Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 84


__ADS_3

Di kamar Raize, Kayla duduk tak lama pria itu mendekat dengan sebuah baskom dan handuk tangan.


"Buka bajumu, biar kulihat memar yang kamu dapatkan."dengan entengnya Raize memberi perintah yang membuat Kayla tak habis pikir.


"Apa? Buka baju?"


Raize merasa kesal Kayla mempertanyakan hal jelas keluar dari mulutnya."Iya, apa kamu nggak bisa bahasa Indonesia?"


Kayla menyentak nafasnya keras-keras. Lalu memukul kepala Raize."Enak kali mulut mu bicara."


"Aaauuu, enggak kakek, enggak kamu. Apa aku begitu menggoda untuk di pukul?" Protes Raize memegangi kepalanya menatap kesal Kayla.


"Itu karena kamu tak bisa memfilter ucapanmu. Bagaimana bisa kamu menyuruhku yang seorang gadis baik-baik ini membuka baju di depanmu? Kau pikir aku ini wanita bodoh yang selalu kau tiduri?"


Raize memandang Kayla dengan geram. Omongan bocah itu memang benar, selain terbiasa dengan wanita yang menanggalkan pakaian tanpa malu. Profesi raize yang seorang dokter kadang memang tak jauh dari tubuh pasiennya. Tentu dalam hal positif.


"Kau ini, sepertinya lengan dan punggung tidak separah itu sampai bisa memukul kepalaku." Oceh Raize menatap sengit Kayla. Kayla sendiri mencebik dan melengos."Cepat buka bajumu jangan kebanyakan alasan."


"Tidak mau!"


"Lalu bagaimana caraku mengompres punggung mu?"


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Sengit Kayla, sudah berada dalam satu kamar dengan Raize saja membuat Kayla merinding dan berpikir yang tidak-tidak.


Raize menatap remeh Kayla yang keras kepala. "Kau tidak akan bisa. Aku tau bahu dan punggung mu memar. Kau akan kesulitan."


Kayla tak bergeming. Ia acuh dan mengangkat baskom diatas meja yang Raize bawa tadi. Namun, bahu dan punggungnya benar-benar tak bisa di ajak kompromi. Denyut nyeri membuat Kayla meringis.


"Sudah kubilang. Jadi jangan bandel." Oceh Raize menahan bibir baskom. "Cepat buka!"


"Tidak mau, aku masih bisa minta tolong pada pekerja di sini."


"Mereka sudah tidur! Jangan membuat susah."


Kayla terdiam sejenak, memikirkan ucapan Raize cukup masuk akal. Ini sudah jam dua dini hari. Sudah pasti para pelayan tidur. Vina pun begitu.


"Sudahlah, tidak perlu di kompres. Biar saja." Lirih Kayla akhirnya memutuskan. Ia tak Sudi membuka bajunya di depan Raize.


Raize merasa sangat geram pada gadis yang dia anggap keras kepala itu. Walau bagaimanapun, luka itu Kayla dapat karena menggantikannya. Raize bahkan tak abis pikir kenapa Kayla sampai melakukan hal semacam itu. Padahal mereka juga tak pernah akur.


Kayla berdiri, kakinya mengayunkan hendak melangkah. Dengan cepat Raize menarik tangan Kayla hingga gadis itu terduduk di depannya. Raize mengunci tubuh Kayla dalam dekapan. Tangan nya bergerak masuk ke dalam kaus yang Kayla kenakan, yang tentu saja mendapatkan penolakan dari Gadis itu.


"Apa yang kau lakukan?! Dasar mesum!" Pekik Kayla memberontak."Lepaskan!"


"Diam! Jangan teriak-teriak! Kau mau kakek dengar?"


"Biar saja! Apa kau pikir aku wanita murahan?" Jerit Kayla makin histeris,"aaakkkkhhh...." Ia merasakan sentuhan punggung nya yang lebam. Sentuhan dari handuk yang hangat.

__ADS_1


"Diam! Kau sama sekali tak bisa di ajak kerjasama. Atau kau mau melepas bajumu?"


Kayla bergeming. Sentuhan hangat pada lebamnya membuat ia merasa lebih nyaman. Sejenak mereka terdiam dalam posisi seperti itu. Saat merasa Kayla tak lagi melakukan perlawanan, Raize melepas kunciannya.


"Aku juga bukan orang yang sembarangan bercinta pada semua wanita." Ungkap Raize.


"Kau membawa mereka pulang, aku yakin saat aku menelepon mu, kau pasti sedang bersama seseorang."


"Benar. Kami lagi nanggung."


Kayla tertawa kecil.


"Huuhh, dasar! Kau senang?" Raize mencebik sinis. Ia menarik tangannya lalu mencelupkan nya lagi pada baskom berisi air panas memerasnya. Matanya melihat kaus Kayla yang sedikit basah.


"Kau harus benar-benar melepas kaus mu."


"Tidak akan kulakukan." Tegas Kayla menjawab.


