
Pagi menjelang siang, Kayla turun dari ojek online. Lalu ia mulai melangkah masuk ke dalam kafe kopi Manis. Di sana, Kayla langsung duduk di bangku yang dekat dengan jalan, dan hanya berdinding kaca.
Gadis cantik itu mengeluarkan gawai dari dalam tasnya. Mengusap layar dan menekan aplikasi hijau diponselnya. Lalu mencari kontak milik Avan. Mengirim pesan jika ia sudah sampai di kafe milik mantan bos sang kakak.
Kayla meletakkan gawainya ke dalam tas Selempangnya lagi. Gadis cantik itu memandangi setiap sudut kafe bergaya vintage itu. Kayla mengulas senyum, rasanya sangat nyaman di sana. Ada begitu banyak anak muda yang sekedar nongki-nongki ataupun beberapa keluarga yang terlihat bercengkrama.
Memang, sebelum ia tau kafe itu milik Avan, Kayla sudah sering ke sana bersama beberapa temannya. Selain karena lokasi yang Instagramable, yang pasti karena menu makanan yang enak dan pasti murah. Sangat cocok untuk kantong mahasiswa seperti dirinya.
Selama menunggu, pikiran Kayla berkelana. Jauh dari tubuhnya, dan kembali ke kediaman Raize. Mengingat akan hal menyakitkan baginya, bayangan dokter muda yang sedang bercumbu dengan wanita di pangkuan menari di pelupuk matanya. Kayla menahan nyeri di dadanya, ia tak mengerti dengan dirinya sendiri. Ia sudah membetengi diri dari pesona pria tampan itu. Tapi, sepertinya benteng itu telah runtuh oleh gempuran pesona Raize.
Selama lebih dari satu bulan lamanya mereka tinggal dalam satu atap. Mendengar suara dessaahan hampir setiap malam, membuat Kayla membangun benteng setinggi-tingginya dan sekokoh-kokohnya. Namun, apa yang membuat benteng itu roboh?
Kayla terus berpikir, "tidak, benteng itu belum runtuh, benteng ku masih kokoh. Aku hanya tersesat oleh perasaan ku sendiri."
"Gratis."
Kayla melihat segelas tinggi jus alpukat yang diletakan pada meja persegi didepannya. Kayla mendongak untuk melihat siapa yang bersuara padanya.
"Mas Avan." Sebutnya melihat sosok pria berkulit cerah yang tersenyum sangat ramah itu.
"Minum. Aku sendiri yang bikin."
Kayla tersenyum kecil, lalu menarik gelas didepannya lebih dekat lalu menyeruput melalui sedota yang mengarah padanya.
"Enak, mas." Katanya memuji.
"Iya, dong."
Kayla memandang seisi kafe itu dengan perasaan takjub. "Aku suka dengan konsepnya, vintage tapi, Instagramable. Di sini juga relatif murah, dibanding dengan kafe-kafe lain di kota ini."
"Pangsa pasarku memang untuk semua kalangan, Kayla. Tapi, lebih ke mahasiswa untuk dekorasi nya." Avan menjelaskan."Dulu, aku juga mahasiswa yang mendambakan tongkrongan nyaman yang murah. Nyari tongkrongan murah agak susah di sini."
"Iya, mas. Aku dulunya ke sini karena diajak teman. Karena aku pemilih. Maksudku, milih yang murah tapi nggak murahan."
Avan tak mengatakan apapun hanya ikut menyapukan pandangan keliling kafe. Di seberang jalan, Avan justru melihat seorang pria bule yang sedang memandang ke arahnya. Atau mungkin ke arah Kayla namun, si pria itu sepertinya tidak mengetahui jika dirinya terlihat oleh mata Avan.
Pria yang duduk di hadapan Kayla itu, sedikit menarik sudut bibirnya ke atas. Lalu kembali melihat ke arah Kayla.
"Kamu nggak sama Ayla kemari?"
Kayla menggeleng,
"Kenapa nggak? Aku sedikit kangen sama Uwais."
"Iya mas, aku juga sebenarnya. Tapi, ummm..." Kayla tampak sedang memilih kata-kata yang tepat untuk apa yang hendak dia ceritakan kedepan. Ia bingung, karena pada dasarnya, Avan bukan kerabat ataupun orang yang bisa di percaya atau tidak.
"Mas Avan janji ya nggak bakal bilang sama siapa-siapa?" Kayla mencoba memastikan terlebih dahulu sebelum bercerita.
"Kenapa?"
"Janji dulu."
"Iya." Jawab Avan karena Kayla tampak begitu berharap.
Gadis cantik itu mencoba mengatur nafasnya. Dan memantapkan hati sebelum menguak segalanya.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku..."
Cerita Kayla mengalir begitu saja, sementara Avan tampak sangat terkejut dengan penuturan adik mantan karyawan nya itu.
"Ila, kamu tau kalau semua yang kamu lakukan itu salah? Juga berdosa?" Tanya Avan begitu Kayla selesai menceritakan semua. "Kebohongan, akan menciptakan kebohongan lain."
