
...SELAMAT MEMBACA...
Endaru berjalan ke balkon untuk mengambil udara segar, sepertinya lari pagi keliling rumah sangat bagus dari pada berdiam diri dan menghabiskan satu batang rokoknya.
"Lari pagi deh, sambil nunggu dia selesai mandi." Endaru berganti kostum pakaian training untuk pagi ini.
Adhisti masih di dalam kamar mandi sambil berendam air hangat, tubuhnya sangat rileks sekali pagi ini.
"Buka sedikit saja deh, siapa tau ada bintang jatuh atau bisa lihat matahari langsung pagi yang cerah."
Ia sedikit membuka gorden jendela dari kamar mandi sedikit saja, ia tidak berani membuka seluruhnya meski badannya tidak terlihat dari luar namun ia malu, seperti telanjang di depan umum. Masa iya mempertontonkan tubuhnya di luar tanpa sehelai benang menutupi area sensitifnya, dapat sensasi iya malunya bahkan mendarah daging bagi Adhisti.
•
•
Di rumah Mega dan Ryan.
"Kenapa pagi-pagi sudah berangkat sih, jadi sendirian di rumah." Mulai protes lagi Mega pagi ini.
__ADS_1
"Bebeb, kamu harus paham ya beb. Aku mohon sangat ke kamu dan anak kita yang kamu kandung, aku berkerja dengan Endaru dari nol dan saat ini ada masalah di kantor. Jadi supaya permasalahannya cepat selesai aku harus berkerja giat pagi ini, aku berangkat ya beb," jawabnya panjang lebar dan di iringi ciuman di kening dan bibir.
"Hati-hati beb, jangan lupa berdoa." Mengingatkan Ryan sambil mengangkat kedua tangannya.
"Siap Bebeb ku yang imut," tersenyum sambil melambaikan tangannya dan lalu masuk ke dalam mobil.
Ryan hampir sampai di rumah Endaru namun ia terkejut saat melihat ada mobil asing masuk ke pekarangan rumah Endaru, siapa dia atau jangan-jangan Papanya Endaru yang datang dan benar saja tidak lama setelah itu Papanya Endaru keluar kemudian di susul wanita dengan rambut sebahu, siapa lagi jika bukan Tisha wanita ganjen.
"Apa-apaan ini, tidak bisa. Posisi Adhisti harus aman dan tetap harus menjadi istri Endaru satu-satunya dan tidak boleh ada wanita lain, sekali pun Endaru masih menolak perasaannya pada Adhisti, hanya Adhisti yang cocok tidak ada yang lain." Ryan segera masuk ke dalam pekarangan rumah Endaru sambil mengepalkan tangannya.
•
"Adhi, aku mohon kamu jangan keluar ya." Sambil mencium kening Adhisti sangat lama, lalu ia menoleh.
"Tapi-- ," belum juga menyelesaikan protesnya Endaru sudah menjauhi Adhisti.
"Nita jaga dia, saya mau kamu awasi istri saya jangan sampai ia memaksa keluar." Ucap Endaru berlalu pergi.
Ruang tamu.
__ADS_1
Endaru terlihat masam saat menuruni anak tangga, betapa malasnya saat ia melihat wanita itu dan juga Papanya. Jangan bilang jika mereka berdua berkerja sama, sedangkan Ryan juga ada di tempat tersebut atau jangan-jangan mereka bertiga berkomplotan untuk menghancurkan Endaru sekarang.
"Ryan, ayo berangkat." Ajaknya yang sudah mengenakan jas kebesarannya.
"Siap," jawabnya dengan mantap.
"Oh ya ..., jika tidak ada hal lain saya harap anda berdua segera keluar dan meninggalkan kediaman saya, saya sibuk banyak urusan di kantor dan saya tidak mau terganggu pekerjaan saya nantinya." Sikap dingin Endaru membuat Malik dan Tisha tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
Setelah kepergian Endaru barulah Tisha berani angkat bicara.
"Om, apa benar Endaru sudah menikah? seperti yang Om ucapkan tadi saat saya di rumah anda tadi."
"Itu benar, dan kemarin ia mengenalkan istrinya pada Om. Om tidak dapat membantu, silahkan pulang dengan taxi saya masih ada pekerjaan yang perlu saya urus,"
'Anak dan Bapak sama saja, sama-sama dingin dan cuek serta sulit di atasi,' batin Tisha menggerutu.
Ternyata menaklukkan hati seseorang yang sudah lama ia tinggalkan tidak gampang dan cenderung susah.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1