
"Mas Alfa?"
Alfa menatap Ayla curiga. Sementara Ayla menghindari pandangan mata Alfa karena merasa tak enak dan bersalah. Ayla berjalan masuk ke dalam sembari mengendong Uwais yang terlelap. Berlalu melewati Alfa begitu saja, meski hatinya tak karuan.
Ayla tidak selingkuh, namun entah kenapa ia justru merasa bersalah karena sudah keluar dan tetangkap pulang bersama Roxy.
Ayla membaringkan Uwais di atas tempat tidur kamar bocah itu. Menyelimuti agar uwais tetap hangat. Ayla tersenyum menatap wajah damai anak semata wayangnya. Segala gundah dan sedih di hatinya menguap setiap kali menatap wajah itu.
Ayla membalikkan tubuhnya, betapa terkejut ia, melihat Alfa sudah berdiri tak jauh dari nya. Menatap penuh curiga dan selidik. Ayla membuang semua kemelut di dadanya. Rasanya seperti maling yang baru tertangkap basah, meski dirinya tak mengambil apapun.
Ayla berjalan melewati Alfa begitu saja, dengan perasaan bersalah. Kenapa ia harus merasa bersalah padahal tak melakukan perselingkuhan apapun? Sedangkan Alfa, berkali-kali menyakitinya dan berselingkuh. Namun ia terlihat baik-baik saja. Sedikitpun tak terlihat rasa bersalah.
Alfa menahan lengan Ayla, hingga wanita itu berbalik dan kembali berhadapan dengan Alfa.
"Apa hubunganmu dengannya?" tanya Alfa yang sudah merah padam.
Ayla meringis, menahan sakit akibat cengkraman kuat Alfa di lengannya.
"Sakit mas."
"Katakan Ayla! Apa hubunganmu dengannya?" mendelik semakin lebar,mungkin bola matanya akan lepas keluar sebentar lagi.
Ayla bergeming, ia merasa cengkraman Alfa makin kuat dan semakin menyakiti lengannya.
"Sakit mas, lepas."
"Katakan Ayla! Apa hubunganmu dengannya? Kau menjalin hubungan dengannya? Sejak kapan, ay? Apa karena itu kamu masuk ke kantin Roxcid?"
Mata Ayla berair menatap suaminya. Tuduhan dari Alfa sangat menyakiti hatinya. Alfa lah yang sudah berselingkuh, bukan dirinya. Tapi kenapa dia di sudutkan seperti pesakitan?
"Harusnya mas berkaca sebelum menuduhku seperti itu."
"Haaaha, jadi kau berselingkuh?"tuduh Alfa yang tak rela jika Ayla benar-benar menjalin hubungan dengan Roxy.
"Jangan samakan aku dengan mu mas."
"Lalu apa? Huummm? Kamu pergi dengan lelaki lain saat aku tak ada."
"Bukankah kamu juga? Pergi dengan wanita lain? Apa aku menghalangi mu mas?"
"Ayla! Kau masih istri ku Ayla! Beraninya kau keluar tanpa ijinku."
__ADS_1
"Kau sudah mentalakku mas!"
"Oohh, jadi karena itu kamu berani berselingkuh dariku?"
PLAK!
Air mata Ayla sudah memenuhi pelupuk matanya, kini meluncur bebas di pipi. Tangannya mungilnya terasa panas setelah ia gunakan untuk menampar wajah Alfa yang begitu tajam bersuara. Tanpa berkaca pada diri sendiri.
"Jangan samakan aku dengan mu mas!"
Hati Ayla yang sudah terluka, kini malah teriris oleh tuduhan hina dari suaminya. Air mata yang ia tahan, Ayla biarkan berderai dan menganak sungai di pipinya.
Ayla mengusap kasar pipinya yang basah. Lalu berjalan meninggalkan Alfa yang mematung menatap nya. Hati pria itu juga sakit. Melihat air mata jatuh dari netra indah sang istri. Kenapa ia merasa tak rela jika Ayla menjalin hubungan dengan pria lain? Kenapa ia merasa sakit saat tau Ayla pulang dengan pria lain? Benarkah dia sedang dilanda cemburu?
Alfa marah, pada Ayla. Tapi juga marah pada dirinya sendiri. Alfa mengambil langkah lebar menyusul istrinya. Ayla saat itu sedang memasukkan mainan pemberian dari Roxy.
Alfa melihat banyaknya mainan mahal, yang bahkan jauh lebih mahal dari yang dia beli. Hati Alfa panas, ia meradang. Melihat mainan yang dia beli sama sekali tak sebanding.
