
Raize merasa bosan pagi ini, seusai sarapan dia kembali main PS. Beberapa hari ini ia memang mengambil cuti. Sebenarnya, ia ingin ke mansion kakeknya untuk melihat Kayla sedang apa, tapi ia enggan merasa gengsi jika harus kesana hanya untuk itu. Apalagi ada Vina di sana, ia pasti akan semakin kehilangan muka jika sampai adiknya itu tau.
Raize merasakan gawai di pangkuannya bergetar, gegas ia mengambilnya, berharap itu dari Kayla. Layar menyala, Raize mengecek ponselnya. Hanya beberapa notif dari rumah sakit tempatnya bekerja.
Raize menghempaskan benda itu ke sofa, lalu bermain lagi dengan stik di tangannya.
"Kau benar-benar mengabaikanku malam ini." Gerutu wanita seksi semalam.
Raize tak menjawab, bahkan menolehpun tidak. Asyik dengan menatap layar datar yang menempel di dinding. Merasa tak di acuhkan Raize, wanita cantik dan seksi itu merasa kesal. Ia melangkah makin dekat dan duduk di pangkuan Raize setelah merebut stik di tangan pria tampan itu.
Raize tak mengatakan apapun, ia hanya menatap datar wanita seksi yang menggodanya.
Sang wanita melempar begitu saja benda di tangan nya lalu mengalungkan tangan dengan manja di leher Raize. "Jika semalam tidak, setidaknya, pagi ini jadikan ku sarapanmu."
Tanpa basa basi, wanita itu melummat bibir Raize yang menggiurkan. Walau Raize tak berminat, namun, insting kelakiannya bekerja. Ia pun membalas ciuman dari sang wanita.
Merasa mendapat balasan, wanita itu semakin panas dan memperdalam ciumannya. Hingga ia kehabisan nafas sendiri. Hembusan nafas hangat nya mengepul dari bibir berwarna merah menyala.
"Di sini? Atau ke tempat yang lebih private, tampan?"
"Aku sedang tidak berselera."
"Benar kah?" Wanita itu mengoda Raize lagi."Jika aku bisa membuatmu tergugah, masukah kamu menyantap ku pagi ini?"
"Coba saja." Jawab Raize masih sama datarnya.
Wanita di atas pangkuannya kembali memberi Raize ciuman. Kali ini bahkan lebih panas. "Santap ku sampai habis, tampan." Gumam wanita itu dengan sangat manja mendessaah. Lalu mencium lagi bibir Raize.
Tangan Raize mengurut paha wanita nakal itu, merangkak naik hingga ke pinggangnya. Meski ia tak sungguh-sungguh ingin bermain dengan sang wanita. Namun, tangan itu bergerak sendiri. Wajah Kayla sibuk menari-nari di pelupuk matanya. Ya, dia membayangkan wanita itu sebagai Kayla. Saat ia tengah menikmati ciuman dari wanita nakal itu yang kini sudah hampir telannjang. Suara deheman terdengar di ambang pintu.
Raize membuka matanya, ia pikir mungkin itu adalah kakek Yaris. Ia menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya ia, ketika melihat Kayla di sana dan Ferguso di belakang gadis itu.
"Nona Kayla sudah pulang, tuan."
__ADS_1
Ada rasa tak nyaman menghinggapi Raize. Pria itu hanya terdiam dengan pandangan yang terus berpusat pada wajah Kayla.
Mata Kayla sudah memerah, terasa begitu panas melihat wanita seksi yang tali bahu nya sudah turun hingga ke lengan dengan dada yang hampir terlihat nipplenya.
Kayla membuang mukanya kesamping. Lalu berujar, "aku hanya mengambil beberapa untuk mata kuliahku. Maaf sudah mengganggu kesenangan kalian."
Kayla melangkah cepat dari tempatnya berdiri. Air matanya runtuh tanpa ia tau dan tanpa permisi. Kenapa ia harus merasa sesakit ini? Bukankah hal yang biasa jika seorang pemain melakukan hal itu? Bukankah ia sudah sering mendengar suara Desssahan wanita dari kamar Raize? Lalu untuk apa air mata ini jatuh? Untuk siapa?
Kayla masuk ke dalam kamarnya. Berdiri dan bersandar pada pintu yang menutup itu. Gadis itu meremas dada kirinya yang terasa sangat sakit. Air mata itu semakin deras meluncur di pipinya. "Kenapa? Kenapa Kayla? Kenapa kamu begini?"
Di ruang santai, setelah kepegian Kayla. Raize masih merasa kosong, melihat Kayla pergi begitu saja rasanya sangat tidak benar. Ingin menahan, tapi dengan alasan apa? Apa masih pantas ia menahan gadis itu?
Raize takut, gadis itu justru menganggapnya aneh. Tiba-tiba mengejar dan menahan tanpa alasan yang jelas.
"Tampan? Ada apa dengan mu? Siapa gadis itu? Apa dia juga wanita mu yang lain?" Tanya sang wanita nakal yang masih nyaman duduk di atas pangkuan Raize.
