
Pagi itu, Uwais menangis mencari mainannya. Bocah itu mencari di setiap sudut rumah, namun tak jua menemukan nya. Dan berakhir dengan tangisan pilu. Ayla yang sedang menyiapkan sarapan dan membiarkan Uwais mencari sendiri mainan nya yang hilang. Akhirnya tak kuasa lagi menahan air matanya.
Ayla meninggalkan pekerjaannya memotong tempe, rasanya tak tega mendengar tangis kehilangan Uwais.
"Anak ayah kenapa nangis?" Tanya Alfa yang lebih dulu menghampiri anaknya.
Ayla menghentikan langkahnya begitu mendengar suara sang suami mencoba menghibur uwais di ruang tamu.
"Mainan is hilang ayah..." Adu Uwais merengek di sela-sela tangis nya.
"Cup cup, jangan menangis. Ayah ada mainan lain buat is." Alfa mengeluarkan mobil-mobilan yang di belinya pada Uwais.
Uwais hanya melihatnya, lalu mengambil dan melemparnya ke lantai, karena bukan itu yang ia inginkan. Wajah Alfa merah padam karena marah.
"U-wa-is." Geram Alfa yang sudah mulai emosi hingga ke ubun-ubun nya.
"Uwais nggak mau itu ayah, aku mau mainan is, huwaaaaa...."
"Dengar ayah, Uwais! Itu mainan yang ayah belikan untuk mu. Dari pada tidak ada, ayo main dengan ini dulu." lontar Alfa mencoba bersabar dan mengambil lagi mobil-mobilan itu mendekatkan pada anaknya.
Namun, lagi-lagi uwais mendorongnya hingga terlempar.
"Uwais!" Alfa meradang melihat pemberiannya justru di tolak dan di lempar begitu saja. Padahal ia sudah sengaja membeli dengan sisa uangnya. Hal yang tak pernah ia lakukan.
Uwais menangis semakin kencang, sudah hilang kesabaran Alfa, ia hendak memukul Uwais. Dengan cepat Ayla menarik tubuh mungil anaknya kedalam pelukan.
"Pergi kamu mas! Sudah membuang main Uwais sekarang malah mau memukulnya! Apa salahnya? Dia hanya menginginkan mainan yang tak pernah kamu beri, ia mendapatkannya, malah kau buang! Di mana hati mu?"
"Ayla...." Alfa menyugar rambutnya frustasi. Terus di serang dengan kesalahan masa lalu membuat Alfa tak bisa berkutik.
"Aku tau, hati mu sudah ada pada Agya! Pergilah ke sana! Jangan sok memperdulikan kami seperti sebelumnya!"
"Ayla! Cukup! Mas tau mas salah!" Potong Alfa menjambak rambutnya frustasi. "Mas tau mas salah, biarkan mas menebusnya!"
"Tak perlu repot-repot mas! Kami sudah biasa tanpa mu." Tukas Ayla nyalang.
"a-y-la...." suara Alfa terdengar sangat putus asa.
__ADS_1
"Permisi!"
Suara seorang kurir di depan pintu rumah Ayla pagi itu, membuat Ayla dan juga Alfa melihat padanya.
Ayla yang berdiri memeluk tubuh mungil Uwais di dekat pintu. Menuntun anaknya mendekat sembari mengusap pipinya yang sempat basah.
"Iya, silahkan, ada apa ya mas?" Ayla bersikap baik-baik saja dan tersenyum ramah.
"Ada kiriman untuk Adek Uwais al-Qarni."
"Kiriman?" Kening Ayla berkerut tak mengerti, ia merasa tak memesan apapun.
Sang kurir tersenyum lebar sambil berkata : "barangnya ada di sini ya mbak."
Ayla berjalan ke teras. Betapa terkejutnya ia, melihat bertumpuk-tumpuk mainan di teras yang bahkan dua kali lipat lebih banyak dari semalam. Mulut Ayla sampai terbuka lembar sempurna. Sedangkan, Uwais berhenti menangis seketika.
"Ini punya Uwais semua om?" Tanya Uwais pada sang kurir.
"Iya."
Alfa ikut berjalan ke depan karena penasaran. Mata dan mulutnya melebar sempurna melihat tumpukan mainan masih dalam kardus yang baru. Lebih banyak dari yang ia buang semalam. Uawis tampak sangat girang dan membuka kardus mainan yang paling dia ingini. Bocah berusia tiga tahun itu tak lagi menangis.
