Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 45


__ADS_3

"Tuan Roxy, jadwal anda besok sudah lebih longgar. Setelah selesai penandatanganan kerja sama dengan pihak kontraktor. Anda udah bisa menghabiskan waktu dengan Uwais dan nona Ayla." Tutur salaah satu sekertaris Roxy yang ikut serta. Memang Veloz senggaja Roxy tinggalkan untuk mengurus kantor pusat. Sementara dia melakukan perjalanan bisnis dengan sekertaris nya.


Roxy yang telah kembali dengan segala lelahnya malam itu, menjatuhkan bobotnya di atas sofa ruang tengah. Sesaat matanya terpejam untuk sekedar beristirahat.


Di tengah heningnya malam itu, sayup Roxy mendengar lagi suara nyanyian yang sama dengan sebelumnya. Roxy tersenyum dengan mata yang masih terpejam. Wajah Ayla yang begitu cantik tanpa jilbabnya menari-nari di pelupuk matanya. Semakin jelas dan nyata.


Roxy membuka matanya sektika, saat mendengar suara lain yang lebih cedal. Itu suara uwais. Roxy mengulas senyum di wajahnya.


Pria bule itu perlahan bangkit dan berjalan cepat ke kamar yang Ayla dan Uwais tempati. Pintu kamar itu memang sedikit terbuka walau hanya segaris celah.


Dengan dada berdebar kencang Roxy mendorong pintu. Dalam bayangannya, melihat sekali lagi wajah Ayla tanpa jilbab nya.


Pintu terbuka setengah lebar. Secara bersamaan Ayla dan Uwais menatap ke arah pintu.


Ada rasa kecewa karena kini Ayla sepenuh tertutup mukena batik berwarna coklat. Namun, itu tetap tak mengurangi kecantikan Ayla.


Uwais yang duduk di pangkuan Ayla yang sedang membaca sebuah kitab itu, melebar senyumnya melihat sang Daddy yang selama dua hari lamanya tak bertemu.


"Daddy!" Serunya riang.


Roxy mengulas senyumnya. Mengayunkan kaki hendak masuk. Namun suara teriakan bocah berumur tiga tahun itu membuat langkahnya terhenti.


"Daddy! Lepas sepatu! Lepas sepatu! Batas suci, dad."


Roxy menatap bingung, dalam ingatan terlintas saat ia menemani Supri ke masjid Jamal. Tertera tulisan batas suci dan banyaknya sepatu juga sendal yang berjejar di depan tangga.


Roxy melihat ke bawah, sendal Ayla dan Uwais ada tepat di depan pintu. Pria itu tersenyum kecil lalu memandang sepasang ibu dan anak itu. Dengan cepat Roxy melepas sepatu dan meletakkan di samping sendal Ayla.


Dalam hati, Roxy berdoa ; "semoga kelak bukan hanya sendal dan sepatu kita yang berdampingan."


Lalu Roxy melangkah mendekat dan duduk di sisi kiri sajadah Ayla menatap wanita cantik yang menundukkan pandanganya itu.


Uwais berpindah dari pangkuan Ayla ke pangkuan Roxy. Mendongak menatap Daddy nya seolah meminta ijin duduk disana.


"Bernyanyi lah lagi, aku ingin dengar."


Ayla memandang Roxy dengan alis bertaut.


"Yaahh, apapun itu, aku hanya ingin dengar..." Roxy menunjuk buku kecil di tangan Ayla.


"Aku sudah selesai." Ucap Ayla lembut menutup Qur'an nya lalu mencium sampulnya dengan khidmat.


"Baiklah."


Walau ada rasa sedikit kecewa, Roxy tetap tersenyum dan menggoda Uwais.


"Kenapa kamu belum tidur, boy?"


"Nungguin, Daddy!"


"Oohh yaa??"

__ADS_1


Kedua pria itu bercengkrama, sementara Ayla berdiri merapikan sajadah nya. Ayla masih mengenakan mukenanya, mengambil jilbab bergo yang tergantung di ujung ranjang kamar. Lalu melangkah keluar. Roxy terus mengikuti dengan ekor mata nya.


Tak lama Ayla kembali, jilbab bergo itu sudah terpasang di kepalanya. Sedangkan mukena batik sudah terlipat di dalam pelukan wanita cantik itu.


"Apa kamu keluar hanya untuk berganti? Kenapa tidak di sini saja?"


"Karena ada kamu di sini." Jawab Ayla menyimpan mukena ke dalam travelbag.


"Aku tidak keberatan."


"Itu tidak sopan, tuan Roxy!"


"Daddy!" Roxy membetulkan.


"Baiklah, Daddy."


"Kamu sudah makan malam, Daddy?" Tanya Ayla dengan senyum gelinya.


"Belum."


"Aku masak sesuatu untukmu." Ucap Ayla sembari melangkah keluar.


"Okey!" Roxy bangkit dari duduk lesehan nya lalu menggandeng Uwais serta."Kami ikut memasak."


