Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
71. Gara2 emosi sesaat


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Malik pasrah.


Adhisti mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan mertuanya dengan sopan, Endaru tidak suka jika sang calon istri seperti itu sangat perhatian namun ia sadar jika Adhisti melakukannya karena rasa hormat pada orang yang lebih tua darinya.


"Endaru, ini Papa ada sesuatu untuk kamu. Bisa kalian gunakan jika mau." Memberikan sebuah kotak kecil yang isinya belum di lihat oleh Endaru, entah apa isinya ia malas membukanya dan hanya menatap hadiah yang ada di atas meja.


Malik tau sebesar apapun hadiah yang ia berikan tidak akan bisa mengembalikan Ibunya dalam pelukannya, Malik sadar itu sadar sekali.


"Maafkan Papa Endaru, Ma ... Malik berangkat kerja dulu ya Ma. Mau kembali ke perkebunan." Pamitnya pada Melati.


"Hati-hati Malik," walau bagaimana pun Malik tetap putra kandungnya meski ia telah melukai istrinya dulu.


Andai Lidia masih ada dan sehat pasti Endaru tidak akan sedingin ini dan bahkan ia tidak akan pernah menjadi orang kejam dan tidak berperasaan, Melati hanya berandai-andai saja.


"Aru." Menyenggol lengan Endaru.


"Tidak Adhi, biar dia terus instrospeksi diri sendiri Adhi, supaya kedepannya ia tidak mengulangi kesalahannya itu," jawabnya terasa dingin di dengar.

__ADS_1


Ternyata luka yang Endaru rasakan sampai kini tidak pernah sembuh sama sekali kasihan sekali batin dan hatinya yang rapuh itu. Adhisti tersadar akan satu hal penting dalam hidup, hargai selagi ada dan jangan pernah mengecewakan orang-orang sekitar kita agar kita tidak menyesalinya suatu saat nanti saat kita benar-benar membutuhkan mereka, ada satu cara yang harus kita pupuk yaitu saling menjaga dan menguatkan.


"Tapi dia satu-satunya orang tua yang kamu miliki Aru." Adhisti mencoba memperingatkannya namun mendapat bentakan dari Endaru.


"KAMU GAK NGERTI APA-APA ADHI, JADI STOP BICARA PANJANG LEBAR MENGINGATKAN AKU INI DAN ITU, KAYAK KAMU PALING BENAR SAJA KAMU ITU SUDAH MENYEBABKAN ORANG TUA KAMU TIADA, KAMU ITU SAMA SEPERTI BAJING4N ITU," amarah menguasai Endaru tiba-tiba.


Adhisti menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, Endaru juga ikut-ikutan seperti mereka menuduh dirinya yang menyebabkan kedua orang tuanya tiada.


Adhisti menutupi mulutnya dan menahan tangisnya.


"Kamu," sambil menunjuk wajah Endaru.


"Aku benci sama kamu Aru, kita mulai detik ini putus dan jangan pernah cari aku lagi." Rasa kecewa di dalam dada Adhisti menumpuk mendadak yang artinya ia benar-benar kecewa sekali dengan sikap Endaru padanya barusan.


Adhisti keluar dari rumah ini dengan kecewa, Nita menghentikan langkah Adhisti namun Adhisti yang menangis menampik keras tangan Nita dan hampir saja Nita terjatuh ke lantai.


"Mbak ... mbak Adhi, mbak." Masih mengejar namun Adhisti yang tinggi badannya ideal membuatnya lebih cepat berlari dari pada Nita yang tingginya hanya sepundak Adhisti.


Adhisti segera mencari tukang ojek.

__ADS_1


"Pak, ke jalan xx ya." Sambil mengusap air matanya, sang tukang ojek mengiyakan dalam batinnya ia mengira habis di pecat dari rumah ini.


Di lihat-lihat dari pakaian saja sangat sederhana sekali gadis ini.


Endaru merutuki kebodohannya barusan, hanya karena emosi sesaat membuat dirinya kehilangan Adhisti lagi dan lagi.


"Bodoh ... bodoh ...." Sambil memukul kepalanya berkali-kali.


Plak.


Melati menampar wajah Endaru lagi dan lagi tidak hanya sekali namun ini sudah yang ketiga kalinya Melati melayangkan tamparannya pada Endaru.


"Kamu ini bodo*nya kenapa sampai mendarah daging, Oma tidak pernah mengajarkan kamu untuk seperti ini loh Dekil. Dari mana kamu dapat perkataan seperti ini dan menyakiti hati wanita yang kamu cintai Dekil?" Melati mengertakkan gigi palsunya yang rapi.


"Pukul lagi Oma ... pukul lagi!" rengeknya sambil meletakkan tangan Melati di pipinya dan menamparkannya.


Melati menarik cepat tangannya.


"Kejar sana Adhi nya, mumpung dia belum jauh." Saran sang Oma langsung di anguki dan ia berlari dengan cepat untuk menyusul sang pujaan.

__ADS_1


Namun sia-sia, Adhisti telah pergi jauh dengan naik ojek.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2