Raize mengehela nafasnya, lalu beranjak dari duduk. Raize mengambil selimut dari atas ranjang. Lalu menyelimuti Kayla, "lepas bajumu, dan tutupi bagian yang ingin kamu tutupi. Biarkan bagian yang lebam terbuka agar aku juga bisa mengoleskan obat lebam."


Kayla masih memandang Raize dengan kecurigaan. Dan Raize tau itu.


"Ya ampun..." Gumam Raize."apa aku harus keluar kamar?"


Melihat Kayla diam dan menatapnya membuat Raize mendessaahh panjang. "Aku hanya akan berbalik dan memejamkan mata. Terserah kamu mau bagaimana." Lanjut Raize sembari membalikkan badannya dan menutup mata.


"Tidak akan, demi profesiku." Sahut Raize.


Walau ada rasa tak nyaman, Kayla melepas kaus walau sedikit kesusahan karena bahunya sakit. Lalu, ia menutup tubuhnya dengan Selimut. Menyisakan bahu hingga lengan yang sedikit terbuka.


"Sudah."


Raize membuka matanya dan berbalik. Ia duduk dengan Kayla yang memunggunginya. Raize mengambil handuk tangan yang terasa hangat dan lembab. Tangan pria itu bergerak mengompres bahu dan punggung Kayla yang membiru. Raize merasa sangat bersalah, dialah yang seharusnya mendapatkan itu.


"Kenapa kau lakukan itu?"


"Lakukan apa?" Kayla bertanya balik.


"Menerima pukulan kakek. Aku ini laki-laki dan sudah biasa mendapat hal semacam ini."


"Aku tidak tau, tubuhku hanya reflek bergerak."


Raize tertawa kecil, "reflekmu sangat berbeda dengan kami. Jika kami justru senang dan membantu kakek memegang cucu yang akan di pukul." Terang Raize terkekeh mengingat tingkah dirinya, Rocky dan Vina.


Kayla hanya menanggapi dengan senyuman. Kenangan tentang masa kecilnya berkelebat di kepalanya. Saat ia, Ayla dan adik lelakinya mendapat hukuman. Mereka pasti akan saling menjaga.


"Mungkin ini tak lepas dari masa kecil kami." Ungkap Kayla.

__ADS_1


"Masa kecil?"


"Iya, kami saling melindungi dan menjaga. Mbak Ayla sering menjadi tameng setiap kali bapak marah dan memukul kami dengan rotan."


Raize menghela nafasnya, "kenapa orang tua di masa lalu menggunakan kekerasan untuk mendisiplinkan anaknya."


"Kurasa itu agar si anak selalu mengingatnya."


"Itu tidak baik. Semoga jika aku nanti menjadi orang tua tidak akan begitu." Ucap Raize, setelah melihat lebam di punggung Kayla tak lagi terlihat lebam parah. Raize berganti mengambil salep lebam.


Kayla tiba-tiba terkikik kecil.


"Kenapa tawamu menakutkan?" Raize bergidik mendengar suara tawa Kayla yang terdengar seperti kuntilanak.


"Aku tak habis pikir, seorang player bisa berkeinginan memiliki anak. Kupikir kau hanya akan bercinta dengan wanita." Jawab Kayla jujur."kupikir kamu tak mau terikat pada seorang wanita."


"Entahlah, untuk punya anak kita tak harus terikat pada wanita."


Kayla tertegun, "kamu benar..."


Malam itu, Kayla tidur di kamar Raize. Ia tidur di ranjang sedangkan Raize di sofa. Karena gadis itu bersikeras untuk tidur di sofa dan tak mau tidur seranjang dengan Raize. Walau bagaimanapun, Raize tak Setega itu membiarkan Kayla tidur di sofa setelah lebam yang di dapat.


Keesokan paginya, mereka sarapan bersama. Kakek Yaris beberapa kali mencuri pandang pada Kayla yang terlihat biasa saja meski bahunya telah kena pukul oleh tongkat kakek tua itu. Hal itu membuat kakek merasa bersalah semakin besar.


"Raize, bawa istrimu ke rumah sakit sekalian."


Kayla menegakkan kepalanya menatap sang kakek yang duduk di kepala meja makan. Begitupun dengan Raize.


"Cek apakah ada tulangnya yang patah."


"Baik, kek."


"A-aku tak apa, hanya lebam biasa, kek." Kayla menolak karena merasa tak enak hati.


"Ini." Kakek Yaris mengeluarkan sebuah amplop coklat panjang.


"Apa ini, kek?" Tanya Kayla, pandangan matanya bergantian memandang amplop itu dan kakek Yaris.


"Buka saja."


Kayla menelan makanan di mulutnya lalu membuka amplop coklat itu. Mengeluarkan isinya. Mulut Kayla menganga melihat sebuah cek senilai 100juta.


"Apa maksudnya ini, kek?" Tanya Kayla bingung.


"Itu kompensasi, sebagai permintaan maaf kakek padamu. Sepertinya kakek sangat merasa bersalah." Vina menjelaskan dengan mengulas senyum geli.


"Iya, itu sogokan. Sudah terima saja." Timpal Raize.

__ADS_1


__ADS_2