
...SELAMAT MEMBACA...
Endaru tidak menyerah ia terus menerus mengetuk tapi tidak ada jawaban, apa Adhisti tidak mau melihatnya. Endaru mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celananya dan mengetik pesan pada Adhisti. Adhisti yang menerima pesan singkat dari Endaru membacanya saja tanpa membalas, Endaru yang melihat pesan singkatnya di baca merasa lega jika Adhisti tidak berbuat macam-macam di dalam kosnya.
💬 Sayang maafkan akuðŸ˜ðŸ˜ please sayang
Tidak ada balasan Adhisti sengaja mematikan ponselnya dari pada nanti ia melihat ponselnya dan jadi marah-marah sendiri. Lagian salah sendiri kenapa tadi membentak dan menjelek-jelekkan harga diri wanita, makanya jika berkuasa jangan sok-sokan dapat karma instan kan.
"Makan lagi saja, gara-gara kepikiran jadi lapar terus ini perut."
Adhisti mengambil nasi bungkus yang ia beli sebab tadi pagi gak sempat masak, selain itu ia malas menyentuh peralatan dapur baginya sekarang peralatan itu tidak akan tersentuh lagi hanya untuk sekarang detik berikutnya pasti di pakai lagi, Adhisti mencari panci untuk menghangatkan lauknya.
"Sudah selesai, cuci piring lalu baju dan terakhir kemas-kemas rumah." Sambil menepuk tangannya dari debu.
Adhisti mengira Endaru sudah pulang namun nyatanya ia masih stay di depan kos.
"Kenapa tidak pulang? pulang sana." Adhisti mengusirnya namun Endaru memegang perutnya yang sakit.
"Aduh, sakit Adhi. Tolong," merintih kesakitan.
__ADS_1
Adhisti menolong dan mengajaknya masuk, lalu Adhisti memberikan obat mag dan juga air putih dan roti.
"Ini makan dan minum, lalu pulanglah." Dingin sekali Adhisti.
Endaru menatap makan yang ada di depannya, sedih sekali Adhisti dingin padanya. Ia tau dirinya salah tapi kenapa masih di perhatikan oleh Adhisti bukankah ini menyakitkan di perhatikan namun tapi tidak dari hati lantaran hati kecewa berat.
"Adhi, maafkan aku Adhi." Ucap lirihnya sambil tertunduk menatap bawah meja.
"Selesai makan pulanglah, besok aku mau cari pekerjaan malam ini aku mau istirahat dengan baik untuk besok," bukan jawaban iya yang di dengar, Endaru benar-benar kalah sekarang.
Memaafkan tidak semudah orang meminta maaf, pantas saja jika dirinya selama ini sulit memaafkan Papanya meski tidak terjadi miskomunikasi dengan Malik.
"Baik Adhi, tapi satu yang harus kamu tau aku benar-benar mencintai kamu tapi aku menghargai keputusan kamu juga." Memberikan sebuah amplop.
"Apa ini?" membaca satu persatu yang ada di amplop itu.
"Rumah mewah dan lain-lain sebagai mahar dan sudah di alihkan atas nama aku, untuk apa nyogok gitu gak mempan. Lagian cuma lewat foto kopian yang di lipat, pasti nipu doang biar aku tertarik padahal aku satu persen saja gak tertarik. Lagian uang saat menikah waktu itu masih ada banyak ko bahkan buat beli rumah juga bisa." Melipat kertas tersebut.
Adhisti berjalan menuju kamar dan menyimpan kertas itu ke dalam tas dan berencana besok mengembalikannya pada Endaru. Sekalian memperingati Endaru agar tidak menggangu lagi buat apa berbicara dan bertindak manis sesaat jika ujung-ujungnya terluka lagi.
__ADS_1
Pagi hari.
Adhisti baru saja selesai melakukan rutinitas paginya mulai dari memasak lalu bersih-bersih dan yang terakhir adalah mandi lalu sarapan pagi.
"Alhamdulillah kenyang, meski hanya makan sayur SOP dan kerupuk saja." Adhisti bersyukur bisa makan seperti ini tidak seperti waktu di rumah Endaru segala macam makanan di siapkan namun tidak senyaman dan seenak ini.
💬 Adhi, selamat pagi cantik
Endaru mengirim pesan singkat namun Adhisti tidak tau sebab ia sudah berangkat mencari pekerjaan tapi sebelum itu ia membeli sepeda ontel untuk keliling sekitaran tempat tinggalnya jika tidak ada pekerjaan ia akan ke kota lagi.
Satu hari ia keliling sekitar pinggiran kota namun tidak ada satupun pekerjaan untuknya, tadi sebenarnya ada tapi Adhisti tidak mampu jika harus berkerja di tempat yang keras, meski di tempatkan di rumah tangga namun ia tolak sebab tempatnya jauh sekali itupun ia dapat informasi dari tetangga, lagi pula jika ia keluar kota mendadak menandakan dirinya sedang kecewa berat, ia tidak mau di samakan dengan tokoh-tokoh novel yang ia baca di ponselnya.
Di lukai si laki-laki lalu pergi pulang-pulang beberapa tahun kemudian dengan anak laki-laki yang cerdas dan pintar, tidak mau ini bukan identitas Adhisti yang sesungguhnya yang main kabut begitu saja kalau kejadian kemarin ia pergi sebab dirinya terhina begitu rendah oleh orang yang ia cintai.
Endaru menelpon Adhisti yang kebetulan Adhisti sedang minum air kelapa muda.
📞 Kenapa Aru? (masih menyebut dengan sebutan nama kesayangan, hati Endaru berbunga-bunga sekali mendengarnya)
📞 Aku ada di depan kosan kamu, tapi kata tetangga sebelah kamu belum pulang. Kami ada dimana? (terdengar sangat peduli dan hawatir)
__ADS_1
📞 Lagi menikmati air kelapa, jangan ganggu. Jika sudah gak tahan pulang saja jangan menunggu.
Adhisti mematikan sambungan telponnya begitu saja dari pada kesal berkepanjangan sebab berdebat dengan Endaru.