
Di rumah kediaman keluarga Sudrajat Astari merasa kesepian sejak Kevin berangkat kerja dan ia menelepon kakak iparnya dan meminta Sisil untuk menemaninya.
" Kenapa ?, kok tumben ?," goda Sisil kepada Asta.
" Entahlah Kak, sudah beberapa hari aku merasa gelisah setiap Mas Kevin berangkat ke kantor," jawab Asta.
" Bukankah 5 hari lagi Kevin akan berangkat ke Amerika ?, kalau kamu khawatir mengapa tidak menemaninya saat berangkat nanti."
" Mungkin itu lebih baik ya Kak, daripada aku gelisah disini dan nanti malah membuatnya tidak tenang. Baiklah aku akan mengatakannya saat dia pulang nanti," jawab Asta tersenyum.
Mereka tengah mengupas mangga di taman belakang dan tiba-tiba pisau yang digunakan Asta untuk mengupas mangga mengenai jarinya hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak, karena lukanya sangat dalam.
" Astaga, bagaimana bisa kamu terluka ?, ayo obati tanganmu !, bi...bibi...cepat ambilkan perban dan..., apa yang kamu lakukan bi ?," ucap Sisil panik karena melihat bibi membawa daun singkong yang baru dipetiknya serta seekor bekicot.
" Maaf Bu, tolong dikunyah daun singkong ini untuk menghentikan pendarahan !." kata bibi pada Sisil, sementara ia memecahkan bekicot dan memberikan lendirnya pada luka ditangan Asta.
Sisil tanpa mengerti melakukan apa yang diminta oleh bibi dan menutup luka Asta dengan daun singkong tersebut setelah itu baru ditutup oleh perban.
Asta menatap diam pada lukanya membuat Sisil khawatir dan tidak berapa lama Nyonya Sudrajat menghampiri mereka.
" Lukamu harus segera diobati. Kita ke dokter sekarang ," kata Mama dengan suara yang terdengar lembut tetapi juga bergetar membuat Sisil menatapnya heran.
" Sisil, kamu ikut menemani kami," perintah Mama .
Mereka pun bergegas menuju rumah sakit atas permintaan Mama, sementara Asta hanya menatap lukanya.
__ADS_1
Dalam perjalanan Sisil menerima telepon dari Rizky.
" Apakah Mama sedang bersama Asta ?," tanya Risky pelan.
" Ya, aku dan Mama sedang berada di mobil menemani Asta, tangannya terluka cukup dalam dan Mama terlihat sangat terpukul. Terus terang aku tidak mengerti, bukankah Asta hanya luka tersayat ?."
" Aku rasa Mama sudah mendapat kabar dari Papa. Dengarkan Papa, Mama harus mendampingi Asta terus dan jangan meninggalkannya. Kevin dalam keadaan kritis, saat ini tim bedah sedang berusaha mengeluarkan peluru di dadanya. Dokter bedah akan berusaha meskipun sangat kecil kemungkinan untuk selamat," Rizky berbicara dengan cepat sementara Sisil hanya diam mematung terlalu shock menerima berita tersebut. Sampai akhirnya Mama memegang bahunya membuatnya tersadar.
" Baik Mas..." ucapnya lirih.
Sisil menatap ibu mertua dan juga adik iparnya dengan kesedihan yang tidak mampu ia ucapkan dan ia melihat ibu mertuanya tersenyum meskipun tersirat rona kesedihan diwajahnya meminta dirinya untuk tenang agar Asta tidak terpuruk.
Mereka tiba di rumah sakit dimana Kevin juga dalam pertolongan. Sisil dan Mama membawa Asta keruang dokter agar lukanya segera diobati.
Dokter memeriksa luka dijari Asta dan tersenyum begitu melepaskan perban yang membalut luka dijari Asta.
" Maaf dokter, kami begitu panik ketika melihat darah yang keluar hingga mengikuti apa yang dilakukan oleh asisten rumah tangga kami. Apakah itu membahayakan ?," tanya Sisil khawatir.
" Tidak Bu. Sebenarnya ini adalah pertolongan pertama yang baik secara tradisional, karena lendir mocus atau bekicot sangat baik untuk mengobati luka dan menghentikan pendarahan, sementara daun singkong selain mempunyai fungsi sama untuk mengeringkan luka daun singkong juga berguna untuk menghilangkan bekas luka ketika sudah kering," jawab Dokter membuat Sisil mengangguk mengerti.
" Sudah selesai, semoga lekas sembuh ya." ucap Dokter.
Mereka berjalan keluar meninggalkan ruang praktek dan bertemu dengan Dini serta Rizky yang meminta Asta untuk menemui Kevin.
" Apakah sesuatu terjadi dengan Mas Kevin ?, dimana dia, aku harus menemuinya ?," tanya Asta dengan tatapan nyalang.
__ADS_1
" Kamu akan menemuinya, tetapi kamu harus kuat dan bertahan untuk anak kalian yang masih berada dalam kandungan mu !," ucap Rizky.
" Baiklah aku janji untuk kuat dan bertahan demi anakku, meskipun aku tahu sangat berat ," ucap Asta dan ia menatap keluarganya yang berdiri menatapnya penuh kesedihan.
" Aku tahu dan dapat merasakan sejak lama, hanya saja tidak menduga begitu cepat," kata Asta membuat mereka terkejut.
Rizky segera membawa Asta menemui Kevin diruang icu dan ia menatap Kevin yang berbaring tidak berdaya.
Asta memegang lembut tangan Kevin dan meletakkannya di bibirnya .
" Aku akan kuat dan bertahan Mas, meskipun itu sangat sulit. Kamu juga harus bertahan bisik nya lembut.
Kevin merasakan air mata membasahi tangannya dan ia membuka matanya dan tersenyum lembut.
Dengan isyarat matanya ia meminta suster memperdengarkan pesan yang sempat direkamnya sebelum melakukan operasi.
Tanpa melepaskan genggaman tangannya Asta mendengar kan pesan Kevin mencoba untuk bertahan dari kesedihan yang menghancurkan dirinya.
" Maafkan aku, aku tidak bisa menemanimu sampai kita menua, kebersamaan kita hanya sampai ajal menjemput. Maafkan aku yang telah memberikan keputusan secara sepihak tanpa berbicara denganmu. Aku telah menyerahkan tanggung jawabku untuk menjagamu dan juga anak kita kepada sahabatku, dan juga dewa penolongku. Saat ini dia mungkin berada diruang pemulihan karena mendonorkan darahnya padaku diluar ketentuan. Aku mohon agar kamu memaafkan diriku dan menerimanya sebagai pengganti diriku."
Kevin menatap Asta penuh permohonan dan dilayar monitor terlihat perubahan yang sangat mengkhawatirkan membuat Asta secara terpaksa menyetujuinya.
" Aku tidak akan menerimanya Mas, Mas Kevin harus bertahan..." ucap Asta.
Kevin menatapnya dengan penuh permohonan sementara matanya mulai meredup hingga dirinya menjadi histeris.
__ADS_1
" Aku akan menerimanya asalkan mas sembuh.." katanya dengan keras.
" Baiklah, aku akan menerima pesan Mas Kevin, hanya untuk membuat Mas tenang ," ucapnya dan suara layar monitor yang menampilkan grafis kinerja organ tubuh berubah menjadi garis datar hingga Asta histeris dan akhirnya tidak sadarkan diri.