
Roxy menangkup wajah Ayla agar ia dapat melihat wajah itu lagi.
"Apa di bawah sana lebih menarik dari pada aku?"
Wajah Ayla kembali menghangat, dan menggeleng pelan.
"Tidak."
"Lalu kenapa malah memalingkan wajah dariku?"
"Aku hanya tak ingin tergoda oleh mu... Kita belum halal..."
Seketika Roxy tertawa... "Ha-ha-ha... Oke, sepertinya,bukan hanya aku yang tidak sabar..." Ucapnya mengerling menggoda.
"Baiklah, cepat coba bajunya. Aku ingin lihat secantik apa calon istriku."
Roxy mengedarkan pandangan matanya, lalu menunjuk pada kursi tunggu di sudut ruangan.
"Aku tunggu di sana ya?"
"Baiklah."
Tirai ditutup, memberi ruang bagi Ayla untuk mencoba dua gaun pengantin berwarna biru laut dan merah itu. Pertama, Ayla mencoba yang biru, gaun dengan banyaknya Swarovski yang menghiasi di bagian depan dadanya. Gaun itu menjuntai dan melebar hingga menutupi lantai. Jilbab warna senada dan sebuah mahkota yang bertengger di kepalanya. Menyempurnakan penampilan Ayla bagai seorang putri raja.
Ayla menatap pantulan dirinya. Lalu senyum merekah di wajahnya. Tak pernah di bayangkan oleh Ayla akan memakai gaun indah dan semewah itu.
"Mbak Ayla, saya buka ya tirainya." Ucap Sang penata busana. Ayla mengangguk sebagai jawaban.
Tirai di buka, Ayla mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk menyiapkan hati dan diri nya. Menunggu reaksi Roxy seperti apa.
Pria bule itu hanya terdiam mematung menatap nya. Hanya menatapnya. Mata coklat dan hitam itu beradu, terasa waktu hanya berputar diantara mereka.
"Indah, indah sekali..."
Kalimat itu yang berhasil meluncur dari bibir Roxy.
"Kamu sungguh indah."
Senyum Ayla merekah, seketika menambah debaran di dada Roxy. Tak ingin lebih tergoda untuk mendekat, Roxy memilih membalikkan tubuhnya.
"Cepat coba yang lain. Setelah ini kita masih harus melihat sampai dimana kemajuan persiapan gedung nya."
Ada sedikit rasa nyeri yang Ayla saat melihat Roxy membalikkan badannya. Seolah, pria itu enggan untuk melihat dirinya.
Ayla tersenyum kecut. Merasa terlalu berharap Roxy akan menyukai nya. Tapi melihat sikap acuh calon suaminya, banhkan sampai membalikkan badan, membuat Ayla merasa tak senang. Walau Roxy sudah memuji keindahan nya, tapi, ayla merasa kurang. Memang dia mengharapkan lebih.
__ADS_1
"Baiklah."
Seusai fitting baju. Ayla dan Roxy mampir terlebih dahulu ke sebuah warung makan, sebelum mereka ke gedung resepsi nanti. Resto itu cukup ramai, sehingga Roxy tergoda untuk mencobanya.
"Makanlah yang banyak." Roxy meletakkan beberapa butir meatball ke piring Ayla.
"Kamu mau aku gendut?"
Roxy memandang Ayla dengan kening berkerut. "Kok malah ngomongin gendut sih?"
"Makan yang banyak."
Roxy tergelak kecil."kamu nggak mau makan banyak?"
"Baju tadi sedikit sesak. Jadi, aku ingin mengecilkan sedikit perutku. Sepertinya aku mulai gendut." Ayla menyentuh perutnya, bibirnya pun ikut manyun.
"Udah bilang sama Orang butik kalau kamu nggak nyaman karena kekecilan?"
Ayla menggeleng lemah, wajah sedih itu tak lepas dari sana.
Roxy mengambil hp nya lalu menghubungi butik tempat mereka fiting baju tadi.
"Kekecilan." Ucap Roxy begitu tersambung."baiklah."
Mata Ayla sedikit melebar , mendengar Roxy langsung ke intinya."kenapa malah komplain sama orang butik. Aku kan masih bisa ngurusin badan."
"Tidak usah. Ngapain repot-repot. Sekarang, makan yang banyak. Mau aku tambahin."
Ayla berdecak kesal. Dan memilih melihat pada biduan yang sedang bernyanyi di panggung. Di resto itu, memang menyediakan live music. Beberapa orang pria tampak mengelilingi dan berjoget. Bahkan ada beberapa yang ikut menyawer.
Roxy hanya memandang Ayla lekat.
"Kamu marah?"
"Enggak."
Mendengar jawaban Ayla, Roxy kembali melanjutkan makan. Sedangkan Ayla hanya bisa menggerutu dalam hati, sangat berharap Roxy akan peka dan membujuknya. Atau sedikit merayunya seperti biasa.
Untuk mengusir rasa kesal nya, Ayla membuka gawainya. Mengotak-atik benda pipih itu tanpa tau apa yang ia lihat.
