
Kayla memandang lembaran cek di atas meja. Ia merasa tak enak menerima nya, uang itu terlalu banyak baginya. Ia sudah menolak, tapi sepertinya, kakek Yaris tak begitu mendengarkan dan terus memaksa. Akhirnya, Kayla hanya menatap benda tipis di atas meja itu.
"Kayla, ayo temani aku ke mall."
Kayla mendongak melihat pada gadis cantik yang kini berdiri di depannya.
"Ke mall?"
"Ayo habiskan uang dari kakek."
Kayla terbengong.
"Hei! Malah bengong!" Vina mengibaskan tangannya di depan wajah Kayla.
"Punggungku masih sakit." Tolak Kayla karena memang dia tak ingin pergi.
"Aaahh, kakek memang keterlaluan, bagaimana bisa dia malah memukulmu. Harusnya, kamu memegangi Raize agar jangan sampai lolos. Bukannya malah menggantikan dia di pukul." Omel Vina menyayangkan sikap Kayla. Meski begitu, ia menyimpulkan jika Kayla memiliki perasaan lebih pada kakaknya.
Kayla hanya melempar senyum. Yang melatarbelakangi tindakannya itu adalah reflek dari sikap melindungi saudara ketika dihukum oleh bapaknya dulu.
"Kayla jika masih sakit, kita ke rumah Sakit saja. Luka mu harus di periksa, bagaimana jika ada yang patah. Kakek juga sangat khawatir."
"Aku tidak apa-apa. Sewaktu kecil aku dan kakakku sering mendapat pukulan rotan jika melakukan kesalahan, ataupun tidak mengerjakan kewajiban kami." Balas Kayla tersenyum.
Vina mengangguk mengerti. "Ya sudah kalau begitu. Kamu mau apa hari ini? Apa kamu akan ke kampus?"
Kayla menggeleng. "Tidak ada lagi yang harus aku lakukan di sana. Hanya tinggal menunggu wisuda."
"Oohh... Jadi kamu akan seharian di rumah?"
Kayla mengangguk, "mungkin."
###
Di sisi lain, di rumah sakit.
Raize menyenderkan punggung di kursi kerjanya. Melpas lelah setelah melakukan beberapa tindakan pada pasien. Raize termenung, dalam diamnya, ia terpikirkan oleh sikap Kayla. Dalam setiap pergolatan, dan setiap kali mendapat hukuman bersama semua saudaranya bersikap sama.
Mereka sangat mendukung dan menikmati hukuman dari sang kakek. Tentu saja sikap Kayla yang justru menjadikan tubuhnya sebagai tameng sangat mengusik nya. Bayangan akan kejadian semalam saat Kayla melompat dan berdiri di depan tubuh terus berkelebat di kepala.
Raize terusik, tak pernah sekalipun dalam hidupnya, ia merasa seterganggu ini. Ya, bayangan Kayla sangat mengganggunya. Luka lebam di pungung dan pundak gadis itu semakin menambah rasa bersalah dan memupuk sesuatu hal yang lain di hatinya.
__ADS_1
Raize sejenak teringat kejadian semalam,
"Iya, kami saling melindungi dan menjaga. Mbak Ayla sering menjadi tameng setiap kali bapak marah dan memukul kami dengan rotan."
Kalimat Kayla itu terus terngiang di telinga Raize. Pikirannya menjelajah ke malam itu.
Flash back dikit.
"Kayla, bajumu basah. Tak usah di pakai lagi. Ini, pakailah bajuku dulu." Ucap Raize menyerahkan kemejanya.
Kayla hanya memandang kemeja di tangan Raize mau menerima nya tapi mengangkat tangan dan menyibak selimut tentu akan menampakkan kulit tubuhnya yang dia tutupi dengan selimut.
Tau, Kayla merasa tak nyaman, Raize meletakkan kemeja itu di atas pangkuan Kayla. "Aku ke kamar mandi dulu. Agak lama. Perutku sakit." Ucap Raize yang sengaja ingin memberi ruang bagi Kayla untuk bebas mengenakan bajunya.
Usai mengatakan itu, Raize berjalan ke kamar mandi dan menutup pintu. Lalu bersandar pada pintu kamar mandi sembari melipat tangan di dada. Kayla masih tergugu di tempatnya menunggu sesaat sebelum menyibak selimut dari tubuhnya.
Dengan susah payah Kayla memakai kemeja yang kebesaran itu. Meski tak sesulit ketika melepas kausnya.
