
...SELAMAT MEMBACA...
Adhisti tersenyum kaku, sekarang pikirannya bercabang lagi.
"Tidak, apa-apa tuan." Adhisti membersihkan tempat Endaru berendam di dalam bath tub sebelumnya ia membalikkan tubuh lantaran malu melihat Endaru yang berdiri tanpa adanya sehelai benang di badannya.
"Adhi, bisa tidak saat berbicara jangan menyebutku dengan sebutan tuan. Terkesan aku ini penjahat tau," tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba berucap demikian sangat membuat Adhisti terkejut bukan main, semoga ini nyata dan bukan seperti mimpi tadi malam.
Adhisti mencubit lengannya sendiri.
"Aw ... sakit ternyata, berarti bukan mimpi." Gumam lirih Adhisti sambil berjalan di belakang Endaru menuju ruang ganti dan gumaman Adhisti masih dapat di dengar dengan jelas oleh Endaru.
"Harusnya seperti apa tuan, bukannya benar adanya jika saya harus memanggil anda dengan sebutan tuan, sebab anda yang menyelamatkan saya tuan?" Adhisti memperjelas awal ia berada di tempat ini.
Endaru menganggukkan kepala.
Dan segera membalikkan tubuhnya dan meraih pipi kiri Adhisti sambil berbisik.
"Aku ingin kamu panggil dengan sebutan Aru, nama kesayangan yang di berikan almarhum Mama, dan jangan pakai kata saya pakai saja sebutan kamu dengan aku itu lebih enak dan nyaman. Biar tidak terlalu formal jika hanya kita berdua Adhi." Endaru mencium kembali bibir mungil Adhisti yang membuatnya candu sejak malam panjang itu.
Cup
Cup
__ADS_1
Cup
Mungkin sekarang belum ada kata cinta yang tersemat, tapi yakin suatu hari nanti kata cinta di keduanya akan terjadi bersama. (kalau Emak menghendaki wkwkwk)
"Em ... baik tuan eh Aru, maaf aku terlupa," Adhisti menutup mulutnya takut terkena penyedot debu.
"Nah, begitu kan enak jadinya. Kenapa tidak dari dulu saja kita bicara seperti teman, apalagi Lo gue ...." Ucapan terpotong Adhisti.
"End," sambil tangannya membentuk seperti pisau di leher.
"Nah, itu Lo tau jawabannya Adhi." Sambil menampilkan gigi putihnya.
Adhisti tertegun dengan gigi Endaru yang sedikit ada taring di keduanya, baru kali ini ia mengamati gigi seperti drakula itu.
"Mesum," menggenggam erat jari telunjuk Adhisti.
"Siapa yang mesum? kamu kali." Elaknya lagi.
"Bukannya kamu juga mesum, saat aku menutup mata kamu bertindak tidak senonoh kan pada tubuh atletisku ini," hendak membuka ponselnya dan menunjukkan rekaman suara Adhisti.
"Stop ... stop ... stop ..., sedikit-sedikit mengancam pakai itu. Apa tidak ada yang lain." Adhisti berdecak pinggang.
Menggeleng.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya ini senjatanya! lagian jika kamu aku tantang dengan adrenali seperti panjat tebing berani gak?" menantang Adhisti, ia yakin jika dia tidak bisa.
"Baik, kapan tantangan itu terjadi?" balik menantang.
'Wah ... benar-benar suatu kejutan lagi dan lagi, selain membuat orang tambah kagum padanya apa lagi.' Endaru tersenyum-senyum sendiri.
"Ayo, bersiaplah." Endaru segera mengenakan pakaian yang biasa ia gunakan untuk panjat tebing.
Dan juga memilihkan pakaian yang pas untuk Adhisti, setelah memakainya Adhisti di lihat terus menerus oleh Endaru. Bentuk body Adhisti sangat menonjol baik bagian dua benda yang indah dan lekukan pinggang dan pantatnya.
"Dasar penggoda seperti wanita jal4ng." Ledeknya bersemu merah.
"Penggoda dan jal4ng inilah yang mampu menggoda seorang laki-laki kejam dan dingin seperti kamu," Adhisti tidak mau kalah, lagian mulai sekarang ia adalah orang yang paling dekat dengannya jadi sedikit ngelunjak tidak apa-apa kan asalkan pada batasnya.
"Hey, nona. Aku tidak dingin dan kejam ya, aku baik hati dan lembut ko. Apa kamu lupa kejadian tadi, di mana aku kejamnya. Aku tanya?" Endaru mengingatkan akan percintaannya tadi.
Memang benar Endaru melakukannya dengan penuh cinta dan penghayatan, sampai-sampai ia menikmati kehangatan dalam rahimnya.
"Tuh, wajah memerah lagi. Pasti membayangkan yang baru saja terjadikan." Meledek lagi.
"Apaan sih, enggak ya jangan kira aku membayangkan percintaan kita tadi," berjalan cepat mendahului Endaru yang masih tertawa.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1