
Kevin sudah menyelesaikan pekerjaannya sementara Amelia sudah kembali ke apartemen nya setelah menyelesaikan pekerjaan nya membuat salad buah yang diminta Asta.
Kevin melihat Asta tengah bersandar ditempat tidur sambil membaca buku mengenai kesehatan ibu hamil.
" Masih marah ?," tanya Kevin menghampiri dan duduk di kursi yang sengaja ditariknya hingga ia dapat duduk berdekatan dengan Asta.
" Untuk ?, memangnya aku berhak untuk marah ?," jawab Asta agak ketus membuat Kevin mengerutkan alis.
" Kamu berhak marah bila memang perlu, tetapi untuk saat ini hal tersebut sangat tidak diperlukan," jawab Kevin santai.
" Mas ?."
" Aku sudah meminta Amelia membuat salad untukmu. Aku sudah mencobanya cukup enak. Apakah kamu mau memakannya sekarang ?."
" Tinggalkan dimeja saja. Aku belum berminat," jawab Asta dan ia merasa kesal karena diluar keinginannya air matanya keluar hingga ia menghapusnya dengan kasar.
Kevin yang masih berada disampingnya melihat air mata Asta dan ia merasa sangat bersalah telah membuat wanita yang dicintainya menangis.
" Asta..., apakah tindakan ku melarang mu pergi membuat mu marah ?, sampai kamu menangis ?,Aku minta maaf, semua aku lakukan karena aku melindungi mu ?, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." ucap Kevin dan ia meraih tangan Asta dan menggenggam nya erat.
" Tapi ini berlebihan sekali Mas, justru dengan tindakan yang berlebihan malah akan menarik perhatian orang lain yang pada awalnya tidak perduli."
" Baiklah, akan aku pikirkan lagi. Apakah kamu sudah bicara dengan Kakak ?,"
" Sudah."
__ADS_1
" Dan,_?."
" Aku tidak mau membahasnya." jawab Asta membuat Kevin tersenyum karena ia yakin Krisworo sudah mengatakan alasannya.
" Baiklah. Apakah kamu mau makan salad nya sekarang ?," tanya Kevin dengan nada membujuk.
" Baiklah." jawab Asta dan ia menerima mangkuk yang diberikan Kevin.
Kevin memperhatikan perut Asta dan ia mengulurkan tangan menyentuh perut dimana calon anaknya berada.
Asta tersenyum memperhatikan tindakan Kevin dan ia meletakan mangkuk yang dipegangnya ditempat tidur.
" Bagaimana perkembangan nya ?, apakah ia sehat ?," tanya Kevin menatap mesra Asta.
" Ia sehat dan perkembangan nya baik. Dan aku tidak ada keluhan sama sekali."
" Belum. Aku pernah mendengar jenis kelamin baru bisa diketahui pada usia kehamilan memasuki 26 Minggu, tetapi itu tergantung dengan aktif atau tidaknya bayi yang berada dalam kandungan." jawab Asta dan ia mengelus rambut Kevin yang mulai terlihat panjang.
" Aku menantikan saat aku bisa mengetahui jenis kelaminnya. Tentu suatu kebahagiaan bila kita sudah mengetahui nya sejak awal."
" Apa maksud nya ?," tanya Asta curiga.
" Tidak ada maksud apa-apa. Tentu sangat menggembirakan kita dapat membuat kamar dan membeli kebutuhan nya bila kita sudah mengetahui jenis kelaminnya."
" Entah mengapa aku merasa kamu mempunyai tujuan lain Mas," jawab Asta tanpa menyembunyikan kecurigaan nya.
__ADS_1
" Apakah sekarang kamu akan bersikap seperti ini terus ?,"
" Maksud Mas Kevin ?,"
" Kamu yang bisa menjawabnya, karena kamu yang mempunyai rasa curiga padaku."
" Mas, bukan maksudku mencurigai Mas Kevin, aku hanya tidak suka kalau sepertinya Mas sudah menyusun rencana menjadi apa terhadap anak yang masih berada dalam kandunganku."
" Aku minta maaf kalau ucapan ku sudah membuat dirimu berpikir macam-macam. Tapi jujur aku tidak ada maksud lain."
" Baiklah. Aku juga minta maaf kalau aku sepertinya terlalu sensitif menghadapi keadaan ini."
" Aku juga menyesal telah mengecewakan dirimu. Aku akan berbicara dengan Lukas dan Amelia dan juga Pedro agar dirimu tidak perlu terlalu sering terlihat dimuka umum."
" Aku sangat menyetujuinya. Kalau bisa aku ingin didampingi oleh Mba Sisil."
" Mengapa harus Mba Sisil ?,"
" Karena ia sebenarnya wanita super. Keahlian beladiri dan penggunaan senjata tajam maupun senjata api sudah tidak perlu diragukan lagi."
" Maksudmu ?,"
" Maksudku Mba Sisil wanita hebat, dan ia juga mempunyai layanan penyedia bodyguard yang dapat dipercaya."
" Benarkah ?, Wow benar-benar sukar dipercaya," ujar Kevin merasa takjub.
__ADS_1
Selama ini ia hanya tahu kalau Rizky bekerja sebagai Intel yang bekerja secara rahasia dan Sisil bekerja sebagai karyawan biasa.
" Aku akan membahasnya segera." janji Kevin.