Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
98. Hanya butuh kejujuranmu


__ADS_3

"Kamu, ngapain kesini?" tanya Adhisti dengan malas, padahal sudah lama tidak bertemu dengannya tapi kenapa malah bertemu di sini sih.


Reno tersenyum.


"Disini kan tempat ku berkerja, jadi bukannya wajar bertemu. Lagian kamu kenapa kesini? mana suami kamu itu." Reno menatap kesana kemari.


"Selamat siang Dokter Gerry." Sapa Reno dengan ramah.


"Siang juga Dokter Reno," Gerry dan Reno nampak akrab mungkin sebab profesi Dokter menyebabkan mereka terlihat akrab.


"Perkenalkan dia Reno, adik kandung saya yang baru bertemu ketika saya ada di kota ini." Gerry dengan bangga memperkenalkan Reno.


"Iya," Adhisti mulai bosan, kenapa orang-orang ini lagi dan lagi yang mengganggu kehidupannya, benar-benar dunia hanya sebesar daun kelor.


"Adhi, apa kamu pulang sendiri. Saya hantar ya mumpung saya sudah selesai berkerja ya hari ini." Reno menawarkan diri.


Adhisti memutar bola matanya dengan malas, bibirnya tidak setuju untung saja ia pakai masker. Tapi dari mana ia tau jika dirinya adalah Adhisti, oh ... iya ada Nita dan juga Tejo yang selalu menemani dirinya kemana-mana pastilah dia bisa menebak dengan benar.


"Maaf, tidak usah Dokter Reno. Ada Nita dan juga Tejo yang mengantar saya pulang, permisi ya," Adhisti segera pergi dan ia lupa jika Adinda yang masih belum sadarkan diri tengah menunggunya.


Gerry hendak menghalangi namun ada Reno di sampingnya, dengan terpaksa ia mengurungkan niatnya itu.


'Haduh ... nih anak kenapa muncul sih, niatnya mau meminta sehelai rambut atau meminta darahnya sedikit untuk tes DNA jadi gagal deh. Padahal kurang selangkah lagi aku bisa tau apakah dia putri kecilku dengan Adinda atau bukan. Jika curut ini tau bisa-bisa malah menggagalkan rencana, di tambah lagi ternyata mereka sudah saling kenal.' Gerry kesal sekali.

__ADS_1


Reno menatap malas sang kakak, pasti sang kakak punya maksud tertentu ini, tidak bisa ia harus melindungi Adhisti dari orang-orang yang berniat jahat. Atau jangan-jangan sang kakak ada rasa dengan Adhisti dan hendak menjadikannya madu Adinda dan memberikan Mama baru untuk Pangeran, tidak-tidak jangan sampai hal itu terjadi ia tidak setuju sekali dengan keputusan yang akan melukai sang kakak ipar yang sudah bersamanya sejak dari nol sebelum sang kakak Gerry jadi Dokter.


"Kak, jangan bilang kamu mau menjadikan dia istri mudamu. Ingat kak, jika kak Adinda sedang berjuang dan di tambah lagi kak Adinda lah yang membuat kakak bisa sesukses ini." Reno menatap tajam Gerry.


"Sembarangan bicara mulut kamu," memukul kuat lengan Reno, bisa-bisanya ia berpikir yang bukan-bukan tentang dirinya gila betul.


Bugh


"Aduh ... sakit kak, apa kakak mau aku laporin ke kepala Rumah Sakit biar terkena teguran dan skor?" mengancam lagi.


"Reno ... Reno ... dari kecil sampai jadi tua bangka seperti sekarang masih saja alasan lama yang di gunakan, apa tidak ada alasan yang lebih moderen gitu!" Gerry tertawa sendiri dalam hati.


Sisi ketegasan dirinya masih terpancar demi pekerjaannya, sebenarnya Gerry juga sosok lemah lembut dan penyayang namun ia tidak mampu menunjukkan itu bahkan pada istri dan juga anaknya setelah kejadian putri kecilnya hilang dan dan culik orang lain.


"Kak, boleh aku masuk sebentar lihat kakak Adinda?" sok imut dan memelas wajah tengiknya.


"Sana ... sana ...!" mengibaskan tangannya.


Kediaman Septian


Adhisti berjalan santai tanpa beban, padahal orang yang berada di dalam rumah sedang berkobar-kobar perasaannya.


Endaru menyilangkan tangannya di depan dada dan dia marah sambil memalingkan wajahnya, Adhisti melihat suaminya yang sedang ngambek ingin sekali mencubit kuat-kuat kedua pipinya yang imut itu.

__ADS_1


"Ngambeknya imut banget." Adhisti yang gemas langsung saja berlari dan mencubit kedua pipi Endaru, Endaru yang marah langsung mengungkung tubuh Adhisti secara cepat padahal ini masih di ruang tamu.


Dengan terpaksa semua orang yang berada di dalam ruangan itu langsung pergi dan melakukan pekerjaan lain yang bukan bidangnya dari pada kena semprot dan potong gaji perhari 5000 rupiah, kan sayang uangnya bisa buat beli kopi satu gelas.


"Kamu, memang harus dilakukan hukum sayang. Gak peduli di mana tempatnya, lebih baik di hukum di sini biar kamu tidak mengulangi kesalahan kamu yang sama." Langsung menci*um dahi lalu mata terus kedua pipi dan berakhir di bagian paling memabukkan yaitu bibir merekah Adhisti yang merah sekali.


Endaru melanjutkan aksinya namun terhenti saat melihat Adhisti mulai berkaca-kaca matanya, Endaru terpaksa menghela nafas dan menetralkan amarah sesaatnya.


"Ya sudah kalau begitu, di kamar saja yuk." Langsung mengendong dan masuk ke dalam lift, benar-benar boros listriknya.


Sesampainya di kamar mereka melakukan hal yang semestinya di lakukan sepasang suami istri pada umunya, dari gaya bebek, sapi, dan hewan lainnya. Tak lupa seluncuran dan kuda juga ikut bermain selain permainan olah raga sepak bola dan main karambol serta bilyard juga ikut serta.


"Maaf sayang membuat kamu ngambek dan marah." Adhisti mendongak dengan wajah penuh peluh dan juga seluruh badannya.


"Iya, tadi kamu pergi kemana sih Adhi?" Endaru memang curiga dengan istrinya, ia hanya ingin sang istri jujur dan tidak ada yang di tutup-tutupi jika ada masalah. Hanya kejujuran saja yang bisa membuat suatu hubungan rumah tangga itu hidup dan tidak terjadi kesalahpahaman yang berkepanjangan.


"Maaf Aru, tadi aku ... em ... aku ke rumah sakit. Maafkan aku Aru!" jawabnya tertunduk sedih dan ia benar-benar merasa sangat bersalah sebab lagi-lagi dirinya datang ke tempat yang seharusnya tidak ia datangi.


"Terus terang, aku kecewa Adhi. Sebagai seorang suami ternyata ucapanku tidak di laksanakan dengan baik oleh istrinya, apa kamu suka setiap hari kita seperti ini?" Endaru merasakan sesak di dalam dada.


"Maafkan aku Aru, aku janji tidak akan pernah datang ke sana lagi dan percaya jika Allah akan memberikan kita yang lebih baik!" berusaha menggenggam tangan Endaru tapi Endaru segera menariknya.


Adhisti sangat sedih dengan penolakan suaminya.

__ADS_1


***


Semoga tidak ada kata-kata yang salah atau menyinggung, terimakasih sudah meninggalkan jejak yang baik.


__ADS_2