Di dapur,


Roxy dan Uwais ikut memotong beberapa sayur dan sosis. Sedangkan Ayla merebus air, sebenarnya mereka hanya memasak mie instan saja.


Di ruang tengah ketiga anak manusia itu berebut mie dari dalam panci. Membawanya ke cawan kecil masing-masing sebelum memasukkan ke dalam mulut.


"Padahal cuma mie instan, kenapa rasanya seenak ini?" Roxy berkomentar dengan mulut penuh sehabis melahab segaruk mie.


"Itu karena unda yang masak." Jawab Uwais.


"Bukan, karena makan bersama, sedikit dan berebut. Makanya jadi enak." Ayla menimpali.


"Aahh, benar juga. Mungkin selama ini aku hanya sendiri makanya jadi nggak enak. Bagaimana kalau seperti ini terus? Tambah dua atau tiga anak lagi. Bagaimana menurutmu?" Roxy berpendapat lalu sengaja memancing reaksi Ayla.


"Kenapa membicarakan hal seperti ini di depan anak kecil?" Ayla terkekeh kecil.


"Jadi kamu mau membicarakan nya secara pribadi?"


Ayla bungkam seketika, menatap Roxy tak nyaman.


"Baiklah, nanti malam setelah Uwais tidur."


"Ikut.... Aku nggak mau tidur." Uwais yang mendengarkan ikut berkomentar.


Ayla tersenyum jenaka.


"Baiklah, kalau begitu, kita tidur bertiga."

__ADS_1


Mata Ayla membulat sempurna."jangan bermain licik, tuan Roxy!" Protesnya.


"Hahaha, Daddy!" Roxy membetulkan.


Malam itu, seusai makan mie bersama, Ayla langsung membereskannya. Mencuci dan menyimpan bekas makan. Ayla berjalan memasuki kamar, dua pangeran tampan tertidur pulas di atas ranjang. Ayla tersenyum melihatnya, melangkah mendekat dan menyelimuti kedua nya sampai batas lengan.


Sejak tinggal bersama Roxy, sekalipun Uwais tak menanyakan keberadaan ayahnya. Ayla tersenyum getir,


"Kenapa, kamu membuat kami bergantung padamu? Perlahan menggeser posisi ayah dari hati Uwais."


Ayla melihat kalung di leher Roxy yang sedikit terlihat dari balik kemeja. Tiga kancing teratas kemeja Roxy yang di biarkan terbuka. Kalung dengan bandul salib itu membuat Ayla menyeka sudut matanya. Tak bisa ia bayangkan jika sampai Uwais yang sudah menerima Roxy dan menganggapnya ayah harus menelan pil pahit perpisahan.


"Ini salah ku, membiarkan mereka terlalu dekat." sesal Ayla.


Ayla berbalik mengayunkan langkah kakinya, namun tertahan. Ayla menoleh, pergelangan tangan nya tertahan oleh genggaman Roxy.


"Menikahlah dengan ku Ayla."


Ayla menunduk, melihat Roxy bangun dan duduk di bibir ranjang tanpa melepas genggaman tangan nya. Dari sudut itu, Ayla dapat melihat jelas kalung rantai yang berbandul salib sedikit keluar dari kemeja Roxy.


Ayla menggeleng sembari tersenyum kecut.


"Kenapa?"


"Kita.... Terlalu banyak perbedaan, tuan Roxy."


"Daddy!"


Ayla menggeleng, "kamu seorang tuan, dan aku hanyalah seorang pelayan."


"Aku tidak mempermasalahkan itu."


"Keluarga besar mu...."


"Aku sangat yakin kakek Yaris juga tidak mempermasalahkan itu." Potong Roxy sangat yakin.


Ayla tersenyum lagi, mengambil tangan Roxy yang menggenggam tangan nya. Sementara tangan Ayla yang lain meraih kalung yang menggantung di leher Roxy, lalu menggenggamkan bandulnya ke tangan pria bule itu.


"Kita memiliki Tuhan yang berbeda, menggenggam kitab yang berbeda, dan kita juga memiliki latar belakang yang sangat berbeda." Ucap Ayla memandang wajah Roxy yang menatap lekat padanya.


"Mari kita berjalan di jalan masing-masing, tuan Roxy." Tutup Ayla dengan senyuman, sebelum ia mengayunkan kakinya.


Roxy menggenggam erat bandul kalungnya. Lalu menatap tajam punggung wanita berjilbab bergo itu.


"Apa kamu mencintaiku?"


Seketika langkah Ayla terhenti.


"Apa kau mencintaiku, Ayla?"


Ayla bergeming.

__ADS_1


"Katakan kau mencintai ku, Ayla. Katakan semua yang aku lakukan tidak sia-sia. Katakan, kita masih bisa bersatu dengan segala perbedaan yang ada." Batin Roxy memohon.


__ADS_2