Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
43. Flash back


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Adhisti yang berada di dalam kamar hanya menonton drama China dan juga sambil makan camilan, Nita menolah saat Adhisti menawarinya makanan ringan. Walau bagaimana pun Adhisti adalah majikannya bukan sahabatnya dari kampung.


"Ayolah mbak Nita, temani aku makan camilan ini. Masa iya kamu membiarkan aku makan tiga toples ini, perutku gak muat mbak." Dengan memelas.


Nita bertanya-tanya.


'Haduh nona ini, ya kali masa iya tiga toples langsung sekali tenggak yang benar saja. Bukaannya membuat perut begah dan sakit jadinya kalau kebanyakan, ada-ada saja sikap konyol mbak Adhi ini. Pantas saja Pak bos makin peduli dan sepertinya cinta berat, dia istri yang polos dan menggemaskan. Jika aku laki-laki pasti aku akan mencari pasangan seperti mbak Adhi.' Rasa kagum Nita dalam hati.


"Maaf, saya tidak bisa mbak Adhi," sambil menyilangkan tangannya di depan wajah.


"Huft ..., ya sudah jika mbak Nita tidak mau, biarlah ... gaji yang berbicara ... biarlah dia yang menolak menerima pelukan dompet tuannya, biar ... uang yang memilih ... siapa yang jadi tuannya." Berbicara sambil bersyair.

__ADS_1


"Lah, mbak Adhi kenapa jadi bahas gaji sih mbak. Mentang-mentang besok tanggal gajian," pada akhirnya Nita pun kalah berbicara dengan Adhisti.


"Biarin. Cara satu-satunya yang ampuh jaman sekarang, kalau gak bahas duit gak gerak cepat." Sambil tersenyum penuh kemenangan.


Akal bulus seperti ini, memang sudah melekat pada diri Adhisti. Seandainya dulu ia tidak terjebak dan tidak berbuat apa-apa sampai menyangkutkan kedua orang tuannya pasti kedua orang tuannya masih ada.


Teringat masa lalu.


"Ibu ... Bapak .... Percaya sama aku, aku di fitnah aku tidak mungkin menyebut Ibu dan Bapak perampok, Adhi benar-benar tidak pernah bicara apa-apa. Adhi benarkan jika Adhi berbicara seperti ini, yang Adhi tau Ibu dan Bapak kerja di perusahaan itukan bukan perampokan?" sambil menangis di ruang ia bertemu kedua orang tuannya di sel tahanan.


Kedua orang tua Adhisti tersenyum, hendak bicara sejujurnya namun entah apa yang di makan kedua orang tuannya sampai-sampai kedua orang tuanya secara hampir bersamaan pingsan di tempat tanpa memberikan aba-aba.


Petugas kepolisian langsung menangani narapidana, sebab semua bukti memang mengarah ke pada kedua orang tuannya yang terlihat kalem lemah lembut dan pendiam dari luarnya saja, tapi tidak dalam segi akal bulusnya.

__ADS_1


Setelah di periksa oleh Dokter, ternyata kedua orang tua Adhisti terkena serangan jantung hampir bersamaan dan mengakibatkan kedua orang tuannya.


Usai mengurus pemakaman kedua orang tuannya yang langsung di kuburkan pada hari yang sama, banyak warga yang mencemooh Adhisti dan almarhum almarhumah orang tuannya dengan nada sinis.


"Orang seperti itu, memang pantas mendapat karmanya biar gak meresahkan desa ini dan gak buat malu, sepertinya jika mengusir keturunannya dari desa ini lebih baik. Ayo ... bapak-bapak ibu-ibu usir anak dari perampok Agus dan Ayu dari desa ini. Buat malu saja." Ucap salah seorang laki-laki yang berpawakan besar dan berisi banyak.


Kemudian ada juga yang berbicara.


"Usir dia, selain menyebabkan kedua orang tuannya meninggal di dalam penjara dan belum menyelesaikan hukumannya dari perbuatan tidak terpuji yaitu merampok, bukannya itu haram makanan dan semua perabot yang ada di rumah itu." Gantian seorang ibu-ibu bahkan Ibu dan Bapak RT RW juga mendukung warganya yang menjatuhkan harga diri Adhisti.


"Tidak ... tidak ... aku mohon kalian percaya saya bukan pembunuh Ibu dan Bapak, hu ... hu ... hu ... aku mohon kalian semua percaya dan jangan usir saya dari rumah ini." Adhisti bersimpuh namun dengan cepat para warga mengemasi barang-barang yang ada di rumah Adhisti dan yang lain memberikan tumpangan dengan membawa mobil buntung yang khusus untuk mengangkat barang-barang yang ada di rumah tersebut.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2