
...SELAMAT MEMBACA...
Ryan segera mengajak istrinya untuk melihat-lihat sekeliling mall tapi ia menolak dan lebih memilih pulang saja lagian kali sepertinya bengkak, terasa sekali sakit untuk berjalan.
Endaru menuju ke tempat kos Adhisti tapi lampunya masih padam dan artinya dia belum pulang tapi bisa jadi sudah tidur tapi maklum nya orang tidur biasanya tidak secepat ini masa baru pulang langsung tidur tanpa kegiatan ini itu sedikit, rasanya gak mungkin sama sekali.
Endaru yang baru kepikiran menelpon Adhisti, tapi tidak segera di jawab oleh Adhisti dan membuat Endaru semakin hawatir saja bawaannya.
"Kamu berada di mana sih Adhi, jangan buat gue hawatir kenapa sih?" melihat kesana kemari namun tidak ada tanda-tanda Adhisti di sekitar tempat tinggalnya.
Adhisti menatap ponselnya yang sedari tadi berdering dan membuat telinga tidak nyaman untuk mendengarnya.
📞 Apaan sih, ganggu tau. (Ketus Adhisti)
📞 Eh kok nyolot sih Adhi, aku hawatir tau. Kamu ada dimana? biar aku susul sekarang, (Endaru menawarkan diri)
📞 Di tepi danau.
📞 Oke, aku susul segera jangan pergi ya,
__ADS_1
Adhisti mendengar suara cium jauh dari ponselnya.
"Biarkan saja dia kesini, lagian untuk apa berlari-lari dari kenyataan membuat lelah hati pikiran dan jiwa raga." Adhisti berjalan-jalan sambil menunggu Endaru datang.
Taxi yang ia pesan juga sudah ia suruh pergi tadi usai sampai di danau.
Tidak ada 15 menit Endaru sudah sampai tempat tujuan yaitu Danau pelangi, danau buatan meski begitu pemandangannya sungguh mempesona seperti orang-orang yang mengunjunginya, tapi di antara kerumunan hanya satu orang yang paling mencolok yaitu sang pujaan mantan istri sirinya.
"Adhi." Memanggil dengan nada lembut dan penuh cinta.
Adhisti menatap ke sumber suara, suara ini yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang tidak menentu. Apakah benar perasaan ini tak dapat di pungkiri lagi jika dirinya juga masih ada rasa cinta sampai sekarang, meski sempat kecewa sebab ia melepaskan ikatan tali pernikahan itu tanpa alasan yang jelas.
"Apa kamu takut di tempat ini, jika takut aku bisa jadi tempat kamu bersembunyi dan bersandar." Menunjukkan dada bidangnya.
"Tidak, lagian ramai orang kenapa mesti takut," dengan percaya diri penuh ia berucap, padahal sesungguhnya nyalinya menciut saat mendengar sesuatu entah itu suara hewan ataupun langkah kaki yang sangat asing baginya.
"Sungguh???" rasanya hampir tidak percaya jika wanita di sampingnya tidak takut.
•
__ADS_1
"Kenapa diam." Endaru menatap rona wajah Adhisti.
"Aru, selama ini apakah kamu tidak pernah mengunjungi Papa kamu?" antara takut tapi juga penasaran pada akhirnya Adhisti memberanikan diri untuk bertanya.
"Jangan bahas pria itu, dia begitu jahat telah melukai hati istrinya dengan menduakan nya padahal Mama waktu itu sedang mengandung adikku!" terlihat sedih dan terluka sekali hatinya.
"Tapi Aru, kamu juga melakukan hal yang sama dengan melukaiku tanpa sebab. Kamu melepaskan aku begitu saja tanpa sebab Aru." Adhisti mengeluarkan unek-uneknya.
"Jadi, selama ini kamu mencintai ku Adhi? apakah tebakanku benar, kamu mencintaiku maafkan aku Adhi aku tidak bermaksud menyakiti kamu tapi jika aku tau sejak awal pasti aku tidak akan membatalkan pernikahan kita, ayo menikah Adhi. Kita bangun rumah tangga kita dengan baik dan benar serta saling melengkapi kedepannya," melamar Adhisti.
"Pacaran saja dulu, takut gagal nikah tiba-tiba kamu layangkan surat cerai." Ngedumel namun terdengar jelas sekali.
Endaru mengacak-acak rambut Adhisti dengan gemasnya.
"Bukannya lebih baik pacaran setelah menikah lebih barokah dan tentunya Halal sentuh sana sini, atau kamu lebih suka di sentuh tanpa adanya ikatan yang suci?" jawaban dan pertanyaan dari Endaru memang benar, seharusnya pacaran setelah menikah bukan pacaran sebelum menikah.
Semua orang pasti menginginkan hal baik di dalam kehidupannya baik itu jodoh maupun yang lainnya, memilih dan memastikan semua hal yang ada dalam diri pasangan masing-masing untuk mencegah terjadinya sesuatu yang di sesali usai menikah dan menjalankan bahtera rumah tangga.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1