Alfa kalap, cemburu benar-benar sudah membutakan mata nya. tak sadar bahwa ialah yang sudah berhianat. Alfa berjalan cepat dan mengambil mainan-mainan itu melemparkannya dengan kasar keluar rumah.
"Mas! Apa-apaan kamu ini?" Protes Ayla yang baru saja memindahkan mainan terakhir.
Tanpa perduli dengan ucapan Ayla, Alfa bolak-balik membuang mainan itu dengan sangat marah.
"Hentikan mas!"
Merasa tak di dengar, dan tak bisa menahan gerakan Alfa. Ayla memilih melangkah keluar untuk mengambil kembali. Ayla tak mau jika Uwais bangun nanti dan mendapati mainannya sudah tak ada. Bocah itu akan menangis dan sedih.
Namun, belum sempat Ayla melangkah lebih jauh, Alfa sudah menarik lengannya.
"Lepas mas!"
"Dengar Ayla! Aku tak Sudi melihat ada barang dari laki-laki lain di rumah ini!" Teriak Alfa tepat di depan wajah Ayla.
"Itu milik Uwais mas!"
"Dari laki-laki itu kan?"
"Iya! Dari tuan Roxy. Ada pria baik yang dengan murah hati memberi mainan pada Uwais. Kenapa kami tidak menerima nya? Apa yang sudah kamu beri untuk Uwais mas? Tidak ada! Satu mainan saja tidak pernah! Kau justru sibuk menyenangkan wanita lain!" Teriak Ayla dengan lelehan air mata di pipi. Ayla menarik tangan dan melangkah hendak mengambil kembali mainan itu. Namun, lagi-lagi Alfa menahan lengannya.
"Lepas mas! Bahkan kebahagiaan Uwais pun mau kamu rampas?" Raung Ayla, mencoba melepaskan cengkraman Alfa namun sia-sia. "Kenapa kamu pulang mas? Pergilah ke rumah Agya! Wanita yang kamu agungkan hingga melupakan aku dan anakmu! Biar kami temukan kebahagiaan kami sendiri!"
__ADS_1
Alfa bergeming. kalimat yang Ayla ucapkan menambah rasa marah di hatinya, Alfa semakin membuat cengkraman tangan di lengan Ayla makin kuat. Alfa menarik paksa Ayla, menyeret tubuh itu masuk kedalam kamar Uwais dan menguncinya.
"Buka mas! Buka!" Raung Ayla mengetuk-ngetuk pintu dengan tangannya."Buka mas! Kenapa kamu jahat sekali pada kami? Buka mas Alfa."
Ayla meraung dan menangis sejadinya. Tubuhnya yang lemas merosot ke bawah dan bersandar pada pintu. Ia biarkan airmatanya mengalir begitu saja.
Sementara itu, Alfa yang sudah sangat marah, membuang mainan pemberian Roxy dengan brutal. Dadanya naik turun, nafasnya memburu. Alfa menyugar kasar rambutnya ke belakang, menampakkan urat-urat di wajahnya yang semakin menonjol karena emosinya tak kunjung reda.
Alfa melirik mainan yang ia beli. Rasa marah itu semakin menjadi. Dengan cepat ia menyaut kunci motornya. Lalu keluar rumah, memasukkan semua mainan yang tadi dia lempar keluar ke dalam trashbag.
Alfa menarik tuas gas motornya ke tempat pembuangan sampah. Lalu melempar trashbag berisi mainan ke sana.
"beraninya kau mencoba merebut hati istri dan anakku! Mereka tak akan aku lepaskan!"
***
"Unda...."
Ayla yang masih terisak membelakangi pintu kamar Uwais, bergegas mengusap air matanya. Ayla bangkit dan mendekati anak semata wayang nya.
"Unda..."
"Iya sayang. Bunda di sini." Sahut Ayla Duduk di bibir ranjang dan mengusap kepala Uwais.
"Unda nangis?"
Meski air mata sudah Ayla hapus, tapi senggukan tangisnya masih tersisa.
"Enggak sayang, bunda cuma... Bermimpi buruk. Maaf ya, apa bunda udah bangunin Wais?"
Uwais menggeleng.
"Unda..."
"Huummm?"
"Apa ayah sudah pulang?"
"Belum."
"Yah, padahal Uwais ingin tunjukin mainan is yang baru."
__ADS_1
Tuturan polos Uwais membawa Ayla terisak lagi, bocah kecil itu bahkan tak tau ayahnya telah membuang semua mainan yang baru ia dapat hari ini.