
Asta menyuapi Zach yang duduk manis mengikuti Balqis yang duduk sambil membaca cerita untuknya.
" Anak Mama suka mendengarkan cerita yang dibaca kaka ?," tanya Asta dan putranya mengangguk sambil tertawa.
" Tante, Kaka besok izin untuk pergi keluar ya," kata Balqis setelah selesai membacakan cerita.
" Pergi kemana ?, apa ada sesuatu ?," tanya Asta menetap Balqis.
" Besok Kaka mau ke toko buku, ada yang mau Kaka beli," jawabnya.
" Kalau Tante yang antar Kaka bagaimana?," tanya Asta sambil mengedipkan mata.
" Antar kemana ?," tanya Kevin dari arah belakang Asta.
" Ke toko buku Pa, Ada buku yang mau dibeli Kaka," jawab Asta.
" Dan Mama menawarkan diri untuk mengantar ?, mungkin kaka sudah janji sama temennya?," goda Kevin.
" Engga kok Om, Kaka memang mau ke toko buku. Kalau memang ada teman yang mau ikut ya silahkan saja." jawab Balqis tertawa.
" Jadiiii?," tanya Asta lagi.
" Berangkat...!," jawab Balqis tertawa.
" Ya sudah, kita berangkat sebentar lagi ya.."
Papa mau ikut tidak ?," tanya Asta pada Kevin sementara Balqis masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.
" Papa dirumah saja dengan Zach," jawab Kevin kalem.
" Okelah kalau begitu. Mama ke kamar dulu ya !."
"!Hem..." jawab Kevin dan ia segera mengangkat Zachery keatas pundaknya dan mengikuti Asta ke kamar mereka.
Kevin memperhatikan Asta yang baru keluar dari kamar mandi sementara ia dan Zach berada ditempat tidur.
" Kalau Mama berpakaian seperti itu, Papa yakin para lelaki memandang Mama lebih dari sekali," ujar Kevin memberikan pendapatnya.
" Masa sih..., sepertinya biasa aja," jawab Asta menatap dirinya di cermin.
" Pakaian Mama memang biasa saja, tetapi buat kami, penampilan Mama sangat segar dan natural, apa adanya," jawab Kevin merayu.
" Terima kasih," jawab Asta sambil memberikan kecupan di bibir Kevin yang sama sekali tidak menduganya.
" Kenapa tidak kasih tanda kalau mau mencium ?," tanya Kevin seperti mengeluh.
" Kenapa rupanya ?,"
" Biar Papa bisa memberikan lebih," katanya dan ia menarik lengan Asta dan mendekapnya erat sebelum mencium bibir Asta dengan penuh gairah.
__ADS_1
" Bagaimana kalau malam ini kita keluar ?," bisik Kevin dengan suara parau.
" Keluar ?, kemana ?,"
" Keluar saja, Papa ingin bekerja tanpa gangguan apapun."
" Bukankah kalau Papa bekerja tidak pernah di ganggu?," tanya Asta tidak mengerti.
" Ya, tapi ini pekerjaan yang di lakukan oleh 2 orang ," jawab Kevin sambil tersenyum nakal membuat Asta menatapnya curiga.
" Mama akan bicara dengan Mba Sisil apakah dia bisa menginap disini," jawab Asta mulai mengerti apa maksud dari suaminya.
" Terima kasih," ucap Kevin dan ia mencium Asta sekilas karena baru teringat ada Zach bersamanya.
Mereka berjalan keluar rumah sementara Balqis sudah menunggu sambil bermain dengan handphonenya.
" Kaka sudah siap ?, kami berangkat dulu ya Pa, Zachery main sama Papa dulu ya !," ucap Asta berpamitan.
" Pergi dulu Om, bye Zachery Kaka pergi dulu," kata Balqis berpamitan.
Asta dan Balqis menuju toko buku yang berada dipusat perbelanjaan yang cukup terkenal, dan mereka diantar oleh Ivan.
Seperti yang dikatakan oleh Kevin, Asta dan Balqis adalah 2 orang wanita yang sangat menarik, tidak sedikit pria yang menatapnya penuh rasa kagum dan juga memuja.
" Mencari buku apa ?," sapa seorang pria muda yang datang mendekati Asta dan Astari.
" Untuk adiknya."
" Bukan, untuk putri sulung saya. Kaka sudah dapat belum bukunya ?."
" Sudah, Kaka juga ambil buku dongeng untuk Zach," jawab Balqis menunjukan buku dongeng Nusantara.
" Oh, ayo kita ke kasir!."
Mereka berjalan keluar dari toko buku setelah menyelesaikan pembayaran dikasir.
" Kita cari pakaian dulu ya."
" Ya Tante."
Mereka membeli beberapa setel pakaian untuk Balqis dan juga Zachery.
" Kaka mulai ulangan kapan ?,"
" Untuk semesteran nanti bulan November Tante ."
" Gimana disekolah ada temen spesial ga ?," tanya Asta ingin tahu.
" Semuanya sama aja Tante, ga ada yang spesial buat Kaka."
__ADS_1
" Kenapa ?,"
" Males aja, nanti kalau sudah besar atau dewasa baru deh cari yang spesial. Bukankah Tante juga sama, waktu SMP belum ada yang spesial ?."
" He eh, karena ga ada yang menarik buat Tante ," jawab Asta tertawa.
" Sampai akhirnya ketemu sama Om ya Tante ?," goda Balqis.
" Iya. Ketemu Om dan menikah."
" Apa Tante ga takut ?."
" Takut apanya ?."
" Hem, maksud kaka apa awalnya Tante tidak khawatir mempunyai suami yang sangat ganteng ?."
" Menurut kaka, Om ganteng ?."
" Ganteng banget. Makanya Kaka tanya sama Tante ."
" Kalau sama papa lebih ganteng siapa ?."
" Papa itu lelaki yang sangat kharismatik. Jadi ungkapan ganteng itu sudah ada didalamnya," jawab Balqis membuat Asta tertawa geli.
" Kalau om berarti ga kharismatik ?," tanya Asta geli.
" Kaka lebih berpendapat kalau Om itu super ganteng dan romantis." jawab Balqis kalem.
" Jadi kalau punya cowok mau yang seperti Om atau Papa ?."
" Engga keduanya. Karena mereka sudah memiliki Mama dan juga Tante yang lebih sesuai ," jawab Balqis tertawa.
" Dasar. Padahal Kaka tahu maksud Tante apa. Mengapa tidak menjawabnya ?."
" Ya karena Kaka belum tahu," kata Balqis tertawa.
" Ya sudah. Kita pulang sekarang ?, atau masih ada yang mau dibeli ?."
" Kita pulang saja Tante."
Mereka segera menuju lobby mall untuk menunggu Ivan.
" Halo Balqis, sudah mau pulang ?," sapa seorang remaja pria dengan ramah yang baru memasuki lobby.
" Selamat sore Tante, saya Alvaro teman sekelasnya Balqis," katanya memperkenalkan diri begitu melihat tatapan Asta yang tajam.
" Hem, bersama siapa ?," tanya Asta mencoba ramah sementara Balqis terlihat tidak suka membuat Asta penasaran.
" Sendiri Tante," jawabnya dan tidak berapa lama Ivan tiba lalu ia membuka pintu untuk Asta dan menyempatkan untuk memberi peringatan pada Alvaro melalui matanya.
__ADS_1