Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 53


__ADS_3

Di depan rumah yang sudah hampir lima tahun tidak Ayla tapaki sejak menikah dengan Alfa. Janda cantik itu mengetuk pintu yang tertutup rapat.


Tok tok tok


Terdengar suara sahutan dari dalam tak berapa lama, lalu pintu itu Terbuka. Wajah keriput dan tua wanita berjilbab lebar tampak terkejut. Lalu serabut wajah bahagia terukir bersama senyuman.


"Ayla. Alhamdulillah, kenapa nggak ngabari emak, nak?" Bu Rahman memeluk anak yang sangat di rinduinya.


"Maaf Mak, baru bisa pulang sekarang, Ayla nggak kasih kabar biar jadi kejutan." Ayla nyengir. Dalam haru kedua wanita beda generasi itu saling berpelukan.


"Ini Uwais, mak." Suara Ayla yang sudah menangis haru itu, membawa Uwais kedepan tubuhnya. Bu Rahman terlihat sangat bahagia, lalu memeluk Uwais penuh haru dan sayang.


"Ini nenek, nak."


"Pak! Bapak! Anak mu pulang pak!" Bu Rahman berseru ke arah dalam rumah.


"Ayo masuk dulu nak." Ajak Bu Rahman.


" Udah sebesar ini cucunya nenek." Ucap Bu Rahman semabri menggendong Uwais lalu menghujaninya dengan senyuman.


"Suamimu mana, ay?" Tanya Bu Rahman karena tak melihat Alfa bersama mereka, belum sempat terjawab, Bu Rahman sudah bersuara agak keras lagi memanggil suaminya."pak! Anakmu pulang!"


"Iya mak e." Sahut pak Rahman dari arah dalam.


"Bapak!" Ayla bergegas menyalami dan mencium tangan bapaknya. Lalu memeluk sang ayah.


"Anak gadisku. Kamu sehat saja to nak?" Tanya bapak ikut larut dalam haru.

__ADS_1


Ayla mengangguk dengan mata yang mulai berkaca-kaca lagi.


"Mana suamimu? Mana Alfa? Nggak ikut?"


Ayla tersenyum getir, orang tua nya memang tidak tau menahu tentang perceraian nya. Sengaja Ayla tak memberi tahu karena tak ingin mereka kepikiran.


"Enggak pak. Maafin Ayla, Nanti Ayla cerita."


Emak dan bapak saling melempar pandangan.


****


Dalam ruang tamu yang serasa sangat hening. Bapak dan emak merasa sedih sekaligus kecewa. Sedih karena bahtera rumah tangga anaknya harus karam begitu saja. Dan kecewa karena Ayla baru memberikan nya pada mereka sekarang.


"Maafkan Ayla, Mak, pak. Ayla nggak bisa jika harus berbagi suami. Ayla masih bisa bertahan dalam kondisi ekonomi sesulit apapun. Tapi, untuk berbagi ranjang dengan wanita lain. Ayla nggak sanggup. Maafkan anakmu yang lemah ini pak, Mak." Tangis Ayla pecah di bawah kaki bapak dan ibu Rahman.


Ayla tersedu memeluk ibunya, sedangkan Uwais duduk di pangkuan Sang kakek. Bocah polos itu sama sekali tak paham dengan situasi. Ia hanya terdiam dengan mainan di tangannya.


"Ayla boleh tinggal di sini ya mak."


Bu Rahman terkekeh kecil, memukul lengan anak gadisnya. Baginya, Ayla tetaplah anak gadis meski sudah menjadi janda.


"Ini rumahmu nak, kenapa tidak boleh."


Ayla tertawa dalam harunya. Merasa bersyukur orang tuanya dapat menerima keputusan dan perceraiannya dengan baik.


Selama di kampung halaman, Ayla memutuskan untuk membuka sebuah warung makan kecil-kecil di pinggiran kota. Tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dengan bermodal dari gaji selama hampir lima bulan bekerja di kediaman Roxy yang dia simpan.

__ADS_1


Selama tinggal di sana, Ayla bahkan tidak mengeluarkan sepeserpun uang. Karena semua sudah di sediakan, mulai dari makan, peralatan mandi dan lain lain. Hingga gajinya tersimpan rapi di rekening pribadinya.


Sementara itu, di belahan bumi yang lain.


Roxy di sibukkan oleh pekerjaannya, sejenak melupakan tentang Ayla. Ya, hanya sejenak, karena ketika ia terlena sedikit saja, ingatannya akan kembali pada wanita pemilik senyum manis itu.


Selama beberapa bulan di negara nya sendiri. Roxy bertemu dengan teman-teman lamanya, dengan keluarga, dan juga kerabat. Menghabiskan waktu dengan keramaian, namun Roxy merasa sepi.


Hati dan jiwa nya terasa kosong.


Roxy memasuki sebuah chapel tak jauh dari tempatnya singgah. Pria tampan itu menatap bangunan sederhana dengan segala kereligiusan nya.


Roxy gamang, sepanjang hidupnya tak pernah sekalipun ia merasa sebimbang ini. Di satu sisi , ia dihadapkan pada cinta nya pada Ayla. Dan di sisi lain, dia mempertaruhkan cinta pada Tuhannya.


Roxy melangkah semakin dekat dan duduk di kursi barisan kedua dari depan. Pria bule itu mengedarkan pandangan di setiap sudut kapel. Tangan Roxy menyentuh ujung sandaran bangku, tersenyum kecut.


Ada rasa sedih dan tak rela di hatinya. Sudah sejauh ini berjuang untuk wanita yang terus mengusiknya, yang menemani hari dan setiap malam. Yang mewarnai setiap harinya dengan cinta. Harus kah berakhir begitu saja?


Wanita cantik berjilbab yang selalu teguh pada pendiriannya. Yang membuat Roxy menjadi gila dan bodoh. Tapi, wanita itu pula lah yang membuat dia terbuka, menjadikan pria dingin menjadi hangat. Pria yang semula keras menjadi lembut.


Roxy menatap lurus ke depan. Matanya menerawang, hatinya sungguh dilema. Ia tumpukan kedua lengan pada sandaran bangku di depannya dengan sedikit membungkuk.


"Tuhan, aku memang bukan seorang yang religius, aku juga bukan seorang yang taat padamu, tapi ... Untuk melepaskan.... Aku..." Lirih Roxy menatap kedepan. Tenggorokan nya terasa sakit karena tercekat oleh dorong menyesakkan dari dadanya.


Roxy berada diambang kegamangan. Sungguh ujian terbesar dalam hidupnya. Jika kakek Yaris tidak mempermasalahkan dan terbuka. Bahkan dengan bebas memberikan keputusan pada Roxy. Namun, berbeda dengan diri Roxy sendiri. Ada beban berat yang menahan kakinya melangkah menapaki dunia Ayla.


Roxy mengusap wajahnya kasar. Dan menyembunyikan wajah tampannya di antara kedua lengan yang bertumpu itu. Bahunya berguncang pelan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Tuhan. Maafkan hatiku yang lemah ini..."


__ADS_2