Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 112


__ADS_3

"Dia pergi? Dia benar-benar pergi?" Tangis Kayla mengintip di sela-sela jemari yang menutupi wajahnya."Dia tidak benar-benar mencintai ku, dia meninggalkanku.."


Bahu Kayla terus berguncang, suara tangisnya terdengar begitu pilu. Hingga sejenak Kayla menatap pada pintu keluar kafe. Kayla lalu berlari menyusul Raize.


"Jika dia pergi ke Belgia, kami pasti tak akan bisa bertemu lagi." Gumam Kayla dalam tangisnya. Gadis itu berlari hingga ke halaman cafe. Pandangan matanya baru saja melihat mobil milik Raize keluar dari dari halaman. Gegas Kayla berlari mengejar.


"Raize! Raize tunggu!" Pekiknya.


Hingga sampai di tepian jalan, Kayla terpaksa berhenti. Matanya menoleh kesana kemari, ia bingung, ingin menyusul Raize. Tapi tak ada kendaraan bahkan ia tak melihat tukang ojek atau pun taksi. Kayla merasa sangat frustasi. Mengacak rambutnya hingga berantakan. Air mata Kayla mengalir.


"Masuklah." Sebuah suara terdengar memerintah dari dalam mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya.


Maya Kayla melebar melihat Avan membuka pintu tanpa bergeser dari duduk nya di belakang kemudi. Dengan cepat Kayla masuk.


"Pasang sabuk pengaman mu." Perintah Avan menjalankan mobilnya,"ke bandara, kan?"


Kayla menatap Avan sesaat lalu mengangguk samar.


"Apa kamu bertanya kenapa aku bisa ada di sini? Cafe itu, cabang ke tigaku. Baru satu bulan." Ucap Avan menjelaskan tanpa Kayla bertanya. Tapi, dari pandangan, Avan tau jika Kayla mempertanyakan.


Sementara itu, Raize berjalan sembari terus memantapkan hatinya. Menenangkan pikirannya. Ia memang mencintai Kayla, bahkan sangat mencintai gadis itu. Selama ini ia tak pernah merasakan perasaan yang begitu mencintai seperti saat bersama Kayla. Perasaan menjaga pada wanita, bukan menikmati seperti biasa.


Akan tetapi, mencintai Kayla di hadapkan pada cintanya akan Tuhan. Raize juga tak bisa melepaskan Tuhannya. Bahkan demi Kayla sekalipun, ia memang merasa sangat serakah. Serakah karena menginginkan kedua nya. Cinta Kayla juga cinta Tuhannya.


Raize menggeret kopernya, dan melihat lagi tiket di tangannya. Raize berbalik sebelum kakinya melangkah memasuki terminal keberangkatan. Memandang setiap sudut yang bisa dia jangkau dengan matanya. Negara yang akan dia tinggalkan untuk waktu yang ia sendiri bahkan tak tau sampai kapan.

__ADS_1


Raize tersenyum pahit, mata pria itu berair namun tak sampai meneteskan air mata. Raize menghela nafasnya untuk menguatkan lagi tekatnya. Lalu Raize berbalik lagi pada tujuan awal. Ya, melangkah meninggalkan negara ini, juga Kayla.


Selangkah, dua langkah Raize tapaki. Lalu terdengar sayup suara wanita yang sangat dia cintai. Raize tersenyum pahit, "bahkan saat ini, pendengaran ku..."


"Raize!"


Langkah Raize terhenti, ia pikir hanya berhalusinasi mendengar suara Kayla memanggil nya.


"Raize!"


Suara itu semakin dekat, dengan perasaan yang makin kacau, Raize berbalik. Di ujung sana, terlihat gadis yang di cintai nya berlarian mendekat.


"Kayla..."


Setelah cukup lama saling memeluk, Raize sadar jika waktu terus berjalan. Ia harus segera pergi, Raize melepas pelukannya. Menatap Kayla dengan pandangan sayang nya, tidak berkurang seperti sebelumnya.


"Aku harus pergi."


"Kau benar-benar akan meninggalkan ku?" Tangis Kayla sendu.


"Aku mencintai mu Kayla."


"Jika cinta kamu tak akan pergi, kamu bilang akan berjuang? Mana? Apa kamu hanya merayuku? Apa kamu hanya mempermainkan ku?" Bahu Kayla berguncang lagi.


Raize menatap Kayla sendu. Menghapus jejak air mata di pipi.

__ADS_1


"Aku mencintai mu, Kay. Sangat. Tapi aku juga mencintai Tuhanku. Sangat. Mungkin kadarnya sama. Karena itu, aku harus menjauh dari mu, untuk mengetahui seberapa butuh dan cintanya aku padamu. Apakah lebih besar dari cintaku pada Tuhanku."


Kayla menangis lagi, itu membuat Raize tak tega. Bersama Kayla bukan perkara mudah. Bukan hanya tentang restu, tapi juga tentang keimanannya.


"Jadi kamu memilih Tuhanmu?"


"Ini bukan perkara pilihan, Kay." Ucap Raize, "satu langkah berat yang akan merubah segalanya, merubah semuanya."


"Kay, aku tidak seperti Rocky, aku memiliki pondasi yang cukup kuat. Untuk bersamamu, aku harus meruntuhkan pondasi itu. Biarkan aku pergi Kay. Mari kita sama-sama mencari, menyelami kedalaman hati dan jiwa kita, ini milik siapa."


Bahu Kayla terus berguncang.


"Aku pergi," pamit Raize mulai melepaskan tangan Kayla dengan berat.


"Bagaimana jika bapak dan emak menjodohkan ku dengan seseorang?" Kayla masih mencoba menahan langkah Raize dengan pertanyaannya.


"Jodoh, Tuhan yang menentukan, Kay. Bukan bapak ataupun emak mu." Raize tersenyum kecut, lalu mengecup kening Kayla, mungkin untuk yang terakhir kali nya.


"Sampai jumpa..."


Raize berbalik dan melangkah dengan cepat. Ia tak ingin perasaan kalut itu terus menguasainya. Kayla terus menatap punggung Raize yang semakin menjauh. Tubuhnya terus berguncang, dan air matanya terus mengalir. Tubuh Kayla merosot kebawah, dan terduduk di lantai. Sentuhan hangat di pundaknya membuat Kayla menoleh dan mendongak.


Avan tersenyum padanya, memberi Kayla kekuatan melalui sentuhan tangan di bahu gadis cantik itu.


"Kamu tau kan kemana harus mengadu? Dia mencari Tuhannya, kamu juga. Selamilah dasar hati..."

__ADS_1


__ADS_2