
"Anak muda! Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?" Kakek Yaris berdiri di tepian kolam ikan koi melihat Uwais yang sedang menangkap ikan berwarna indah itu.
Apalagi, kakek Yaris sangat tau, di mansion cucunya itu tidak pernah ada seorang bocah. Kakek Yaris yang yang menatap tajam pada Uwais membuat bocah berusia tiga tahun itu sedikit ketakutan.
"Aku bertanya padamu, kenapa diam saja?"
"A-aku tangkap ikan kek!"
"Apa? Siapa yang mengijinkan mu menangkap ikan?"
"Daddy." Jawab Uwais meski merasa sedikit takut, namun bocah itu selalu mencoba menjawab dengan jujur.
"Daddy? Siapa Daddy?"
Kakek Yaris lalu teringat dengan ucapan Roxy yang sudah mengurung Ayla. Wanita yang sangat di gilai oleh pria berusia 30tahun itu. Kakek Yaris mengangkat sudut bibirnya sebelah.
"Apa mama mu bernama Ayla?"
"Mama?" Uwais terlihat bingung, "aku punya bunda, tidak punya mama." Jawab Uwais polos.
"Iya, bunda. Apa bunda mu bernama Ayla?"
Uwais mengangguk.
Kakek Yaris terkekeh kesal. "Bocah tengik itu menyukai wanita bersuami ternyata?!" Geram kakek Yaris menghentak-hentakkan tongkat jalannya.
"Hei! Anak muda!"
______
Roxy baru saja keluar dari ruang meting tentu saja di sambut oleh Veloz dengan segudang jadwalnya.
"Aaagggg, lelah sekali." Keluh Roxy menyender di kursi kebesaran nya.
"Sepertinya, kita terpaksa pulang malam, Tuan Roxy."
"Ya ampun..." Roxy menggeleng lelah.
"Dua hari lagi kita akan berangkat ke pulau B. Meninjau beberapa perkembangan di sana."
Roxy seketika bangkit dari sandaran lemasnya. Menatap sang asisten.
"Dua hari?"
"Iya, tuan."
"Berapa lama di sana?"
"Sekitar tiga sampai empat hari."
"Apa kita bisa membawa Ayla dan Uwais serta?"
"Itu, terserah anda, tuan." Jawab Veloz ringan."Tapi, jika bersama mereka mungkin, butuh waktu lebih dari seminggu. Dan banyak jadwal yang mungkin terpaksa mundur. Itu pun, kalau nona Ayla mau."
Roxy menyentuh bibirnya berfikir. "Membujuk Uwais, tentu hal yang mudah. Tapi, Ayla...."
__ADS_1
"Mungkin jika anda membawa beberapa pelayan mungkin nona Ayla terkecoh." Veloz ikut berpikir.
"Aku mau kerja, Veloz. Bukan piknik." Tukas Roxy mendelik pada asistennya.
Veloz menutup bibirnya rapat-rapat. "Tapi sepertinya, anda ingin menjadikannya piknik juga."
"Aku tak tau akan sanggup bila tidak jika tidak melihatnya selama itu?" Rengek Roxy seolah ia akan mati jika tak melihat Ayla.
"Biasanya anda tidak melihatnya pun, anda biasa saja, tuan."
"Diam kamu, Veloz!"
Veloz menggulum bibirnya.
Sementara itu, di mansion Roxy.
"Uwais!"
Ayla datang mendekat dan berjongkok menyamakan tinggi dengan anaknya. Menatap bocah tiga tahunan itu. Lalu berganti menatap pria tua asing yang baru pertama ia temui.
"Anda..."
Kakek yaris menatap Ayla tajam. "Apa kamu ibunya bocah ini?"
"I-iya. Apa anak saya sudah melakukan kesalahan? Dan kakek ini, siapa? Apakah ayah tuan Roxy?" Tanya Ayla memberanikan diri. "Maafkan anak saya jika dia sudah membuat anda marah. Dia hanya anak kecil. Saya akan memberitahunya, agar tidak menangkap ikan lagi jika anda keberatan. Tapi, sebagai informasi saja, kami sudah mendapat ijin dari tuan Roxy."
Kakek Yaris tidak mengatakan apapun, hanya menatap Ayla, lagi berganti menatap bocah kecil yang kini berada di belakang tubuh ibu. Dari gesture tubuh, tampak sekali Ayla yang mencoba melindungi Uwais.
"Kemari anak muda!"
***
Di ruang keluarga, yang berbatasan langsung dengan sisi samping kolam ikan koi.