"Mas, dari mana semua mainan ini?" Tanya Alfa brrpindah pada beberapa kurir yang hendak pergi.
"Oh, itu kiriman dari tuan Roxy Pierce. Kami permisi."
Jawaban dari sang kurir membuat Alfa mengepalkan tangannya. Ia mendekati tumpukan mainan dan Uwais.
"Buang mas! Buang mainan itu di depan Uwais. Saat itu juga kami akan langsung pergi ke kediaman tuan Roxy. Jangan harap kau bisa menemui kami." Sinis Ayla membuat Alfa mengurungkan niatnya."Kau dengar itu mas?"
Alfa melirik tajam pada Ayla, memindahkan semua amarahnya pada kepalan tangan yang sudah memucat. Lalu ia berjalan ke sisi teras dan menendang pot tanaman red Stardust hingga terlempar dan pecah.
Alfa marah, tapi ia juga tak ingin Ayla dan Uwais pergi ke rumah Roxy. Alfa memilih masuk ke dalam rumah dengan segudang kekesalannya.
Tubuh Ayla terasa lemas, dari semalam sudah terlalu banyak luapan emosi yang dia rasakan. Ayla menjadi semakin yakin untuk mengakhiri hubungan dengan Alfa.
***
__ADS_1
Seharian itu, Alfa hanya berdiam di rumah. Memperhatikan Uwais yang tampak sangat bahagia dengan mainan baru yang ia dapatkan dari Roxy. Alfa melirik pada mobil-mobilan yang ia beli teronggok begitu saja di atas meja tamu tanpa Uwais sentuh. Hatinya sangat sakit, Uwais sedikitpun tak menghargai pemberiannya. Pemberian pertama nya.
Alfa tersenyum getir. Melihat lagi kebelakang, betapa ia tak memperdulikan anak dan istrinya. Meminta mereka agar berhemat, sementara dirinya sibuk menyenangkan Agya. Bahu Alfa berguncang. Rasa sesal kini hadir di dalam dirinya.
Alfa beranjak dari duduknya, perlahan berjalan mencari sang istri yang ternyata sedang menjemur pakaiannya di belakang. Pakaian yang ia bawa pulang dari rumah Agya.
Bahkan dalam keadaan marah padanya pun Ayla masih tetap membuktikan baktinya sebagai seorang istri. Rasa sesal di dada Alfa semakin membuncah. Kini bayangan dirinya yang terus menzolimi istri dan anaknya menari di pelupuk mata.
"Maaf kan mas Ay." Lirih Alfa memeluk tubuh Ayla dari belakang kala wanita itu sedang menjemur baju.
"Lepas mas, tidak bagus jika ada anak kecil atau tetangga yang melihat." Tukas Ayla terdengar sangat dingin.
"Maafin mas Ay."
"Lepas mas."
"A-y-la...." Lirih Alfa di iringi hembusan nafas panjang.
Karena Alfa tak kunjung melepas pelukannya, Ayla memegang lengan Alfa dan melepaskan pelukan tangan itu dengan paksa.
"Maafin mas Ay. Mas salah." Sesal Alfa mengiba.
"Maaf? Mas kan kepala keluarga, imam dalam rumah tangga ini. Kenapa mas minta maaf, mas nggak pernah salah." Sindir Ayla menatap jijik pada suaminya.
Jika ia yang terus di sakiti dan di buat menangis, Ayla masih bisa menerima. Tapi hatinya sakit dan tak terima saat Alfa memarahi Uwais anaknya, bahkan hendak memukul bocah kecil itu. bocah yang baru berusia tiga tahun itu. Membuat Ayla berubah seketika, Ayla yang bahkan tak pernah meninggikan suaranya.
"Maaf Ay."
Tak ingin mendengar suara sang suami, Ayla memilih masuk ke dalam rumah mencari anaknya. Alfa mengikuti,
"Ay, maafkan mas."
Langkah Alfa terhenti saat melihat Ayla mematung di ambang pintu dan mendengar suara seorang pria di teras. Detak jantung Alfa seketika berdenyut kuat, tubuhnya seperti mendapat sengatan yang tiba-tiba membuatnya lemas. Alfa melangkah dengan nafas memburu. Berdiri di belakang Ayla.
Mata Alfa melebar, pria itu, kembali dengan menggendong Uwais dan memainkan remot sebuah pesawat ulang-alik.
Gigi Alfa bergemeletuk, beradu karena amarahnya yang kian memuncak. Ia tak rela, jika anak dan istrinya berpaling pada pria lain.
__ADS_1