Malam itu, Raize tak bisa tidur. Ini bukan pertama kalinya ia tidur sekamar dengan wanita. Tapi, ia terus di Landa gelisah dan rasa bersalah pada Kayla.
Kayla pun sama. Bagaimana bisa dia tidur di kamar yang sama dengan seorang pemain seperti Raize. Pikiran buruk terus berkelebat di otaknya. Meski Raize sudah menyakinkam jika dirinya tak akan menyentuh Kayla ataupun mendekat ranjang. Tetap saja, bagi Kayla, Raize adalah serigala. Dan ia harus waspada. Namun, karena kelelahan pada akhirnya, Kayla tidur juga.
Kembali ke masa kini.
Raize mengusai wajahnya, lalu memajukan tubuhnya hingga menyentuh meja kerja. Menumpukan kedua siku tangannya di atas meja transaparan itu, dan menyembunyikan wajah tampan itu di kedua telapak tangannya.
Raize merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Perasaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
###
Begitu menginjakkan kaki di rumah, Raize langsung mencari Kayla. Luka lebam di tubuh Kayla terus mengusiknya, terlebih itu di dapatkan Kayla karena melindungi dirinya dari amukan sang kakek.
"Nona Kayla di taman belakang bersama tuan besar." Kata salah satu pelayan yang bekerja di rumahnya.
"Kakek masih di sini?" Gumma Raize merasa heran, seingat Raize, kakeknya itu tak pernah betah bila tinggal lebih lama di rumah Raize. Entah apa yang membuat kakek tua itu masih berada di kediaman sampai sekarang.
Raize berjalan menyusul ke taman belakang. Melihat betapa akrab nya Kayla dan kakek. Seperti tak berjarak. Membuat Raize mengulas senyum dan merasa lega. Ia lalu mendekat,
"Bagaimana punggung mu?"
"Sudah baikan." Jawab Kayla tampak terterkejut melihat Raize tiba-tiba berada di samping nya..
__ADS_1
"Benarkah?" Sangsi Raize, "biar kulihat."
Raize menarik kemeja Kayla, dan tangan itu langsung mendapat pukulan dari Kayla.
"Auuuu...." Raize menatap Kayla protes."Apa kamu tak bisa bersikap lembut, bukankah kau sedang terluka?"
"Jangan bersikap tidak sopan di depan orang tua." Omel Kayla.
"Benar juga." Gumam Raize. "Kenap kakek masih di sini?" Tanya Raize menatap kakeknya.
"Apa tak boleh?"
"Kapan kakek pulang."
"Kakek tidak pulang, kakek akan menginap di sini."
"Apa?" Raize dan Kayla memekik bersamaan. Jika kakek menginap, itu artinya, mereka harus sekamar lagi.
"Ayo kita jujur saja, aku tak mau kita terus seperti ini." Ungkap Kayla begitu mereka berdua kembali ke kamar.
"Tidak bisa, kakek belum menyerahkan sahamnya padaku." Tolak Raize, sebenarnya itu hanya alasan Raize. Sebenarnya, pria itu sudah mendapatkan apaa yang dia inginkan. Hanya, entah kenapa perasaan nya kini membuat Raize tak mengerti. Ia tak ingin jauh dari Kayla.
"Buka bajumu, biar kulihat lebam itu sudah berkurang atau belum."
"Tidak mau." Tolak Kayla tegas."ayolah, kita bicara pada kakek. Beliau pasti mengerti."
"Buka dua kancing kemejamu lalu turunkan sedikit lengan bajumu. Aku hanya perlu melihat luka itu dan mengoleskan obat ini."
"Aku bisa melakukannya sendiri."
"Jangan membantah, cepat lakukan!"
Tak ingin berdebat, akhirnya Kayla menurut, sembari terus membujuk Raize untuk mengakhiri ini.
"Apa kamu tak bisa bersabar dan menunggu sampai satu tahun berlalu?"
Mata Raize menatap lebam di punggung Kayla. Rasa bersalah itu terus merajai relung hati pria tampan itu. Raise hendak menyapu salep ke lebam Kayla. Namun tali bra sedikit menghalangi, Raize menurunkan tali itu ke lengan Kayla.
"Apa-apaan kau ini?" Kayla memprotes dengan muka kesal menoleh kebelakang..
"Diamlah, ini menghalangi. Aku profesional dalam bekerja. Jangan kau pikir aku sedang berbuat mesum padamu." Omel Raize ikut kesal, kesal pada dirinya sendiri. Ada yang tegak, tapi bukan keadilan.
__ADS_1