Kakek Yaris memangku Uwais yang tampak bergelayut manja pada kakek tua itu. Mengoceh yang entah apa, dan kakek Yaris menanggapinya dengan gelak tawa. Seember berisi ikan koi yang tadi di tangkap Uwais pun tak luput untuk hadir di sana.
Ayla berdiri menunduk tak jauh dari mereka.
"Pergilah ke dapur dan ambilkan kakek minum."
"Siap kek!" Ucap Uwais menempelkan tangannya di dahi hormat. Lalu bocah itu berlarian dengan riang ke arah dapur. Membawa Ayla merasa canggung dengan kakek Yaris karena sudah berfikir jika pria tua itu sedang memarahi Uwais.
"Maaf saya, tuan besar."
"Ck! Kenapa tiba-tiba menyebutku tuan besar, tadi saja kamu memanggil kakek?" Balas Kakek Yaris santai.
Wajah ayla sedikit berubah. Ada rasa bersalah dan menyesal di wajah wanita cantik berjilbab senada dengan pakaian seragam khususnya itu.
"Ehem. Panggil saja kakek. Aku tidak nyaman dengan panggilan tuan besar di rumah ini." Ungkap kakek Yaris beralasan. Karena memang ia juga tau Ayla adalah wanita yang cucunya gilai. Meski begitu, kakek Yaris ingin mengetahui pribadi wanita yang di cintai cucunya itu.
"Kamu! Kenapa memakai pakaian seperti itu?" Tatap tajam kakek Yaris melihat penampilan Ayla. Karena jika di sebut pelayan, gadis itu tak memakai sragam pelayan pada umumnya. Sementara jika di sebut sebagi orang yang menumpang hidup dan disekap oleh Roxy. Wanita itu, terlihat terlalu bebas.
Ayla melihat dirinya merasa aneh dengan pertanyaan kakek Yaris.
"Saya bekerja di sini." Jawab Ayla jujur.
__ADS_1
"Bekerja?"
"Kakek! Ini minumnya." Seru Uwais di kejauhan dengan membawa segelas air putuh dengan kedua tangan mungilnya. Air putuh itu tampak tumpah-tumpah saat Uwais membawanya.
"Terima kasih anak tampan." Ucap kakek Yaris mengusap kepala Uwais yang terlihat sangat ceria itu.
"Uwais! Airnya tumpah-tumpah." Ucap Ayla menegur Uwais. Lalu melangkah hendak mengambil pembersih.
"Ehem! Di situ saja."
Langkah Ayla tertahan. "Tapi tumpahannya..."
"Kamu... Duduk! Leherku pegal mendongak terus melihat mu." Perintah kakek Yaris mengetuk sofa di sampingnya dengan tongkat jalan.
Ayla menatap kakek dan sofa itu ragu.
"Duduk!"
Suara tegas kakek Yaris membuat Ayla duduk seketika di tempat yang kakek Yaris tunjuk.
"Bagus! Kenapa kamu tidak penurut seperti anakmu?" Gerutu kakek pelan.
"Pitung!"
"Pitung!"
Tak lama orang yang di panggil pun muncul dan menunduk pada kakek Yaris.
"Katakan pada orang mu untuk membereskan ceceran air di lantai."
"Baik." Tunduk pintung.
"Uwais, kamu mainlah dengan Lambo dulu. Ada seekor anjing Samoyed di halaman belakang...."
"Tidak ada Lambo, kek." Potong Uwais
"Haahh?"
"Kami tinggal di sini, dan Lambo sudah tak ada." Jawab Uwais sedih.
Kakek Yaris sedikit bingung, setau Pria tua itu, Lambo adalah hewan yang paling Roxy sayang. Bagaimana bisa tiba-tiba anjing itu tak ada?
Kakek Yaris menatap Pitung meminta penjelasan.
"Tuan Roxy memindahkannya ke mansion ke dua." Jawab Pitung yang mengerti arti tatapan itu.
Kakek Yaris tersenyum kecut.
"Uwais, pergilah ke belakang, tangkap lebih banyak ikan untuk kakek. Nanti kakek beri hadiah."
Uwais menyambutnya dengan ceria. "Siap kek."
"Minta seseorang menemani Uwais. Dan bawa ini." Perintah kakek Yaris mengetuk ember berisi koi dan air dengan tongkat.
"Baik." Tunduk Pitung. "Ayo Uwais."
__ADS_1
Lalu mereka pergi, menyisakan Ayla dan kakek Yaris.