Di kejauhan, sang biduan yang bernyanyi mulai berjalan menuruni panggung, perlahan berjalan dengan lenggak-lenggok. Mungkin juga bermaksud mencari saweran lain, karena sudah tak ada lagi yang menyawer atau pun mendekat sekedar menari bersama.
Sampai sang penyanyi itu berjalan di dekat Roxy yang asyik makan. Sepertinya, rasa makanan di sana cukup menghipnotis. Ayla yang melihat kehadiran sang penyanyi yang tiba-tiba berada di samping meja mereka terperangah karena tiba-tiba saja biduan itu terhuyun tepat di tubuh Roxy. Dan jatuh, dengan posisi memeluk bahu calon suaminya.
"Wanita gatel ini, sengaja ya?" Gerutu Ayla dalam hati, dengan mata sedikit melebar.
__ADS_1
"Maaf." Ucap biduan seksi itu.
"Enggak papa. Lain kali hati-hati, makanan ku hampir tumpah." Jawab Roxy tanpa beranjak dari duduknya. Dan membiarkan sang biduan masih memeluk bahunya beberapa saat.
"Kamu, mau sampai kapan berposisi seperti ini?"
Kalimat tanya Roxy membuat biduan itu memerah karena sempat terpesona oleh Roxy. Walau terlihat dingin, Roxy tetaplah tampan. Mata siapa yang tidak tergoda untuk melihat?
"Maaf," ucap biduan itu lalu berdiri sedikit berjarak dari Roxy.
Wanita itu masih terpesona oleh Roxy, hingga membuat ia enggan untuk pergi. "Setidaknya, aku harus merasakan tubuh seksi ini. Sangat di sayangkan jika pria setampan dan sebagus ini di anggurin."begitu batin sang biduan.
Biduan seksi yang minim bahan itu membuat Ayla panas. Walau Ayla tak pernah melihat Roxy merayu ataupun bersama dengan wanita lain. Namun, pria bule itu pernah beberapa kali melecehkannya saat pertama bertemu dulu. Itu cukup membuat Ayla berpikir buruk tentang Roxy.
"Aku memang tak pernah melihatnya merayu wanita. Tapi, dengan ku saja dia pernah langsung memeluk, bahkan menciumku paksa. Huuhh, pasti sekarang ini burungnya udah tegak berdiri." Gerutu Ayla dalam hati mencob tidak terpancing oleh sikap cuek Roxy yang terus di gelayuti manja oleh sang biduan."Biduan seksi ini gatel banget. Apa dia tak punya baju sampai pakaian kurang bahan begini di pakai?"
"Ummpp,, tuan, bagaimana kalau setelah makan menemani ku di belakang panggung?" Ucap sang biduan tanpa malu dan tak memperdulikan keberadaan Ayla di meja Roxy.
"aku sangat kesepian, kita bisa melakukan banyak permainan menyenangkan."Rayu biduan itu membungkuk disisi Roxy dan menempelkan dadanya di lengan pria itu.
Roxy masih tak bergeming, sibuk dengan makanannya. Karena memang sedari pagi ia tak makan. Baginya, wanita yang bergelayut merayunya sudah biasa. Hingga ia tak begitu terganggu dengan kelakuan biduan tak tau malu itu. Tanpa melihat sepasang mata yang menatap tak suka.
"Anggap saja sebagai ucapan terima kasih." Merasa tak mendapat penolakan, biduan itu semakin lekat menempelkan tubuhnya yang menonjol pada Roxy.
Ayla menyentak nafasnya kuat untuk mengusir rasa kesalnya. Pikiran buruk Ayla lebih mendominasi, melihat Roxy tak terganggu dengan wanita yang terus menempeli.
"Tentu saja dia tak terganggu... Wanita cantik dan seksi terus menempel semua pria pasti suka." Gumam Ayla dalam hati, ia menggenggam kuat sendok ditangan. Lalu memilih berdiri dan pergi karena tak sanggup melihat Roxy diam saja.
"Hey! Kamu mau kemana?" Protes Roxy berdiri dari duduknya merasa bingung dengan sikap Ayla yang tiba-tiba pergi. Ia sama sekali tak peka dengan keadaan dirinya di tempeli oleh wanita seksi.
"Tuan.. Biarkan saja dia, masih ada aku. Apa kita akan melanjutkan di belakang?"
Roxy menatap tajam sang biduan. Wanita seksi itu sedikit mundur dan gemetar mendapat tatapan setajam itu.
"Aku tidak berselera pada wanita yang sudah terbuka bungkusnya..." Sarkas Roxy, menatap wanita seksi itu dari atas ke bawah. "Jika wanita ku tak kembali, bersiaplah melihat hari esok yang tak pernah bisa kamu bayangkan."
Wanita itu menegang, keringat tiba-tiba saja meluncur dari pelipisnya. Menatap punggung Roxy yang menjauh.
.
.
.
"Dia diam saja, atau mungkin malah menikmati. Apa aku sama sekali tak terlihat di matanya? Apa keberadaan ku tak ada artinya sampai dia begitu tega? Aku ini calon istrinya. Bisa-bisa nya dia membiarkan wanita lain menempel padanya..." Gerutu Ayla dalam hati sembari melangkah keluar dari resto."Apa dia benar-benar tidak akan menyusul ku? Keterlaluan!"
__ADS_1