
"Kamu mau ngambek sampai kapan sih?" Tanpa mengurangi fokusnya menyetir. Roxy melirik sekilas pada calon istrinya."Nggak capek apa itu bibirnya monyong terus?"
"Kamu ini, apa nggak bisa minta maaf?"
"Iya, aku minta maaf."
"Minta maaf kayak nggak iklas gitu."
"Terus aku harus gimana biar kelihatan iklas?"
Ayla hanya menyentak nafasnya."masa ya harus di ajarin? Apa memang dia sebodoh itu? Atau memang benar-benar tidak perduli?" Ayla bergumam pelan.
"Apa? Kamu bilang apa?" Tanya Roxy yang mendengar ayla bergumam namun tak jelas di Indra pendengaran nya.
"Nggak ada."
"Sama laki-laki tu jangan kode-kode an. Dari awal sampai kita mau nikah pun kamu cuma kasih kode. Aku nggak paham, kenapa nggak langsung di bicarakan saja?"
Tak mendapat jawaban apapun dari Ayla. Roxy berpikir keras, mengapa wanita selalu serumit ini?
Ayla dan Roxy sampai di gedung tempat mereka akan mengadakan resepsi nanti. Dari depan pintu yang terbuka lebar itu, mata Ayla memandang setiap sudut nya. Merasa takjub dengan keindahan tempat itu. Banyak bunga, dan hiasan warna-warni. Meski nuansa kalem dan lembut lebih mendominasi dan belum sepenuhnya tertata sempurna. Namun, sudah terlihat sangat indah. Terlebih nanti jika acara sudah di gelar.
Ayla melangkah lebih dalam, matanya terus mengedar ke penjuru ruang. Sementara Roxy yang tertinggal di belakang, mengikuti dengan senyum yang mengembang.
"Kamu suka?" Bisik Roxy dari belakang telinga Ayla yang tertutup jilbab.
Ayla tersenyum bahagia, sepertinya rasa kesalnya udah menguap begitu saja setelah memasuki ballroom berkapasitas 500orang itu. Sengaja, Roxy tidak mengundang banyak rekannya dan hanya orang-orang terdekat nya saja.
"Kamu suka? Aku udah menyampaikan pada pihak WO untuk mengaturnya sesuai keinginanmu."
"Sebenarnya, ini di luar ekspektasi ku. Kamu tidak perlu melakukan semua ini..."
"Benarkah? Jadi apa perlu aku batalkan?"
Ayla memajukan bibirnya dan mencubit lengan Roxy.
"Aku hanya bercanda. Sudah sampai sejauh ini, tak mungkin aku membatalkan nya. Membuat pekerjaan menjadi sia-sia itu tidak baik." Roxy melintangkan tangannya memeluk bahu Ayla.
Salah satu pekerja menyambut Roxy dan Ayla setelah ia terlihat begitu sibuk.
"Selamat datang tuan Roxy, mbak Ayla." Sapanya.
"Bagaimana perkembangannya?"tanya Roxy melihat setiap sudut ruangan itu.
"Sudah 70% mungkin anda ingin melihat lagi jika ada yang tidak sesuai.."
"Mau berkeliling?" Tawar Roxy menoleh pada Ayla. Yang di angguki oleh Ayla.
Seusai meninjau perkembangan lokasi, hari sudah semakin malam. Roxy pun memutuskan untuk mengantar Ayla pulang. Sebelum itu, mereka menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah masjid.
Di pelataran masjid itu, sangat ramai penjual karena memang mengadakan semacam pasar sore.
Seusai menjalankan solat 3rakaatnya, Ayla menunggu Roxy di salah satu STAN penjual aksesoris yang menjual aneka gelang, kalung, hiasaan rambut ataupun jilbab. Ayla memilih beberapa penjepit dagu, lalu melihat di kaca yang tersedia. Dari sana Ayla mencoba dengan menempelkan di dagunya.
Saat sedang mencoba, Ayla di kejutkan oleh pantulan Roxy di belakang. Ayla menoleh.
__ADS_1
"Sudah?" Tanya Ayla meletakan kembali penjepit yang tadi sempat di cobanya.
"Nggak jadi beli?"
"Nggak cocok." Jawab Ayla singkat, berjalan melewati lorong STAN yang berjejar.
"Mbak, coba ini dulu." Kata salah satu penjual kaca mata menyodorkan sebuah kacamata berwarna coklat.
"Enggak mas, saya nggak beli."
"Iya coba dulu mbak. Sapa tau cocok." Kata pedagang itu terus mencegat dan menyodorkan ke arah Ayla. Merasa tak enak karena terus di paksa. Akhirnya, Ayla mencobanya.
"Tapi aku nggak beli ya, mas. Coba aja." Pasrah Ayla memasang kacamata itu.
"Waahh, mbak nya cantik. Cocok banget."puji pedagang itu.
Ayla langsung melepas kacamata itu dan mengembalikannya pada penjual.
"Saya nggak beli mas."
"Buat mbak nya aja."
"Haahh?" Ayla terperangah mendengar ucapan si penjual.
"Iya, buat mbak nya aja. Mbak nya cantik pakai itu." Ucap penjual itu lalu kembali ke stannya. Meninggalkan Ayla yang terbengong bingung, Alya menatap Roxy di samping kirinya.
