
...SELAMAT MEMBACA...
Endaru menyingkap selimutnya dan berjalan ke arah balkon dan menyalakan korek api dan mulai merokok lagi seperti hari biasanya ia menikmati rokok sebelum ia mandi.
Adhisti yang masih mandi ia sengaja berlama-lama sambil merendam tubuhnya di dalam bath tub yang besar dan nyaman untuk merilekskan tubuh yang lelah. Lagian juga ruangan ini seperti satu rumah yang di jadikan satu tanpa sekat kecuali kamar mandi yang ini, kamar mandi yang tembus pandang itu tidak berani ia gunakan, takut Endaru melahapnya hidup-hidup di tempat.
"Heh ... wanita ini, kenapa mandi saja satu abad lebih." Endaru mematikan putung rokok.
Ia berjalan ke arah kamar mandi, karena terlalu lama pada akhirnya Endaru terpaksa menggunakan kamar mandi tembus pandang yang ada di kamarnya, meski tembus pandang tidak semua badan terlihat hanya bagian bawah yang masih tertutup tapi tidak bagian yang atas.
Adhisti yang baru selesai mandi manjanya terkejut bukan main saat melihat pemandangan wah dari dalam kamar mandi tembus pandang itu.
"Tubuhnya, kenapa bisa sebagus itu. Apa dia sengaja menggoda dengan menghadapkan tubuhnya ke sini?" Gumam lirih Adhisti lalu berjalan ke arah meja rias.
Banyak skin care milik Endaru dan bukan miliknya, Adhisti tidak berani menggunakannya jika bukan perintah dari Endaru, ia hanya menggunakan pelembab harian yang biasa Adhisti gunakan.
"Kenapa cuma di lihatin, pakai saja." Suara Endaru terdengar lembut di telinga saat menawarkan produk skin care yang harganya mungkin buat Adhisti makan beberapa minggu tersebut.
"Tidak tuan, saya cukup dengan ini saja," Adhisti segera kabur dan lebih memilih duduk di sofa kebesarannya untuk mengenakan pelembab harian miliknya.
__ADS_1
"???!!!" Endaru mengangkat kedua bahunya, kali ini ia tidak mengenakan handuk sepinggang melainkan jubah handuk yang memperlihatkan dada seksinya.
Sarapan pagi.
Adhisti sangat tidak nyaman mengenakan pakaian seperti ini, di tambah lagi bagian belakang rok yang ia kenakan terlihat menggoda mata telanjang.
"Kenapa?" Endaru melanjutkan makannya dan tidak terlalu memperdulikan pakaian yang di kenakan Adhisti.
"Em ... tuan, kenapa saya harus pakai pakaian ini? apa saya akan berkerja hari ini?" Adhisti bertanya dengan hati-hati takut Endaru tersinggung dan marah.
"Hem ...!" jawaban yang sungguh mengecewakan sekali.
Adhisti menggerutu dan duduk dengan terpaksa saat sarapan pagi.
"Jangan balas dendam ke makanan, kamu kira orang lain tidak butuh makan apa. Masih banyak tuh di luaran sana butuh makan, selagi ada harus di hargai bukan di seperti itukan." Endaru tidak menyukai hal seperti ini, selain suara berisik dari piring itu ia juga tidak suka ada orang lain makan dengan cara orang kurang bersyukur dalam hidup.
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud demikian. Hanya saja ...," Adhisti tidak berani membahas perihal pekerjaan apa yang ia terima nanti, apakah sebagai OG atau tukang bersih-bersih atau tukang pijat pundak Endaru. Entahlah yang jelas ia sepertinya mau di siksa pelan-pelan oleh tuan yang membelinya.
"Hanya apa? mau menanyakan pekerjaan kamu nanti. Saat sudah sampai nanti kamu bakalan tau sendiri." Jelasnya dengan lantang dan melanjutkan sarapan paginya yang tertunda sebentar.
__ADS_1
"Baik tuan," Adhisti bersikap patuh pada tuannya padahal dalam hati jika ia ada keberanian ia ingin mengumpat dan menolak semua perintah Endaru dengan tegas dan berani.
'Heh ... mau memberontak tapi takut, lucu sekali si mungil ini. Nanti coba aku kerjain saja saat di kantor seperti apa ekspresi kesalnya padaku?' Endaru tersenyum-senyum sendiri tapi segera ia normalkan ekspresinya itu.
Adhisti hanya mengekori Endaru saat Endaru sudah berada di dalam mobil.
"Lambat, apa tidak bisa itu kaki berjalan lebih cepat lagi." Endaru yang berada di dalam mobil sudah menunggu sampai bosan.
'Dasar tuan buta, apa dia tidak melihat kaki pendekku ini yang terpaksa pakai heels yang menyebalkan ini.'
"Kenapa tidak menjawab, kenapa lambat sekali jalannya?" pertanyaan di lontarkan lagi.
"Sepatunya tidak nyaman dan susah untuk berjalan tuan, apa tuan tidak melihat ini lebih dari sepuluh sentimeter!" jawabnya memang benar sepatunya begitu tinggi.
"Alasan." Endaru segera melajukan mobilnya.
Baru kali ini Adhisti menatap Endaru yang sedang mengemudikan mobilnya. Rahang tegas dan wajah tampannya sangat memikat sekali, tapi kemudian tatap Adhisti terpotong saat Endaru sekilas meliriknya dengan ekor mata Elangnya.
"Jaga itu mata jika masih mau melihat dunia." Endaru tidak suka jika ada orang yang menatapnya seolah-olah dirinya mangsa yang empuk dan nikmat.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
...Terimakasih sudah tinggalkan like dll untuk Emak....