
...SELAMAT MEMBACA...
Adhisti menangis dan masih memohon agar tidak mengusir dirinya yang masih sekolah dan sebentar lagi lulus SMA.
"Beri saya waktu beberapa bulan saja, saya mohon pada kalian semua biar saya dapat ijasah SMA dulu baru saya pergi dari Desa ini." Bersimpuh di bawah kaki Bapak RT dan RW namun tidak di tanggapi malah menyuruh beberapa orang untuk menyeretnya keluar dari Desa ini.
Sungguh malang nasib Adhisti, tidak tau apa-apa tadi di sebut-sebut menyebabkan orang tuanya masuk penjara dan meninggal di penjara. Pada akhirnya dia di usir keluar dari desa ini, berita ini tersebar di mana-mana karena Adhisti ingin maju dan menjalani hidup dengan baik dan menjauh dari kerumunan masyarakat dan tidak lupa ia mengenakan masker untuk menutupi wajahnya terutama bagian hidung dan mulutnya.
Flash back selesai
•
Adhisti menatap cek yang ia masukkan ke dalam dompet kecil, di dalamnya ada foto dirinya bersama dengan kedua orang tuannya waktu itu ia lulus dari SMP dan ada juga waktu ia berumur 17 tahun yang artinya foto yang di ambil 4 tahun yang lalu.
"Rindu dengan mereka ya mbak Adhi, pulang saja mbak ke rumah mbak pasti mereka sangat merindukan putrinya pulang ke rumah mbak." Nita yang masih ada di samping Adhisti.
__ADS_1
Adhisti tentu saja terkejut, lamunannya tadi membuat ia secara tidak sadar jika di sampingnya masih ada orang lain yaitu Nita, orang kepercayaannya semenjak ia datang di sini sambil menggenggam erat peta di tangannya pada saat itu.
"Mereka sudah tiada mbak, empat tahun yang lalu lebih tepatnya," Adhisti menghela nafas panjang.
"Maaf, mbak Adhi. Saya benar-benar tidak tau jika orang tua mbak Adhi sudah tidak ada."
Nita merasa sangat bersalah akan hal ini, kenapa dia tidak tau jika Adhisti tidak memiliki orang tua, ia hanya tau bosnya membeli Adhisti dan menyuruh dirinya untuk berada di samping Adhisti selalu dan melaporkan apapun itu tentang apa yang di lakukan Adhisti di rumah ini.
"Tidak apa-apa mbak Nita, tapi-- aku takut kesana mbak Nita! mereka menolak kedatangan aku dan berjanji akan merantai aku ke hutan belantara mbak, aku takut jika itu terjadi takut tidak bisa melihat mereka di tempat peristirahatannya yang terakhir!" jawabnya tertunduk sedih.
Luar biasa sakitnya menjadi Adhisti, ingin bertemu dengan kedua orang tuannya yang sudah meninggal tapi tidak di izinkan bahkan dengan ancaman seperti itu. Nita pikir saat Adhisti di jual kekasihnya dan di beli oleh Bosnya adalah yang paling parah yang pernah ia tau, tapi siapa sangka jika kepedihan hidup Adhisti lebih pedih lagi sebab ia kehilangan kedua orang tuannya dan tidak di izinkan menemui padahal itu makam orang tuanya yang sudah membesarkannya.
Lagian Endaru selalu sibuk di kantornya dan juga ada masalah di sana. Adhisti tidak berani untuk bertanya apalagi ikut campur dalam masalah yang seharusnya tidak ikut campur.
Seseorang sedang mendengar percakapan Nita dan Adhisti, ia tersenyum sambil memikirkan caranya untuk memisahkan mereka berdua nanti dengan strategi yang matang.
__ADS_1
'Sepertinya ini jalan satu-satunya untuk memisahkan mereka.'
Orang yang menguping segera berjalan menjauhi area, tidak sia-sia ia datang ke tempat ini dan berjalan-jalan tidak sopan di rumah Endaru di bagian lantai atas tersebut.
"Tapi aku tidak berani mbak Nita, lagian ...," menggantungkan bicaranya.
Nita menepuk punggung tangan Adhisti.
"Mbak Adhi, coba saja dulu. Mungkin Pak bos bisa mengabulkannya." Meyakinkan Adhisti supaya tidak ragu tentang bos yang ia ikuti sejak beberapa tahun yang lalu.
Adhisti tersenyum.
"Iya, nanti aku bicara padanya mbak Nita. Aku lelah, bolehkah mbak Nita meninggalkan saya sendiri?" mengerutkan dahinya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Silahkan mbak Adhi, saya permisi!" dengan hormat Nita berjalan keluar menjauhi tempat tersebut.
__ADS_1
Saat keluar ia menemukan sesuatu yang mencurigakan, benda kecil. Nita mengambilnya dan memasukkannya ke kantong celananya.
...BERSAMBUNG...