
...SELAMAT MEMBACA...
Nita sedang membayangkan.
Endaru tengah marah-marah pada semua asisten rumah dan body guard ya saat Adhisti kabur dari rumah ini dan dalam keadaan mengandung buah cintanya bersama dan sedang di nantikan kelahirannya beberapa bulan yang akan datang.
"CARI SAMPAI KETEMU, JIKA TIDAK SAYA AKAN MELAPORKAN KALIAN SEMUA KE POLISI ATAS TUDUHAN KEKERASAN FISIK." Endaru meluap-luap dalam amarahnya.
Nita menelan salivanya dengan kasar. Betapa hebohnya jika hal itu sampai benar-benar terjadi.
Di sisi lain.
•
•
Adhisti sedikit curiga dengan kelakuan Nita yang sepertinya sedang membayangkan suatu hal, entah itu apa yang di pikirkan Nita.
Adhisti melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Nita namun tidak ada reaksi sedikitpun dari Nita.
"Mbak ..., mbak Nita." Adhisti memanggil-manggil Nita sampai ia tersadar dari lamunannya.
"Maaf mbak, ada apa ya? apa perlu saya mengambilkan sesuatu untuk mbak Adhi?" Nita bertanya dengan hormat sambil tersenyum.
"Tidak mbak Nita, cuma ... apa boleh saya keluar rumah hari ini? tolong ya mbak bilang ke tuan Endaru untuk mengizinkan saya keluar. Please ...." Adhisti sambil memohon.
__ADS_1
Nita merasa sangat kasihan sekali pada Adhisti, memang benar selama tinggal hampir satu bulan hanya satu kali boleh keluar rumah ini, itu pun saat kaki Adhisti terkena batu yang ada di taman.
Tapi Nita juga bingung harus berbicara bagaimana.
"Mbak Nita, bagaimana." Adhisti memastikannya.
"Saya bingung mbak Adhi, coba saya telpon pak bos dulu ya," Nita menjauh sedikit dari Adhisti.
"Iya telpon saja." Sambil mengibaskan tangannya.
Adhisti yang menunggu ia memainkan jari jemarinya, memang benar ya kata orang jangan bermimpi terlalu tinggi apalagi dengan orang yang tidak sepadan, pasti hal seperti ini yang di dapat yaitu sengsara dan tertekan batin dan fisik setiap harinya.
"Em, mbak Adhi boleh keluar tapi dengan satu syarat." Nita mengacungkan jari telunjuknya ke atas.
"Apa? apa syaratnya mbak Nita?" Adhisti sangat senang sampai ia menyentuh kedua pundak Nita dengan gembira.
Nita mengambil sesuatu yang ada di gudang dan itu semua peralatan yang biasanya di gunakan untuk orang berkerja di pabrik atau di tempat-tempat tertentu.
"Mbak Adhi di suruh pak bos pakai ini." Nita menunjukkan sarung tangan dan sepatu boots yang harus di gunakan bahkan ada jas hujan juga di situ.
"What ... saya di suruh tuan pakai ini? apa gak salah mbak Nita!" lemas seketika tubuh Adhisti.
Nita hanya garu-garuk rambutnya yang tidak gatal, ia juga bingung sendiri dengan jalan pikiran bosnya itu. Apa sebegitu hawatir nya dengan sang istri sampai-sampai di suruh mengenakan kostum yang tidak tepat, padahal Adhisti hanya berencana keluar dari rumah untuk melukis saja bukan membajak sawah atau berkebun.
Adhisti terpaksa mengenakannya, ia sengaja mengenakan itu tepat di dekat CCTV supaya Endaru tau dan melihatnya secara langsung.
__ADS_1
"Puft ...." Endaru menahan tawa yang hampir pecah memenuhi ruangan kerjanya.
Ryan yang tidak jauh dari Endaru mengerutkan dahinya, gerangan ada apa yang membuat tuan dingin ini menahan tawa saat melihat ponselnya.
"Terkadang cinta membuat orang tidak waras." Ledek Ryan sambil mengetik di laptopnya.
"Lo nyindir gue?" Endaru menatap tajam Ryan.
"Tidak! kalau Lo merasa ya itu derita lo!" jawaban Ryan langsung di hampiri pukulan tepat di lengan kanannya.
"Bastard ... Lo." Ryan memijat lengannya yang sedikit ngilu di bagian atas.
Sebenarnya memukul lengan Ryan sedikit ada rasa sakit, meski terlihat kalem tubuh Ryan sama dengan Endaru yang berotot besar.
"Segitu saja sakit, lembek Lo," Endaru kembali duduk dan mengamati ponselnya.
Ryan geleng-geleng kepala melihat Endaru seperti itu, jika cinta kenapa tidak langsung di sah kan saja pernikahannya. Dari pada main rumah-rumahan dengannya, nanti saat kehilangan baru terasa di dada dan ujung-ujungnya menyusahkan orang lain saat berkerja, itukan tidak ada etis jadinya.
"Jangan cuma senyum saja, sana pergi ke KUA dan ajak dia nikah beneran dan di kenalkan dunia. Jangan bilang kamu masih menunggu dia pulang ke Indonesia." Ledek Ryan yang mengingatkan seseorang yang pernah menghiasi hatinya saat SMP dulu.
"Shut up, gue gak suka Lo bahas yang gak penting kayak gitu," mood Endaru hancur begitu saja ketika Ryan membahas wanita itu.
Ryan langsung diam.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...Jempolnya ya biar Emak makin semangat up nya, terimakasih ya love love untuk semua....