
"Aku mencintai mu kay, tidur di karpet pun aku rela." Ungkap Raize sebelum melummat bibir penuh Kayla.
Kedua bibir itu beradu. Saling membelai lidah dan memberi kelembutan. Raize tak sedikitpun menunjukkan nafsu meski gejolak di dalam dirinya menginginkan lebih. Namun, cinta yang Raize punya untuk Kayla adalah cinta yang menjaga dan melindungi, bukan di latar belakangi nafsu semata. Sebelum mereka benar-benar menikah nantinya, Raize tak ingin merusak kesucian gadis-nya.
Raize menatap wajah Kayla dengan sayang. Tersenyum meski hasrahnya terus bergejolak untuk di tuntaskan. Raize mengusap bibir Kayla yang basah dengan jempolnya. Lalu mengecup sekali lagi bibir itu.
"Ayo kita cari makan di luar. Udah malam, kamu pasti lapar, kan?" Ajak Raize menarik lengan Kayla agar bangun dari pembaringannya.
"Heeemmm..." Dehem Kayla dengan wajah yang sudah sangat memerah.
"Aku ke kamar mandi dulu." Pamit Raize sembari melangkah lebih dalam.
Kayla menunggu Raize di teras rumah. Hampir satu jam lamanya menunggu, tau-tau Raize sudah muncul dengan rambut yang basah dan terlihat segar. Kayla menatap pria tampan itu dengan pandangan yang entah apa.
"Ayo." Raize menarik tangan Kayla dengan lembut menggandeng nya menuju mobil. Kayla terus menatap Raize bahkan saat mereka sudah di dalam mobil yang mulai bergerak.
"Kamu mandi?" Tanya Kayla begitu mobil Raize keluar dari halaman yang memang tanpa pagar itu.
"Iya, gerah."
Kayla tersenyum kecil, menduga-duga apa yang Raize lakukan sampai harus mandi dan keramas. "Mungkin dia memang gerah. Tak usah di pikirkan, yang penting dia tak menyentuhku lebih jauh." Gumam Kayla dalam hati.
Seusai makan malam bersama, mereka menyempatkan diri membeli baju ganti dan selimut. Sebenarnya, mereka juga hendak mencari kasur, sayangnya, sudah terlalu larut dan toko pun sudah tutup. Akhirnya mereka kembali tanpa kasur ataupun bantal.
Malam itu, Kayla dan Raize tidur di kamar yang sama. Kebetulan, rumah yang Kayla sewa hanya memiliki satu kamar tidur, satu ruang tamu, satu kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.
Kayla tidur di atas kasur single yang memang sudah disediakan oleh pemilik kontrakan. Sedangkan Raize tidur diatas karpet tak jauh dari Kayla terbaring.
Kedua insan itu berbaring berhadapan, tak ada satupun dari mereka yang memejamkan mata.
"Apa di sana dingin?" Tanya Kayla pada Raize, ia merasa kasihan juga seorang seperti Raize sampai tidur di atas karpet tipis.
"Dingin."
"Mau gantian?" Kayla menawari.
"Nggak usah, nggak apa. Kulit laki-laki lebih tebal dari wanita. Dinginnya tidak terlalu menusuk kulit." Tolak Raize. "Sudah malam, ayo tidur. Besok harus bangun pagi."
Kayla memejamkan matanya,"selamat malam."
"Selamat malam. Tidur yang nyenyak." Gumam Raize ikut memejamkan mata.
__ADS_1
Sesaat lamanya Kayla membuka mata, ia hanya menatap Raize yang sepertinya sudah terlelap itu. Pria yang memeluk tubuhnya sendiri itu membuat Kayla tak tega.
"Raiz?"
"Raiz? Kamu sudah tidur?" Kayla berucap lirih.
"Hemm? Ada apa?" Tanya Raize tanpa membuka matanya.
"Pindahlah kemari."
"Tidak mau."
"Kamu dokter, besok juga kamu harus memeriksa pasien. Cepatlah kemari, tidur di lantai yang dingin tidak bagus untukmu."
Tak ada jawaban dari Raize yang masih memejamkan matanya.
"Kasur ini, masih cukup luas jika untuk kita berdua."
Raize membuka matanya, menatap Kayla tajam. "Apa kamu tidak takut aku akan menerkammu nanti?"
"Kita pernah tidur dalam satu kamar yang sama, dan kamu tidak menerkamku." Kilah Kayla mengingatkan lagi saat mereka terpaksa tidur satu kamar karena kakek Yaris menginap.
