Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
40. Romantis


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


PYAR


Adhisti menoleh ke sumber suara itu. Betapa terkejutnya saat menatap Endaru suaminya yang sudah menatap tajam dirinya, apa salah jika ia menolak pemberian dari suaminya. Lagian semua kebutuhan sudah tersedia dan tinggal menggunakan saja tanpa repot-repot berbelanja dan membayarnya sendiri pakai uang sendiri.


Endaru berjalan mendekati Adhisti.


Adhisti tidak mampu untuk mundur dengan cepat, kakinya yang sakit memang tidak dapat di ajak berkerja sama.


"Adhi, jika kamu menolak pemberianku maka kamu akan hancur seperti vas bunga itu." Ucapnya yang terlihat berapi-api.


Endaru berjalan mendekat dan sekali tangkap tubuh Adhisti berada dalam pelukannya, ia langsung mengendong Adhisti dan masuk ke dalam kamarnya, nuansa gelap di kamar Endaru terkesan menambah ketakutan Adhisti.


Brugh


Endaru melempar tubuh mungil Adhisti di tempat tidur, ia langsung menindih istri mungilnya itu.


"Aru, kamu-- kamu-- mau apa sih?" berusaha menghindarinya dalam pikirannya banyak hal yang ia pikirkan dari mulai Endaru menciumnya dan menyentuh tubuhnya.

__ADS_1


"Mau ini!" jawabnya memberikan kartu debit lalu ia segera merebahkan diri di samping tubuh Adhisti.


Adhisti bernafas lega, ternyata Endaru tidak berbuat macam-macam ia hampir mengira ia akan berbuat lebih.


'Haduh Adhi, apa yang kamu pikirkan barusan. Kotor banget pikiran kamu.'


Adhisti segera membalikkan tubuhnya, sedangkan Endaru mulai memejamkan matanya. Hari yang sangat lelah untuknya.


Endaru tersenyum.


"Kenapa membalikkan bada secepat itu, kamu kecewa tidak jadi aku apa-apakan?" berbisik di telinga Adhisti.


"Siapa yang kecewa justru sebaliknya aku bahagia tidak kamu apa-apakan!" ketusnya menenggelamkan wajahnya di bantal.


Plak


"Dasar tangan mesum," Adhisti menetralkan gejolak di tubuhnya.


"Kamu memupuskan harapanku Adhi." Endaru menjauh sedikit darinya.

__ADS_1


"Kamu marah Aru? apa kamu tidak melihat kaki aku sakit ini," tunjuknya pada kakinya yang masih membengkak tapi tidak separah tadi.


"Enggak marah ko, santai dan tenang saja." Sambil tersenyum di paksakan.


"Aku mengantuk habis meminum obat, jangan berisik jika berkerja di kamar," seperti memberi kode saja.


"Enggak berisik ko, kamu diam biar aku yang kerjakan pelan-pelan." Bisiknya mendekat.


Adhisti yang tadinya mengantuk langsung melebarkan matanya.


"Ayo kalau begitu, lakukanlah." Adhisti meraih badan Endaru.


"Kenapa berhenti sayang?" Endaru berbicara selembut kapas di telinga Adhisti.


"Takut Aru!"


"Takut apa, bukannya melakukannya juga di perbolehkan. Lagian sudah berhari-hari semenjak kamu datang bulan kita belum penyatuan sama sekali?" Endaru menanti setiap hari, menanti momen panas ini.


"Tapi-- waktu itu yang menggunakan ini!" jawabnya sudah malu sampai ke ubun-ubun sambil menunjuk mulutnya.

__ADS_1


"Itu beda, kali ini langsung di inti kamu bukan pakai mulut." Tegasnya yang melanjutkan kegiatan Adhisti yang hanya setengah saja.


Mereka sedang menikmati harinya yang penuh dengan bunga-bunga dan juga ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam diri mereka masing-masing, entah sudah berapa kali banyak pengulangan namun seolah-olah tidak ada kata lelah. Mungkin karena rindu atau entah apa yang jelas mereka menikmati setiap momen yang ada, mumpung tidak ada yang menganggu kegiatan sah mereka di tempat tersebut. Untung saja ini tidak di tepi pantai atau di tempat yang banyak airnya, jika iya entah malunya sampai kapan.


__ADS_2