Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
91. Rebutan Endaru


__ADS_3

Pagi hari


Adhisti menyiapkan air hangat untuk Endaru mandi bukan mandi tapi mengelap badannya, sebab hari ini ia mau terapi meski terapinya di rumah.


"Aku bantu bersihkan ya." Menawari namun di tolak oleh Endaru.


"Jangan, kasihan jika ada yang bangun. Mendingan kamu siapin makanan buat aku, pengen makan masakan kamu," manjanya gak ketulungan.


"Oke kalau begitu, semangat ... Aru semangat bersih-bersihnya." Mengepalkan tangannya sebahu sambil memberi semangat.


"Siap," dengan hormat ia segera membersihkan badannya, sebab semenjak ia di villa sudah bisa dengan dirinya sendiri sebab ia tidak suka jika ada orang lain yang menyentuhnya.


Melati menatap cucu menantunya, kenapa sudah keluar kamar apa ia tidak membantu suaminya membersihkan diri atau apa gitu yang biasanya di lakukan anak muda, pasti tau lah apa maksudnya.


Ia menatap sekitar leher jenjang Adhisti sampai tulang selangka, tidak ada kemerahan dimana kemerahan yang ada atau sudah di tutupi dengan baik dan rapi areanya dengan foundation.


"Adhi, apa kamu tidak melepas rindu semalam?" pertanyaan Melati langsung membuat badan Adhisti membeku di tempat.


"Melepas rindu bagaimana Oma, Adhi gak ngerti Oma!" wajahnya merona.


Ingin sekali Melati tertawa namun ia tahan, lucu sekali dia ini saat di tanyai masalah anak muda. Melati pun akhirnya mengajak Adhisti lomba membuat sarapan pagi untuk Endaru, namu tidak boleh roti atau camilan yang di buat.


Endaru yang sudah selesai membersihkan diri menatap ke arah pintu, kenapa istrinya lama sekali di dapur. Ia teringat jika memasak makanan tidak secepat masak mie instan, ia menunggu dengan senang hati sambil menatap kedua kakinya yang di perban.


Ia mencari ponselnya namun tidak ada, ia lupa jika ponselnya sudah hancur berkeping-keping saat kecelakaan naas yang menyebabkan banyak korban termasuk dirinya sendiri, entah selamat atau tidak yang ia tau dirinya sendiri yang selamat sampai detik ini. Ia juga tidak tanya pada Ryan begitu juga Ryan tidak membahas, sebab disini Endaru korban kecelakaan beruntun.

__ADS_1


Ia menatap di atas laci ada ponsel Adhisti terdengar suara notifikasi, entah pesan masuk atau apa yang jelas ponsel itu berbunyi nyaring beberapa kali lalu belum juga melihat siapa yang mengirim pesan ada panggilan masuk.


"Kak Mega." Gumam lirih terus kenapa ia telpon Adhisti pagi-pagi, jangan bilang alasan ngidam lagi. Sudah gak mempan alasan lama jika iya.


Endaru mengangkat telpon itu.


📞 "Adhi ... hu ... hu ... hu ..., temani aku jalan-jalan. Ryan jahat tadi malam ia berbohong padaku Adhi, hua ...." Berbicara terus padahal yang menjawab telponnya bukan Adhisti.


📞 "Jahat kenapa? gak di kasih jatah tadi malam?" pertanyaan ketus Endaru.


📞 "Loh, ko kamu sih Endaru yang jawab. Mana Adhi, aku mau bicara padanya. Awas saja kalau dia kamu buat gak bisa jalan hari ini!" (sambil mengancam)


📞 "Maaf ya neng, gue gak sebej4t itu juga kali."


Endaru tidak terima jika di sebut demikian meski ia selalu lepas kendali saat di samping istrinya tapi tidak sampai begitu juga, sakit plus dempor juga jika benar-benar melakukannya.


📞 "Gak percaya ya sudah."


Mematikan telponnya sepihak.


Mega yang kesal langsung ngambek, ia berjalan dan mencari sopir di rumah untuk mengantarkannya ke rumah Endaru. Rasanya sangat rindu pada Adhisti, padahal baru juga ketemu beberapa hari yang lalu tapi menurut dirinya seperti berbulan-bulan saja gak ketemu.


Di dapur.


Melati dan Adhisti memasak bersama, suara gaduh dua wanita yang bermain di dapur hampir merobohkan semua isi dapur yang ada, para pembantu hanya bisa tersenyum getir sambil mengucap sabar banyak-banyak supaya nanti di beri kekuatan saat membereskan kapal pecah di dapur.

__ADS_1


"Kita harus sabar ya, Nita?" tanya Tutik pada Nita.


"Iya mbak Tutik, untung pak bos Endaru gak ikut-ikutan main di dapur. Kasihan dapurnya!" Nita yang ceplas-ceplos memang selalu bicara apa adanya.


Memang benar ya jika orang kaya seperti bosnya ini gak pandai soal dapur, kebiasaan sih pakai jasa pembantu jadi niatnya mau membahagiakan orang tercinta namun secara langsung menyengsarakan orang lain.


Usai memasak dan menghancurkan dapur sebab sedari tadi Melati dan Adhisti saling adu masakan untuk di berikan pada Endaru.


Endaru yang berada di kamarnya mendadak pusing sendiri melihat 2 wanita yang teramat ia cintai memperebutkan dirinya, apa seperti ini orang-orang yang memiliki banyak wanita kehidupannya di perebutkan hanya demi sedikit perhatian.


"Aru, aku suapi masakan ku ya." Menawari suaminya.


Namun Melati juga tidak mau kalah.


"Makan masakan Oma dulu Dekil, jangan punya Adhisti. Asin dan alot daging ayamnya, tadi ia masak gak matang," Melati mengompori Adhisti.


"Jangan percaya dengan ucapan Oma, Aru. Justru punya Oma yang asin, apa kamu tau tadi Oma memasukkan garamnya satu bungkus loh, semua di masukkan ke dalam sup itu." Menjulurkan lidahnya saat Endaru membuka mulutnya dan memilih masakan Adhisti.


"Stop ... stop ... stop ..., apa-apaan sih mau makan saja ribut. Dari pada begini terus lebih baik aku gak makan," menyilangkan tangannya dan memalingkan wajahnya, ia sampai jengkel sendiri dengan perilaku 2 bidadari dalam hidupnya ini selain Mama Lidia.


Melati dan Adhisti langsung mengheningkan cipta selayaknya upacara, tidak berani menatap sorot mata Endaru yang setajam pisau baru di gosok.


"Nah, begini kan enak. Suasana diam, sepi, sunyi dan tentu saja tenang aman dan damai." Endaru menatap masakan Oma Melati dan juga Adhisti, bingung harus makan yang mana di tambah lagi masakannya banyak sekali seperti orang kerasukan makhluk halus saja makan banyak padahal cuma mau terapi di tambah lagi Dokter kemari bukan dirinya yang datang ke Rumah Sakit.


'Makan yang mana dulu nih, jadi pusing jika mau yang mana?' Menggaruk kepalanya, bingung dan tidak mau melukai salah satu dari mereka.

__ADS_1


Endaru mencicipi semua hidangan yang disajikan di depannya tersebut, ia mengambil beberapa mangkuk kecil dan mengambil sedikit saja sekitar satu sendok untuk di cicipi. Dalam hati ingin sekali mengeluh lantaran masakannya tidak sesuai dengan ekspektasi, ternyata realitanya jauh lebih mengetikkan. Sepertinya ia lebih memilih di kejar-kejar hantu dari pada makan masakan ini rasanya tewas mendadak di kursi rodanya.


__ADS_2