Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 115


__ADS_3

Di depan rumah, pak Rahman sudah berdiri di ambang pintu menyambut. Saat tadi mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Ayah dan emak Kayla yang sedang menonton tivi, langsung menuju ruang tamu dan mengintip Kayla dan Avan berdiri di samping motor.


"Siapa dia?"


Avan tersenyum kecil mendengar kalimat tanya dari pak Rahman yang terlihat tertegun dan menunjuk Kayla. Merasa heran karena anak gadisnya kini berjilbab, tidak seperti tadi pagi yang masih menggerai rambutnya.


"Dia Kayla, pak. Cantik kan?"


"Oohh, Kayla. Iya, cantik kalau pakai jilbab." Ucap pak Rahman manggut-manggut terlihat senang."Kok tiba-tiba pake jilbab, La?"


"Kan abis pulang kajian, pak." Jawab Kayla memberengut. Karena tau bapaknya hanya sedang menggodanya saat ini.


"Oo iya, bagus, bagus, bapak suka." Pak Rahman kembali menyungging senyum sumringah. Lalu beralih menatap Avan, "masuk dulu, Van."


"Emm,, makasih pak, saya lanjut aja. Udah malam, masih harus balik resto juga." Tolak Avan halus dan sopan.


Pak Rahman melihat di dinding ruang tamu. "Baru jam sembilan loh ini."


"Resto bentar lagi tutup pak. Mau breafing dulu sebelum anak-anak balik." Jawab Avan memberi alasan untuk menolak.


"Oohh, ya sudah kalau begitu. Bapak juga nggak mau memaksa."


"Tadi dijalan kami nyium aroma yang enak banget, terus inget bapak." Ucap Avan berbasa-basi sembari mengulurkan sekantong kresek martabak manis. Satu martabak telur sengaja Avan tinggal di motor, untuk dirinya sendiri. Mengingat Kayla yang membelinya, setidaknya, ia harus menyimpan satu.


"Waah, baru tadi pagi ngomongin martabak, udah kamu bawain aja." Seloroh pak Rahman menerima martabak yang Avan ulurkan.


Sementara Kayla yang tadi membeli martabak itu melebarkan matanya. Lalu bibirnya menipis karena kesal, dan berbalik ke masuk ke dalam rumah.


Setelah berbasa-basi sebentar dan menyalami orang tua kayla, Avan menarik tuas gas motor nya kembali ke resto tempat dia menginap sementara. Setidaknya, hingga cabang nya itu cukup aman untuk dia tinggalkan pada orang yang Avan percaya.


Sementara Kayla masuk ke kamarnya. Setelah membersihkan diri dan mengganti baju dengan piyama, Kayla duduk di meja riasnya. Kayla mengeluarkan kotak cincin yang Avan berikan tadi. Ia memandang benda itu, perasaan Kayla tak menentu. Rasa yang Raize tinggalkan masih tersisa di lubuk hatinya. Meski ia sudah sangat berusaha memendam rasa itu. Nyatanya, cinta untuk Raize belum juga usai.


Sejauh ini, Kayla sangat tau Avan begitu baik padanya. Bahkan saat ia merasa terpuruk, pria berambut gondrong itu ada di sisi. Membawanya menyusul Raize ke bandara. Hati seorang pria yang sangat lapang. Sungguh sayang jika ia lewatkan begitu saja. Tapi, sedikitpun Kayla tak memiliki perasaan pada pria baik itu. Hatinya hanya untuk Raize, meski kini hati itu telah remuk dan hancur oleh pria yang sama.

__ADS_1


Tok! Tok!


Terdengar suara pintu kamarnya di ketuk.


"Ini embak, La."


"Masuk mbak. Belum Kayla kunci."


Ayla masuk tanpa menutup pintu kamar Kayla dengan rapat, dan menyisakan segaris celah. Wanita yang sudah hamil tua itu duduk di sisi ranjang.


"Ada apa mbak?" Tanya Kayla lirih.


Ayla tersenyum melihat kotak cincin yang terbuka itu. Kayla tersentak saat menyadari ke arah mana Ayla memandang. Lalu buru-buru menutup kotak itu.


"Mbak tau, sudah sejak lama mas Avan menyimpan rasa pada mu. Walau dia tak pernah mengatakan apapun. Akhirnya, dia melamarmu juga, ya?" Cetus Ayla tersenyum memandang Sang adik.


"Kayla bingung, mbak."


"Bingung kenapa?" Tanya Ayla menyelidik di wajah Kayla,"apa karena kamu masih mencintai Raize?"