Roxy hanya tersenyum menanggapi. Ayla jadi ikut tertawa kecil, lalu mereka melanjutkan langkah yang sempat terhambat.
"Mbak, cepres nya."
Ayla melambai sebagai bentuk penolakan. Tapi penjual cepres itu asal meletakkan cepres di tangan Ayla.
Ayla menggeleng heran. Meski begitu ia tetap melanjutkan langkah, biarlah, mungkin ini yang di sebut rejeki. Bgitu pikir Ayla.
"Boba nya mbak, biar nggak seret."
"Saya nggak beli, mbak."
Merasa aneh, karena terlalu banyak yang memberinya barang gratisan, Ayla menoleh curiga pada Roxy.
"Ini ada hubungannya denganmu, kan?"
"Rejeki nggak boleh di tolak." Jawab Roxy.
Tiba-tiba beberapa wanita dan pria membentuk barisan di pinggir jalan yang akan Ayla dan Roxy lalui. Kesemuanya membawa sekuntum bunga mawar dan berwajah cerah disertai senyuman malu-malu. Mulut Ayla sampai membola karenanya. Lalu memutar kepalanya menatap Roxy.
"Jangan terlalu lebar, nanti kemasukan lalat." Roxy mengambil tangan Ayla yang memegang cepres lalu mendorongnya ke mulut wanita itu yang terbuka. Roxy tertawa kecil. Sedangkan mulut Ayla mengerucut sembari mengunyah cepresnya.
"Biar ku bawakan Boba dan cepresnya untukmu." Roxy merebut Boba dan cepres dari tangan Ayla. Agar wanita itu mudah menerima bunga dari orang-orang.
Sepanjang jalan, Ayla menerima bunga yang di sodorkan padanya. Senyum tak pernah surut dari bibirnya.
Sampai di rumah, wajah Ayla masih tersenyum bahagia. Memeluk erat bunga mawar dan menghirup wanginya.
"Jadi, apa ku di maafkan?" Tanya Roxy begitu mobilnya berhenti tepat di depan rumah pak Rohman.
__ADS_1
"Minta maaf untuk apa?"
"Bukankah tadi kamu sudah marah?"
Ayla baru teringat, jika tadi memang sempat kesal dengan Roxy yang digelayuti oleh wanita seksi. Tapi, karena terlalu banyak di hujani hal manis oleh Roxy hingga ia terlupa.
"Aku tidak suka jika kamu terlalu dekat dengan wanita. Seperti tadi." Ucap Ayla memutuskan untuk jujur. Apalagi, mereka akan menikah dalam beberapa hari lagi."Itu membuatku tak nyaman. Jika aku terlalu sering melihat hal semacam itu, aku takut, akan berakhir seperti mas Alfa."
"Aku nggak akan selingkuh!" Potong Roxy sangat yakin.
Ayla tersenyum, "Mas Alfa juga bilang begitu saat kami...."
"Aku berbeda dengannya. Aku berjanji, hal semacam itu tidak akan terjadi lagi. Lagi pula, aku hanya bereaksi padamu."
"Apa?"
"Intinya, aku hanya tertarik padamu."
Ayla mengulas senyum lagi. "Sampai ketemu tiga hari lagi. Di pelaminan."
"Aku akan merindukanmu..." Roxy meraih tangan Ayla dan mengecupnya cukup lama.
"O iya, apa kakek Yaris akan datang?"
"Tentu saja. Juga, beberapa keluargaku yang lain." Sahut Roxy.
"Baiklah, aku masuk ya." Pamit Ayla.
Setelah Roxy pergi, Ayla melangkah memasuki rumahnya. Tepat saat itu pintu terbuka dari dalam.
"Mbak Ayla!"
"Cayla..."
Cayla merentangkan tangannya, Ayla pun menyambut pelukan hangat sang adik yang beberapa bulan ini tak pernah di temui nya karena Ayla sendiri bekerja di rumah Roxy. Sedangkan Cayla sibuk dengan kampusnya.
"Kapan datangnya?" Tanya Ayla sembari masuk kedalam rumah.
"Tadi siang mbak, katanya kamu keluar sama calon kakak ipar." Ucap Cayla melintangkan tangan di pinggang kakaknya.
"Iya, tadi cuma nyoba baju sama liat lokasi resepsi nya."
"Apa bunga ini dari calon kakak ipar mbak?" Mata Cayla tertuju pada kumpulan bunga dalam pelukan Ayla.
"Iya."
"Waaahh, romantis banget..."
"Siapa mbak namanya? Penasaran, seperti apa orang nya? Ganteng nggak?" Cayla terus memberondong dengan pertanyaan.
"Roxy, nanti aku kasih tau fotonya. Tapi kamu jangan jatuh cinta padanya..." Ayla menyipikan mata menggoda sang adik.
"Eehh, enggak lah..." Elak Cayla dengan nada ceria."Apa ganteng banget ya dia, mbak?"
Cayla berdecak pelan saat melihat foto Roxy di gawai Ayla.
__ADS_1
"Wahh, ganteng, bule dia ternyata..." Gumam Cayla memuji.
'Tapi, wajahnya, kayak mirip seseorang... Tapi siapa ya?' pikir Cayla....