
Waktu terus berlalu, kini usia kehamilan Asta sudah memasuki 4 bulan, Dan ia sudah tidak pernah merasakan mual lagi.
" Bagaimana keadaanmu?," tanya Kevin ketika mereka sedang bersantai.
" Kenapa Mas bertanya seperti itu ?," tanya Asta menatap Kevin penuh rasa ingin tahu.
" Minggu depan aku akan kembali Ke Amerika, apakah kamu bersedia ikut bersamaku ?," tanya Kevin penuh harap.
" Bukannya aku tidak ingin mendampingi Mas Kevin, tetapi aku bersama siapa saat Mas bekerja ?. Aku tahu bukan hanya aku wanita hamil yang suaminya bekerja , tetapi saat kamu pergi aku ingin bersama keluarga Mas." ucap Asta menyesal tidak dapat mendampingi Kevin.
" Sudahlah. Aku tidak akan memaksamu. Aku bisa mengunjungi mu berapapun jauh jarak yang harus aku tempuh ," ucapnya sambil merangkul bahu istrinya.
Malam sudah semakin larut, tetapi Asta belum juga bisa memejamkan matanya, ia merasakan ketakutan yang sama sekali tidak dapat dimengerti.
" Kenapa tidak tidur?, apakah kepergian ku membuatmu gelisah ?, aku baru akan berangkat Minggu depan. Sekarang tidurlah !," ucapnya memeluk erat tubuh Asta.
Tidak berapa lama Asta sudah mulai terlelap dan ia bermimpi pada saat ia baru datang untuk melakukan wawancara di perusahaan Wira Pratama. Dalam mimpinya ia selalu memperhatikan lukisan besar yang berada diruang tunggu dan ia selalu memegangnya seperti merasakan keterikatan dengan lukisan tersebut.
Asta terbangun dan melihat jam yang baru menunjukkan pukul 02 pagi, kemudian Asta memutuskan untuk sholat malam agar diberikan ketenangan batin.
Setelah selesai melakukan sholat malam, Asta kembali membaringkan tubuhnya, gerakan Asta rupanya membangun kan Kevin dan ia menatapnya penuh tanya.
" Apakah kamu mau menceritakan apa yang membuatmu gelisah ?,"tanya Kevin.
" Aku sendiri tidak mengerti Mas. Apakah Mas Kevin masih ingat apa yang Mas tanyakan pertama kali kepadaku ketika masuk keruangan tempat diadakan wawancara kerja ?,"
" Pertanyaan?, apa ya... Ah ya, aku bertanya mengenai lukisan. Ada apa ?,"
__ADS_1
" Malam ini aku memimpikan apa yang kulakukan selama diruang tunggu itu . Aku merasa sangat tertarik pada lukisan tersebut. Bukankah itu lukisan daerah wisata Mont Saint Michel ?," tanya Asta membuat Kevin menatapnya tidak percaya.
" Bagaimana kamu bisa tahu ?."
" Entahlah, aku hanya merasakan keterikatan dengan daerah wisata tersebut. Sepertinya aku meninggalkan sebuah kenangan yang menyakitkan untuk aku ingat, rasa putus asa ketika menunggu seseorang yang tidak pernah datang untuk memenuhi janjinya. Tapi aku tidak ingat siapa yang aku tunggu. Bayangannya terlihat tidak nyata ?," jawab Asta menatap kosong ke depan .
" Berapa usiamu saat itu ?," tanya Kevin.
" aku tidak tahu. Aku hanya merasa pernah berada di sana menunggunya untuk datang menemui ku."
" Apakah kamu ingin mengunjungi tempat itu ?, aku akan menemanimu bila kamu ingin ke sana ."
" Entahlah, aku tidak tahu.Terima kasih ya Mas."
" Untuk ?."
" Sekarang tidurlah !."perintahnya dengan lembut.
Ketika Kevin berada di kantor, ia teringat dengan ucapan Asta semalam dan ia segera menghubungi Rizky untuk makan siang bersama.
" Ada apa ?, tidak biasanya kamu mengundangku untuk makan siang ?," tanya Rizky saat mereka berada di restoran.
" Ada yang ingin kutanyakan padamu mengenai Asta. Mengapa ia tidak ingat dengan kejadian yang pernah dia alami."