Raize memandang wajah sang wanita. Wajah dengan make up tebal dan bibir merah yang sangat menggoda. Bahkan sebagian lipstik itu sudah berpindah di sekitar bibir Raize.
"Kita lanjutkan?" Tawar Wanita itu lalu mendekatkan wajahnya lagi, belum sempat bibir itu bersentuhan, Raize mendorong hingga si wanita jatuh. Pria itu berdiri, wajah Raize bahkan terlihat bingung dan bimbang.
"Dokter sekks! Dokter sekks!"
Suara Kayla terus berdengung di kepalanya, juga bayangan wajah Kayla dengan mata yang memerah. Raize tau, pandangan mata yang terlihat kecewa dari sorot netra milik Kayla. Itu sangat menyesakkan dadanya.
Raize setengah berlari, melewati Ferguso yang masih berdiri di ambang pintu ruang santai yang kini sudah terbuka sangat lebar. Pandangan mata Raize hanya tertuju pada kamar Kayla. Ia harus melihat Kayla, ia harus menjelaskan...
Sementara itu, Ferguso yang melihat wanita nakal di ruang tengah menatap sang wanita yang terlihat bingung tiba-tiba di tinggalkan.
Sesampainya Raize di depan pintu kamar Kayla. Ia malah di landa kebingungan, bingung dengan apa yang harus dilakukan? Ia ingin melihat gadis di balik pintu kamar ini, tapi ia tak tau akan mengatakan apa untuk itu. Raize ingin menjelaskan, tapi, apa yang harus di jelaskan? Hubungan mereka saja tak jelas, dan perbuatannya itu jelas nyata adanya. Ia bermesraan dengan wanita lain.
Raize merasa sangat lucu dengan dirinya sendiri. Ia menyenderkan tubuh di tembok samping pintu kamar Kayla.
"Untuk apa aku cepat-cepat berlari kemari?" Gumam Raize pada dirinya sendiri. Terbayang wajah Kayla yang terlihat sangat terluka dan kecewa, membuat Raize mengusap wajahnya kasar. Lalu menyugar rambutnya kebelakang. Ia benar-benar tak tau apa yang harus di lakukan sekarang.
__ADS_1
Pintu kamar Kayla terbuka. Gadis cantik itu tertegun melihat Raize berdiri di depan pintu kamarnya. Gadis yang udah berhasil meredam gemuruh di dadanya, kini kembali dibuat tak karuan dengan keberadaan Raize di depan pintu kamarnya.
"Kenapa ia ada di sini? Apa dia tau aku menangis tadi? Apa ia merasa bersalah? Apa dia bermaksud menjelaskan apa yang sedang terjadi?" Gumam Kayla dalam hati, lalu gadis itu menggeleng pelan. "Tidak mungkin, untuk apa seorang pemain melakukan hal itu? Pasti ada alasan lain."
Tatapan mata Kayla menyelidik di wajah Raize yang masih bungkam di hadapannya.
"Apa ia mau melarangku untuk keluar rumah? Atau ia mau mengintrogasi ku tentang apa yang terjadi di rumah kakek Yaris?" Pikir Kayla.
Cukup lama mereka hanya saling diam dalam kecanggungan. Hingga Kayla membuka mulutnya karena tak tahan,"a-ada apa?"
"Uummm... Itu..." Raize menggosok tengkuknya memilih kalimat yang akan di ucapkan."Apa kamu kemari bersama Kakek?"
'Raize, bodoh, pertanyaan apa yang kau lontarkan ini, lihat wajah bingungnya itu?' runtuk Raise dalam hati semakin salah tingkah.
"Apa kamu melihat kakek bersamaku?"
Raize menggeleng,
"Itu artinya aku hanya sendiri." Ucap kayla terasa begitu dingin bagi Raize."Kalau begitu, aku pergi dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan."
Seusai pamit, Kayla melangkah melewati Raize yang mematung. Pria itu tak habis pikir dengan sikap Kayla yang terasa sangat dingin. Sebelumnya Kayla memang ketus, namun, tidak dingin seperti ini.
Raize merasa tak nyaman, ia mencoba menyusul Kayla. Atas dasar apa, iapun tak tau. Hanya ingin menyusul, ingin mengajak gadis itu bicara, walau tak tau apa.
Raize sampai di depan pintu utama, ia menoleh ke kanan dan kekiri. Mencari Kayla namun tak menemukan sosok itu. Justru wanita yang tak diharapkan datang.
"Tampan, aku harus pergi, kamu sungguh tidak menganggap ku. Aku sedih."
"Ya, ya, pergi saja, aku tidak perduli." Gumam Raize sangat lirih dan tentu saja wanita itu tak mendengarnya.
Wanita itu merasa gemas pada Raize. Ia pun akhirnya melangkah keluar dari tempat tinggal Raize saat gerbang utama di buka, dari tempat Raize berdiri, ia melihat Kayla sedang menaiki ojek online.
"Itu dia! Aku harus mengejarnya." Gumam Raize pada diri sendiri.
__ADS_1
Raize mengeluarkan mobil nya, lalu mencari ojek online yang membawa Kayla pergi."kemana Kayla?"