Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 46


__ADS_3

"Apa kau mencintaiku, Ayla?"


Ayla bergeming.


"Katakan kau mencintai ku, Ayla. Katakan semua yang aku lakukan tidak sia-sia. Katakan, kita masih bisa bersatu dengan segala perbedaan yang ada." Batin Roxy memohon.


Ayla menoleh sesaat dan melempar senyumnya sebelum melangkah keluar dari kamar.


Roxy masih memandang pintu yang sudah tertutup rapat itu. Genggaman tangannya semakin kuat terkepal di depan dadanya.


Waktu terus bergulir, pria itu masih tergugu di tempat nya, tanpa sedikitpun bergerak. Bahkan genggaman tangannya masih setia di depan dada.


"Aku tidak akan menyerahkan karena ini." Gumam Roxy perlahan melepas genggaman nya.


Roxy menatap wajah polos Uwais yang terlelap. Rasa sayang itu tumbuh seiring dengan waktu yang dia habiskan bersama.


"Aku mencintaimu, boy."


"Meskipun, awalnya aku hanya ingin menggunakan mu untuk mendekati Ayla. Tapi, sayang ini, sungguh ada untukmu. Kau membangkitkannya di luar kendaliku."


Roxy mengecup kening Uwais. Menjaganya agar tetap hangat dan nyaman di bawah selimut. Lalu ia sendiri beranjak keluar kamar. Roxy melangkah hendak memasuki kamar yang dia tempati. Langkahnya terhenti di ambang celah pembatas antara ruang keluarga dengan ruangan santai.


Ruang remang yang hanya bersekat lemari bufet itu hanya di terangi oleh cahaya tivi yang menyala. Roxy melangkah kesana. Sudut matanya menangkap Ayla yang tertidur di atas sofa panjang.


Roxy melangkah dan berjongkok tepat di depan wajah Ayla. Menikmati wajah yang terlelap itu.


"Ada banyak wanita yang mencoba memikatku, menggoda dan menjeratku dengan semua triknya. Dan kamu.... Aku terpikat tanpa kamu melakukan apapun. Aku menyerahkan diriku, merendahkan diriku di depanmu, dan kamu kukuh berdiri di atas tembok yang tebal dan berpondasi kuat ini."


Roxy menghirup udara dalam-dalam.


"Tembok siapa yang akan roboh, Ayla?"


Wanita di depannya sedikit menggeliat. Roxy masih berjongkok di tempatnya. Sesaat lamanya bertahan di posisi itu. Memandang wajah wanita yang sudah memporak-porandakan hati dan juniornya. Hingga subuh menjelang, Roxy baru bangkit dari sana. Berjalan melangkah menuju kamarnya sendiri.


Suara pintu kamar roxy yang menutup pelan, bersamaan dengan mata Ayla yang terbuka. Ayla menggosok matanya, lalu bangun terduduk. Mematikan tv yang masih menyala, barulah ia berjalan memasuki kamar. Sejak ragu untuk membuka pintu itu karena masih ingat Roxy tidur di dalam sana.

__ADS_1


Ayla menarik nafas dalam-dalam, lalu menyentuh handle pintu dan mendorongnya pelan. Ayla memasuki kamar, hanya ada Uwais di sana. Terlintas dalam ingatan Ayla, Roxy yang menyatakan cinta lagi, melamarnya lagi. Hati Ayla bergetar pelan, ingatnya terhenti pada benda yang mengalung di leher Roxy.


Ayla menarik nafas dalam lagi, sejak awal ia berusaha membatasi diri, tapi, Roxy terlalu kuat menggempur pertahanan nya.


Ayla berjalan ke kamar mandi, mengambil wudu, lalu menggelar sajadahnya. Dalam subuh yang syahdu, Ayla menengadah tangan. Memohon petunjuk dan kekuatan hati. Agar tak goyah oleh gempuran pesona Roxy.


Pagi itu, Ayla membantu Roxy lagi memakai pakaian kerjanya. Meski gibs nya sudah di lepas, Roxy menjadikan kegiatan pagi ini adalah salah satu job desk Ayla.


Ayla tetap melakukan tugasnya, tanpa sepatah katapun. Begitupun dengan Roxy yang memilih terdiam.


"Kalian tunggulah di pantai, aku hanya butuh waktu satu jam untuk selesaikan urusanku."


Netra kedua insan itu beradu, dengan pikiran dan pandangan masing-masing. Hingga hanya kecanggungan yang tersisa.