" Apa maksudmu ?, apakah ini masih ada hubungannya dengan pertanyaan yang kamu ajukan pada Bima ?."
" Benar. Apakah Asta pernah mengunjungi Perancis ?, dan mengapa ia tidak mengingatnya ?, aku harap kamu bisa mengatakan dengan jujur. Aku benar-benar tidak bisa diam saja bila Asta merasa gelisah dan tidak tenang, apalagi sampai terbawa mimpi."
__ADS_1
" Apa maksudmu Asta gelisah hingga terbawa dalam mimpi ?," tanya Rizky penuh rasa khawatir.
Mendengar pertanyaan dari Rizky membuat Kevin merasa yakin bahwa Rizky lebih tahu apa yang terjadi dibandingkan dengan Bima.
"Jadi katakanlah apa yang terjadi pada Asta !."
" Baiklah. Tujuh tahun lalu, Asta mengikuti tour wisata karena memenangkan lomba pidato dalam bahasa perancis yang diadakan oleh sebuah perusahaan travel milik pengusaha asing. Awalnya kami melarangnya , tetapi Asta begitu menginginkan nya hingga Papa mengijinkan. Saat itu usia Asta baru menginjak 13 tahun. Dan ia adalah peserta termuda. Papa meminta jaminan agar menjaga putrinya tanpa melepaskan pengawasannya. Tetapi apa yang kami dengar perusahaan travel tersebut tidak melakukan apa yang kami pesankan. Asta pergi bersama seorang pria asing yang baru dikenalnya. Kami semua menjadi panik lalu Papa dan Kakak meminta izin khusus pada kesatuannya untuk mencari Asta di negara itu," Rizky berbicara seperti dirinya masih merasakan kepanikan ketika mendengar adiknya tidak kembali kerombongannya.
" Pergi bersama seorang pria asing ?, bagaimana bisa dia bersikap ceroboh dan tidak bertanggung jawab seperti itu ?," tanya Kevin tidak mengerti.
" Aku juga tidak mengerti. Asta adalah gadis yang baru beranjak remaja dengan tubuh jangkungnya yang berbeda dengan teman-teman sebayanya .Aku merasa sebagai gadis remaja ia mempunyai fantasi sendiri mengenai seorang pria."
" Berapa lama Asta menghilang ?."
" Papa dan Kakak mencari keberadaan Asta selama 3 hari dan akhirnya kami menemukannya berada di kapel yang berada di Mont Saint Michel. Menurut pengurus kapel tersebut Asta tidak pernah pergi dari tempat duduknya yang berada dekat altar. Tindakannya seperti seorang wanita yang menunggu pengantin pria yang akan menikahinya. Papa dan Kakak membawa Asta kembali dan melakukan pemeriksaan secara mendalam. Kami khawatir Asta menerima tindakan kekerasan seksual dan menderita secara psikis. Untunglah kekerasan yang kami khawatirkan tidak terjadi padanya. Tetapi ia menjadi Asta yang berbeda, bukan lagi gadis remaja yang ceria, tetapi seorang gadis yang selalu ingin bekerja untuk meraih kesuksesan, seperti ingin membuktikan sesuatu."
" Lalu mengapa Asta tidak ingat bahwa ia pernah mengunjungi Perancis dan hanya merasakan keterikatan pada satu tempat dan seperti ia menunggu seseorang tetapi ia tidak dapat melihatnya dengan jelas ?."
" Berada seorang diri ditempat asing mempunyai pengaruh yang sangat dalam bagi seorang gadis remaja. Terus terang keluarga kami memutuskan untuk melakukan therapi agar Asta melupakan kejadian yang menimpanya."
" Jadi itu yang menyebabkan Asta tidak bersedia ikut denganku ke Amerika, karena ia takut ditinggal kan sendiri meskipun aku pergi untuk bekerja."
" Kemungkinan besar Ya, meskipun untuk menetap sendiri di daerah sama sekali tidak mempunyai pengaruh besar."
" Benar. Baiklah terima kasih untuk informasinya. Hal ini membuatku lebih mengerti mengenai dirinya ."
" Terima kasi. Sudah bersedia menjaga adik kami."
__ADS_1