapi aku sudah lebih dulu yang datang dari pada kamu Endaru." Kesal Reno yang langsung merebut Adhisti dari tangannya.


"Sialan ya Lo, Adhi pacar gue calon bini gue," Endaru tidak mau kalah ia langsung mendekap sang gadis ke dalam pelukannya.


"Anak kecil, dasar ya laki-laki pada jadi kucing garong, berisik tau." Omel ibu-ibu tetangga sebelah yang sedang minum kopi.

__ADS_1


Reno dan Endaru langsung diam di tempat, tidak berani mengganggu Adhisti lagi dan memilih duduk bersebelahan dengan sangat terpaksa sekali.


Adhisti tersenyum melihat 2 laki-laki yang tidak berkutik melawan the power of emak-emak ternyata beruntung sekali dirinya tinggal di sini, meski tidak ada yang menjaga tapi dirinya aman di sini dan di terima dengan baik oleh para tetangga.


Adhisti menahan lapar di perutnya tapi pada kenyataannya berbunyi sangat keras dan itu membuat rona di wajahnya terpancar, betapa malunya sekarang di tambah lagi ada 2 orang laki-laki di dekatnya.


Kruk


Kruk


Endaru tersenyum.


"Ini Adhi, aku bawakan makanan." Endaru memberikan satu porsi makanan pada Adhisti.


"Terimakasih Aru," menerima makanan tersebut.


Hatinya berdesir nyaman saat Endaru seperhatian ini pada dirinya, seperti merasakan kekokohan atau perlindungan dari seseorang yang bisa di andalkan.


"Modus, belaka." Ledek Reno yang langsung mendapatkan cengkraman kuat di kerah bajunya.


"Apa anda bilang, maaf ya tuan Dokter yang terhormat. Adhisti kekasih saya calon istri saya, saya berhak ko perhatian padanya. Apa anda sedang bermasalah melihat kenyataan yang ada, gak terima?" menatap tidak suka pada Reno.


Reno mengepalkan tangannya.


"Iya, saya gak terima. Wanita seperti Adhisti mendapatkan laki-laki modelan seperti anda!" jawabnya lantang.


Ceklek

__ADS_1


Adhisti mengunci pintu kosannya dari pada mendengar 2 orang berebut seperti itu.


"Yah ko di kunci, gara-gara kamu? sialan." Endaru melepas cengkraman nya dan berlalu pergi dari kosan Adhisti begitu juga dengan Reno, percuma mengetuk jika ini sudah malam sekali.


__ADS_2