"La, kalau kata ustazah Oki dulu, jangan menolak lamaran dari pria baik." Cetus Ayla memberi Kayla saran."Mbak lihat, mas Avan pria baik. Baik dari segi agamanya, baik dari segi perilakunya, juga baik dari segi finansial nya. Kalau kata mbak, paket komplit."


Terdengar suara dehemen keras dari balik pintu kamar Kayla. Ayla melirik sekilas, "ehem, tentu saja lebih komplit DADDY ROCKY." Ujar Ayla dengan mengeraskan kata Daddy Rocky agar seseorang yang sedang menguping di balik pintu itu mendengar.


"Kau tau? Kakak ipar mu itu sangat pencemburu." Bisik Ayla pada Kayla yang terkekeh kecil.


"Kapan bang Rocky datang, mbak?"


"Tadi siang, hpl embak kan udah dekat. Jadi dia kemari buat nemenin." Ayla menjelaskan."oiya, La, coba kamu istikharah dulu. Biar di kasih petunjuk. Kalau emak sama bapak, positif setuju, mbak jamin 1000 persen. Tapi, La, keputusan tetap di tanganmu. Kamu yang jalanin nanti, kami hanya ingin yang terbaik buat kamu, dan nggak salah pilih." Ucap Ayla lagi menggenggam dan menepuk tangan Kayla.


Setelah berbicara dari hati ke hati dan cukup lama, Ayla keluar dari kamar Kayla. Bapak, emak dan Rocky yang menunggu di ruang tengah bergegas mendekat. Emak menarik tangan anak sulungnya, menjauh dari kamar Kayla. Lalu bertiga mengerumuni istri Rocky itu.


"Bagaimana? Tadi emak dengar cincin dan lamar. Ada apa? Emak pingin tau banget."

__ADS_1


"Tapi, emak janji ya jangan mendesak Kayla. Biarkan dia menentukan tindakan dan pilihan hidupnya sendiri."


"Iya, iya," sahut emak tak sabar.


"Janji juga jangan memaksa Kayla bertemu anak kenalan Mak lagi."


"Iya, iya,"


Ayla tersenyum senang lalu mulai berbisik-bisik, dengan tiga kepala lain yang mendekat dan memasang telinga.


_______


Di belahan bumi yang lain, dalam sebuah Chapel dengan suara nyanyian yang merdu dan serempak. Raize berdiri diantara para jemaat yang lain dengan kitmad. Setelah ibadah pagi usai. Raize masih tetap tinggal, pandangan matanya berkeliling di setiap sudut ruangan dengan pencahayaan lampu berwarna emas. Serta sinar mentari yang tembus melalui jendela yang tinggi-tinggi.


Pria itu masih merasa gamang, tapi, di sanalah ia merasa tenang. Oleh karena itu, Raize terus berlama-lama di dalam Chapel. Seorang uskup yang sedari tadi memperhatikannya, dapat melihat jelas kesedihan dan kebimbangan di di wajah Raize. Dia mendekat dan tersenyum ramah menyapa.


"Kamu bukan orang sini, kan Nak."


Raize menjawab dengan anggukan dan senyum getir.


"Sepertinya, kamu memiliki permasalahan yang pelik, jangan menyerah karena setiap manusia memiliki cobaan masing-masing sesuai porsinya. Yakinlah, kasih-Nya selalu membersamaimu."


Raize tersenyum dan mengangguk setuju.


"kamu bisa mengadu pada-Nya." Ungkap sang uskup berjenggot putih itu.


Raize ikut menatap ke arah sang uskup memandang di ujung altar.


Setelah cukup lama berbincang dan menjadi akrab, Raize keluar dari Chapel dengan perasaan yang lebih tenang. Pria tampan itu berjalan sambil mengecek ponselnya, tanpa ia sadari menabrak seorang bocah kecil yang mengenakan topi di kepalanya. Bocah kecil itu sampai terjatuh ke belakang. Dengan sigap Raize membantunya berdiri.


"Maaf, aku tak melihat dengan benar." Ucap Raize tulus, melihat gadis berwajah pucat itu mengukir senyum dan mengangguk samar. Jika di taksir, gadis kecil itu berusia sekitar 8tahun."Kamu baik-baik saja? Apa sakit?"


"Selena!"

__ADS_1


"Mama..." Gadis kecil itu berlarian ke arah wanita muda yang mirip dengannya.


"Ayo, paman Yoseph sudah menunggu." Ucap wanita yang di sebut mama oleh gadis bernama Selena itu begitu sudah dekat. Saat mata mama Selena bertemu dengan Raize, ia menunduk pelan dan melempar senyum. Lalu menuntun Selena masuk ke dalam Chapel.


__ADS_2