"Kamu menawari seorang Casanova tidur di kasur yang sama. Sempit lagi." Ujar Raize mengingatkan lagi pada Kayla tentang siapa dirinya.
Raize bergerak mendekat dan tidur berhadapan dengan Kayla di atas kasur yang sama. "Kamu tidak keberatan?"
"Aku keberatan jika kamu berbuat kurang ajar."
Raize tersenyum kecil lalu memeluk tubuh Kayla. "Good night, Kayla." Ucapnya sebelum menutup mata.
Setelah melewati malam diatas kasur yang sama. Tanpa melakukan apapun Raize membersihkan dirinya. Ia bergumam di dalam kamar mandi."Sial, tidur di atas kasur bersama dengannya malah membuat ku semakin tak bisa tidur. Junior sialan, sama sekali tak bisa tenang."
Tok tok.
Suara pintu kamar mandi di ketuk dari luar.
"Sudah belum? Aku mau pipis." Suara Kayla dari balik pintu kamar mandi.
"Iya,sebentar."
Dengan cepat, Raize menyelesaikan urusan mandinya. Setelah ia keluar dan berpapasan dengan Kayla yang terburu masuk karena berkemih. Raize bergegas mengganti baju. Lalu menunggu Kayla keluar untuk sarapan dan pulang bersama sebelun ia berangkat kerja.
__ADS_1
Sepuluh hari telah berlalu, Kayla dan Raize lebih banyak menghabiskan waktu di rumah kontrakan dari pada di mansion yang besar itu.
("La? Kamu di mana? Nanti kita jemput emak sama bapak di stasiun.") Suara Ayla dari sebrang sana.
Kayla yang saat itu kebetulan berada di rumah sewa, mengapit hp diantara bahu dan pipinya. "Aku lagi di kosan mbak."
("Kosanmu di mana? Mbak jemput.")
"Nanti, aku serlok mbak." Jawab Kayla. Ia senang karena akhirnya bisa merasa tenang karena tak perlu khawatir akan ketahuan. Apalagi kakek Yaris sudah di bawa Raize ke luar negri untuk berobat.
Di stasiun, Bu Rohman dan pak Rohman menunggu anaknya menjemput. Wajah lelah kedua orang tua itu berubah sumringah begitu melihat kayla dan Uwais di belakang mereka ada Ayla dan Rocky.
"Bapak, emak." Kayla memeluk kedua orang tuanya bergantian setelah mencium tangan tentunya.
"Duh, anak emak sudah besar, dah mau wisuda." Ucap emak penuh haru dan mengusap punggung Kayla dengan rasa syukur."kalau sudah wisuda, cari kerja yang baik ya nak."
"Iya Mak, iya."
Sedangkan Ayla dan Rocky juga memeluk dan menyalami pak Rahman.
"Duuuhh, cucu kakek, sudah besar rupanya." Ucap pak Rahman mencibit pipi gembul Uwais. Lalu menggendong.
Rocky dan pak Rahman terlihat perbincangan sesama lelaki, begitu mereka dalam perjalanan ke rumah Rocky. Sedangkan Kayla, emak, dan Ayla pun membicarakan acara wisuda Kayla tiga hari lagi.
Rumah Rocky terasa begitu ramai dengan kedatangan emak dan bapak dari kampung. Kayla juga menginap di rumah itu dengan tenang. Hingga acara wisuda Kayla di gelar. Gadis cantik itu tersenyum saat sesi foto bersama. Menikmati makanan, dan bercengkrama dengan teman dan keluarga. Benar-benar sangat sempurna dan bahagia.
Di sisi lain,
"Raize! Kenapa kau terus menahanku di sini? Kakek kan sudah bilang, jika kakek sudah baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Kakek Yaris mengomel pada sang cucu.
Raize memang membuat alasan alasan kesehatan untuk menjauhkan kakek Yaris dari keluarga Kayla.
"Kakek tidak bisa pulang, kita baru separuh pemeriksaan." Ungkap Raize beralasan.
"Terserah, pokoknya, kakek mau pulang! Ada besan berkunjung kenapa aku malah di sini?!" Omel kakek Yaris lagi. Saat ia tengah mengomel, ponsel kakek tua itu berdering.
"Raize! Kakek tak mau tau, siang ini juga siapkan tiket kembali!" Tukas kakek Yaris sembari mengangkat telponnya.
"Kakek mana bisa begitu, kita sudah susah-susah membuat janji dengan dokter feng."
Mata kakek Yaris melebar mendengar laporan dari anak buahnya. Lalu menatap tajam Raize penuh amarah.
__ADS_1
"Sekarang juga! Kembali ke Indonesia!"