Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
13. Semakin perhatian


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Tapi, tuan. Area bawah milik saya keluar dengan derasnya." Adhisti berusaha menetralkan gejolak dalam dirinya padahal ia juga menginginkan sentuhan yang lebih lagi sekarang.


"Bilang saja mau yang lebih," Endaru tersenyum devil.


Adhisti tidak menuruti Endaru yang ada perutnya semakin keram karena ulahnya.


"Em ... tuan, stop. Perut saya kram tuan." Adhisti mengeluh kesakitan di bagian bawah perutnya dan meringis kesakitan.


"Benarkah sesakit itu? kamu ... diam di situ aku ambilkan air hangat untuk mengompresnya," perhatian Endaru seperti ini membuat Adhisti salah sangka saja.


Endaru berjalan ke arah dispenser yang ada di ruangan ini untuk mengambil air hangat, ia mengambil hot water bag atau warm water zak untuk mengompres perut Adhisti yang sakit karena datang bulan.


Kemudian ia menekan dispenser itu untuk mengambil satu gelas air hangat, setahunya dulu saat almarhum ibunya masih ada saat datang bulan pasti meminum air hangat, maka dari itu Endaru tau jika wanita sedang datang bulan sangat membutuhkan ini apalagi jika dalam keadaan darurat alias krisis pengeluaran bulanan.


"Buka baju kamu." Perintahnya sambil memberikan air putih hangat pada Adhisti.


"Saya malu," Adhisti enggan membuka bajunya.

__ADS_1


"Kamu buka sekarang atau saya bukakan?" Pertanyaan Endaru tidak ada pilihan sama sekali.


"Baik!" dengan malu-malu Adhisti membuka perutnya yang sedikit membuncit.


"Puft ... beberapa hari tidak melihat dengan benar-benar kenapa jadi ada lemak di sini?" Endaru menunjuknya lalu meletakkan hot water bag di bagian perut Adhisti yang kram.


"Bukannya itu gara-gara ulah Tuan yang suka masuk dan membuat perut saya mengembung, untung saya datang bulan, jika tidak!" Adhisti tidak melanjutkan bicaranya.


Andai itu terjadi dan dia hamil, apakah Endaru mau bertanggung jawab? Itu rasanya sangat mustahil terjadi, seorang Endaru punya istri yang asal usilnya buruk pasti tidaklah mau apalagi ia pernah di tuduh dan di usir dari kampungnya karena pembawa sial untuk desanya itu. Keluarga Septian pasti menginginkan bebet dan bobot jelas dan tidak abu-abu seperti Adhisti sekarang.


"Jika tidak apa? kamu hamil begitu?" Endaru menyambung ucapan Adhisti. "Jika hamil ya nikah resmi saja!" Endaru meninggalkan Adhisti yang masih termenung di sofa.


'Di pikirkan nanti saja, jika tidak di restuin ya sudah tinggal buat bayi dulu sebelum itu. Lagian Adhi juga istri sah ku meski kamu belum menikah secara resmi di Negara dan belum memiliki buku nikah.' Endaru menatap ponselnya ia mengirim satu pesan singkat pada Papanya yang bernama Malik Septian.


✉️ Aku mau menikah Pa, jika Papa tidak suka dengan calon istriku maka Papa tidak usah datang ke acara pernikahan kami.


Malik yang mendapat pesan singkat ini hanya tersenyum saja.


✉️ Dasar anak nakal, menikah tidak berbicara dulu dengan Papa. Apa kamu anggap Papa ini tidak tau jika kamu sudah satu rumah dengannya.

__ADS_1


Endaru yang menerima pesan itu langsung memelototkan matanya.


"What ... Papa sudah tau, damn siapa penghianat yang ada di rumah ini?" Endaru murka tiba-tiba, ternyata rumah ini ada seorang mata-mata yang berkerja sangat baik.


'Siapa yang berani memata-matai rumah ini? atau jangan-jangan istri mungil itu yang memberi tau semua.' Pertanyaan itu berputar-putar dalam pikirannya.


"Adhi." Panggilnya menatap dengan marah.


"Iya Tuan, ada apa?" Adhisti tersenyum.


"Apa kamu pernah bertemu dengan laki-laki paruh baya yang mirip dengan saya?" Endaru memastikan jika kecurigaannya salah.


Adhisti menggelengkan kepalanya. "Saya tidak pernah menemui orang tua Tuan, lagian bukannya Tuan tidak mengizinkan saya keluar setelah insiden kaki saya terkena batu pada malam itu, bahkan anda melarang saya turun dari lantai ini ke lantai bawah tuan!" jawaban Adhisti ada benarnya juga.


"Hem ... kamu lanjutkan tidur saja." Endaru mengambil laptopnya dan mengecek CCTV yang ada di rumah ini.


Endaru mengepalkan tangannya. Ternyata orang ini biang keladinya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...Dukungannya mana nih, Emak sedih gak ada yang minta up ke Emak....


__ADS_2