
Adhisti hendak masuk namun ia ragu-ragu, masuk tidak ya pasti Mega akan sangat heboh dengan kehadirannya.
"Gak jadi masuk?" tangannya menggenggam tangan Adhisti.
"Jadi Aru!" jawabnya merasakan panas dingin saat masuk ke dalam ruangan Mega.
Saat mengunjungi Mega benar saja kan Mega langsung kegirangan dan senangnya bukan main dan langsung menyuruh Adhisti untuk menggendong putranya.
"Takut Aru." Membisikkan bicaranya.
"Tenang oke, sini aku bantu gendong," ia meraih bayi itu dengan sedikit ya pasti gemetaran, namanya juga baru pertama kali dan sempat bingung juga.
Ryan juga ikut hawatir saat bayinya di gendong Endaru, biasalah bos gak pernah pegang benda yang beratnya lebih dari 3 kilo takut tangannya patah. Kecuali kuat mengendong istrinya.
"Kenapa biasa setampan ini sih anak Lo Mega, perasaan bapaknya modelan jelek gini."
Ryan tersedak saat minum air mineral.
"Uhuk ... sialan Lo, mentang-mentang lebih tampan dari gue seenak jidat Lo ngatain gue modelan jelek. Kaya Lo bisa aja menghasilkan seperti ini," sengak Ryan yang langsung tembus ke ulu hati.
Jleb.
"Sabar ... sabar ... orang sabar di sayang Allah." Menebah dadanya berkali-kali Endaru.
Adhisti tersenyum melihat dua sahabat saling melempar candaan, suasana yang tadinya sepi ini tidak lagi. Adhisti duduk di samping Mega dan memberikan roti padanya.
"Kak, isi tenaga dulu. Kasian nanti si kecil kalau kelaparan sebab Mama nya tertawa terus." Adhisti bercanda.
"Iya benar, terkadang Endaru dan Ryan ini bercandanya kelewatan sampai lupa daratan," menerima dan langsung memakannya.
__ADS_1
Adhisti juga ikut tersenyum lebar, mereka memang kompak dan konyol tapi yang lebih konyolnya lagi kenapa saat Endaru mengendong putranya Ryan ia tidak menangis tapi saat di gendong Ryan malah menangis kencang sekali bahkan sampai suster datang mengecek pasien.
Setelah mengunjungi Mega, Adhisti dan Endaru kembali pulang. Sedangkan Endaru berkerja seperti biasanya tanpa di dampingi Ryan.
Endaru memukul kepalannya beberapa kali merutuki kebodohannya yang lalu, andai ia tidak melakukan operasi itu pasti sekarang ia juga menimang seorang anak.
"Pasti jika punya sendiri, sangat lucu dan menggemaskan. Tapi ... sudah dari pada pusing selama kami berdua baik-baik saja, baik hubungan dan tubuh kita." Endaru menyemangati dirinya sendiri.
Endaru berkerja sampai lupa waktu padahal siang tadi saat bertelepon dengan Adhisti mengiyakan jika dirinya akan makan, namun sampai pukul 7 malam ia belum juga makan. Pikirannya kacau balau, bagaimana jika dirinya benar-benar tidak dapat memberikan Adhisti seorang anak dalam rahimnya, apakah ia akan meninggalkan dirinya dan mencari laki-laki lain yang bisa memberikan keturunan.
"Aru, kamu lembur malam ini?" Adhisti membawakan masakan yang ia masak di rumah, sederhana hanya sayur asam dan lauknya saja serta sambal.
"Tidak, tapi ...!" matanya berkaca-kaca.
Adhisti bertanya-tanya, ada apa sih dengan Endaru kenapa dia secengeng ini sekarang. Bentar-bentar nangis terus ngambek yang paling parah suka makan yang aneh-aneh.
"Tapi apa?" meraih tangan Suaminya dan menepuknya pelan.
"Aku pengen punya anak," Endaru memeluk erat tubuh Adhisti.
Deg
Jantung Adhisti berhenti sebentar, anak. Endaru ingin seorang anak, hatinya menjadi terluka tanpa darah. Selama ini dirinya melakukannya dengan Endaru tanpa menggunakan pil penunda kehamilan, tapi kenapa sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda dirinya tengah berbadan dua.
"Iya aku juga sama Aru, kita berdoa sama-sama ya." Adhisti masih tersenyum, padahal dalam hati ia tersenyum getir dan pahit.
Jika memang garis hidupnya tidak memiliki keturunan, ia hanya bisa pasrah sambil berdoa. Mungkin Yang Maha Kuasa belum memberikan dirinya dan sang suami kepercayaan untuk merawat seorang anak, selain itu pasti Allah akan menggantikan sesuatu yang lebih lagi. Berdoa dan menikmati kehidupan dan anugerah yang diberikan oleh Allah.
"Maafkan aku sayang." Endaru berbicara samar-samar tapi Adhisti masih mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Maaf karena apa?" bingung sendiri.
"Andai aku tidak menyuruhmu minum obat itu pasti kita sekarang bahagia memiliki seorang anak, maafkan aku sayang!" mengusap perut Adhisti yang tertutup dengan gamisnya.
"Iya, tidak apa-apa Aru. Ayo makan dulu, pasti kamu belum makan kan." Tebak Adhisti.
Endaru mengangguk dan langsung membuka mulut.
"Suapin ... hak," membuka lebar-lebar mulutnya.
Adhisti langsung menyendok nasi dan sayur tersebut lalu menyuapkannya pada Endaru, bahkan rasa sayur asam saja terasa manis di tambah sambal yang bahkan rasanya tidak pedas sama sekali. Endaru berusaha menelan makanan itu, tapi guratan sedihnya tidak dapat membohongi wajahnya.
'Semoga kamu segera hadir nak di dalam perut Mama, Mama tidak mau membuat Papa kamu kecewa. Please ... hadir ya di perut Mama.'
Adhisti hanya bisa berdoa dan berdoa setiap hari dan waktu, memohon agar di berikan seorang anak.
Setelah menyuapi Endaru, Adhisti menutup bekal yang ia bawa dan membereskan meja yang berantakan, ia mengelap dengan tisu basah agar tidak ada bau yang menempel. Ia tau betul jika suaminya tidak suka ada bau-bauan selain pengharum ruangan.
"Sayang, aku bereskan dulu sebentar saja ya pekerjaanku ini." Endaru segera menyelesaikannya setelah Adhisti mengangguk sambil menunggu suaminya menyelesaikan pekerjaannya.
Ponsel yang Adhisti gunakan sedari tadi ada pesan masuk entah dari siapa pengirimnya namun ia sedikit heran, dari mana orang ini tau nomornya. Apakah ini seorang penyadap yang hendak menyadap Endaru tapi melalui ponselnya, tidak ... pasti bukan dari penyadap melainkan dari orang yang pernah ia temui sebelumnya.
Endaru mengerenyitkan dahinya, penasaran apa yang sedang di pikiran Adhisti sampai-sampai mengabaikan pertanyaan dari dirinya.
"Adhi sayang ... ayo pulang. Apa ponselmu itu lebih tampan dariku?" manja lagi bahkan mengusap pipinya di lengan gamis Adhisti.
"Iya!" kesal sekali, saat sedang berpikir tiba-tiba di ganggu. Bikin pikiran ambyar gak karuan jadinya.
***
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yang baik ya biar Emak semangat berkarya. Terimakasih, untuk hari Senin jika suka krya Emak boleh ya kasih vote atau hadiah.
Salam sayang dari Emak.