"Baiklah." Ucap Ayla mengalihkan pandangan. Lalu menjauh sejak dari tubuh Roxy yang cukup dekat kala itu.


***


Sesuai janji nya, Roxy kembali lebih awal. Selama dua hari tersisa, membawa Uwais mencoba beberapa permainan air, mulai dari snorkeling, jetski hingga flying board air.


"Uumm...." Angguk Uwais, terlihat binar bahagia di wajahnya.


"Apa lagi yang mau kamu lakukan di sini?"


"Ummmm....." Uwais tampak berpikir.


"Uwais pingin beli oleh-oleh buat teman-teman ku, Daddy." Ucap Uwais, "seperti teman-temanku, kalau pergi kasih oleh-oleh."


Ayla tersenyum kecil, "memangnya kamu punya teman is?" Goda Ayla,


"Punya, unda." Uwais lalu menyebutkan nama anak-anak tetangga kontrakan dan beberapa nama anak di dekat rumah sang mertua juga tak ketinggalan yang biasa main saat ia di kosan Adik Ayla.


"Waaahh, banyaka sekali temanmu."


"Beli ya Dadd?" Pinta Uwais tampak begitu bersemangat.

__ADS_1


Roxy menunjuk pipinya. Dengan cepat Uwais mencium pipi Roxy, tidak hanya itu, kedua pipi, kening bahkan hidung juga.


"Sudah, sudah, geli tau..." Kekeh Roxy.


Pria bule itu lalu menatap Ayla, "hei, kamu mau oleh-oleh juga nggak? Kalau kamu, cukup satu aja. Di sini." Sembari menunjuk bibinya sendiri.


"Tidak, lagipula aku tak punya teman."


"Benarkah?" Roxy tampak tak sepaham."bagaimana dengan temanmu di mansion dan di Roxcid?"


"Ooh, itu? Itu kan karyawan mu, harusnya kamu yang memberi mereka."


Roxy tertawa kecil. "Kau pelit sekali."


Setelah puas bermain di pantai dan air, Roxy mengantar Ayla dan Uwais berbelanja untuk oleh-oleh. Ayla yang kecapekan, karena mengikuti Uwais memilih barang ini dan itu. Uwais mengambil barang yang di ingini sementara Ayla yang melihat harganya segera mengembalikan ke tempat begitu Uwais lengah. Kegiatan itu mengundang senyum di wajah Roxy.


"Kenapa kamu begitu?" Roxy merebut sebuah mainan mobil-mobilan dari tangan Ayla yang hendak di kembalikan ke raknya. Lalu meletakkan kembali ke troli."kaamu nggak kasihan apa dia udah milih buat teman-teman nya?"


"Kamu nggak mengerti." Ayla mengambil lagi mobil-mobilan itu dari troli dan meletakkan di sembarang rak tanpa perduli dengan tatapan Roxy.


"Tolong jangan biasakan anakku menerima apapun darimu. Aku tak mau jika dia bisa dengan mudah mendapatkan apapun, lalu dia tak akan pernah tau rasanya berjuang. Ketika mudah mendapatkan, akan mudah pula untuk melepaskan." Ucap Ayla dan berlalu meninggalkan Roxy yang memantung. Pria bule itu merasa tersindir.


"Aku berjuang. Aku berjuang, Ayla. Apa kau tidak bisa melihatnya? Aku berjuang untuk mendapatkanmu." Suara Roxy lantang.


Ayla terhenti dan mematung seketika.


"Kenapa kau begitu sulit? Saat aku hanya berreaksi padamu?"


Ayla menoleh, "Kita terlalu banyak perbedaan, tuan Roxy. Kau adalah orang yang terlahir dengan sendok emas, tidak akan pernah tau rasanya makan beralaskan daun pisang."


Roxy berjalan mendekat, lalu berbisik tepat di telinga Ayla,


"Aku tidak pernah makan dengan sendok emas. Dan makan beralaskan daun pisang, aku ingin mencicipi nya." Tutup Roxy mencuri cium pipi Ayla dan berlalu dengan langkah cepat menggendong Uwais yang sudah melangkah lebih jauh di depan.


Ayla menyentuh pipinya. Lalu tangan itu turun kebawah dan berhenti di dadanya. Merasakan debaran di sana yang tak biasa. Ayla menghirup nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Apa kamu senang, Ayla? Apa kamu bahagia? Kau tau ini pelecehan kan? Apa kau sangat senang di lecehkan olehnya? Bahkan untuk bersatu saja, jarak yang membentang terlalu lebar dan dalam." Bisik Ayla pada dirinya sendiri.


__ADS_2