"Terus, aku harus gimana, mas?"
"Akhiri kebohongan kamu." Saran Avan dengan yakin.
"Tapi, aku sudah terikat perjanjian dengan nya, mas." Kayla menunduk dalam.
"Ila, kamu punya keluarga, apa kamu nggak memikirkan bagaimana perasaan bapak dan emak? Mbak Ayla? Kakek?"
Kayla menatap nanar pada Avan. Hatinya sangat sedih dan tercubit kala Avan menyebut kedua orang tuanya. Tapi ia bisa apa?
"Apa kamu nggak capek main petak unpet terus seperti ini?"
"Aku nggak tau, mas."
"Ila, akan lebih baik jika kejujuran itu terucap oleh pelakunya, dari pada orang lain atau keadaan yang menguaknya. Saran dari ku, jujurlah. Katakan semua pada kakek. Lalu pada embak mu. Karena mereka saling berhubungan."
Kayla terus memikirkan apa yang Avan sampaikan. Sepanjang perjalanan, Kayla hanya melamun. Sampai ia baru tersadar jika dirinya sudah sampai di halte bus. Kayla duduk, meski masih dalam lamunan yang panjang.
"Mungkinkah aku harus bercerita pada Mbak Ayla?" Gumam Kayla pada dirinya sendiri. Ia sedang dalam kebingungannya saat ini.
Tin!
Suara klakson membuatnya terperangah, Kayla melihat ke depan. Avan sedang duduk diatas motor matik nya.
"Naiklah, mau pergi kemana? Biar ku antar. Kamu terlihat melamun sedari tadi, takut aja kesambet setan."
Di sudut yang lain, ada pasangan yang sedang mengawasi di balik kaca mobil.
"Mau kemana dia?" Gumam Raize di samping nya wanita seksi semalam duduk dengan tangan terlipat di dada karena kesal. Saat keluar dari mansion Raize dan mendapat tumpangan dari pria itu. Ia pikir, Raize berubah pikiran dan mengajaknya jalan-jalan. Ternyata malah membuntuti gadis yang kini sedang berboncengan dengan pria lokal.
Avan melirik sepion kaca motor. Memastikan mobil berwarna silver di belakang membuntuti mereka. Ia tau, ada Raize di dalam sana. Senyum terbit di wajahnya. Karena sedari tadi, melihat pria bule itu terus membuntuti Kayla. Pria yang mengaku sebagai suami Kayla saat mereka tanpa sengaja bertemu di kebun binatang.
"Makasih mas."
"Yakin cuma mau di sini?" Tanya Avan memastikan memandang bangunan megah di depannya. Kampus tempat Kayla mengenyam bangku kuliah.
"Iya, makasih mas, aku masih ada urusan di sini."
Avan menyungging senyum. "Kalau cuma di sini ngapain tadi mesti berhenti di halte."
Kayla ikut tersenyum. Senyum malu, karena ia sendiri sebenarnya tak tau mau kemana. Yang terlintas hanya kampus yang tinggal beberapa meter saja jaraknya.
"Ya sudah, aku balik ya."
Kayla mengangguk.
"Pikirkan lagi saranku. Masalah perjanjian kalian, kamu bisa bicarakan lagi dengan Ayla dan suaminya. Aku sangat yakin mereka tidak akan tinggal diam. Terlebih..." Avan menggantungkan kalimatnya sembari melirik ke arah mobil silver yang berhenti tak jauh dari mereka."Suamimu itu... Mereka pasti tau karakter pria itu. Jadi, lebih mudah menangani."
"Terima kasih sarannya, mas."
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain, di kediaman Rocky.
Ayla menyantap sotonya dengan sangat rakus. Dan itu membuat Rocky mengulas senyum. Ini adalah porsi makan Ayla terbanyak yang pernah dia lihat sejak Ayla di nyatakan hamil.
"Baby? Masih mau nambah?"
"Udah. Aku mau seblak. Boleh?"
"Tentu saja, apa lagi?"
"Ummm... Kebab, sosis bakar, sama minuman Penutup jus wortel."
"Okey." Ucap Rocky beranjak dari duduknya.
"Dad!" Panggil Ayla melihat punggung Rocky yang sudah beberapa langkah berjalan.
"Iya?" Pria itu berbalik memandang Ayla.
"Pedes."
"Apanya?"
"Seblak, sosis dan kebab nya yang pedes."
Rocky tampak tak yakin dan ragu. "Apa itu tidak masalah untuk baby-nya?" Gumam Rocky melangkah pelan ke bagian pantri.
Selang 30menit, pesanan datang. Rocky sendiri yang membawanya. Ternyata, di samping Ayla sudah duduk sang anak sambung. Bocah 4tahunan itu berceloteh sembari mengusap perut bundanya.
"Daddy!" Seru Uwais berlarian begitu melihat Rocky mendekat dengan semua pesanan Ayla.
"Heeiii," Rocky sedikit menjauhkan tubuhnya agar apa yang ia bawa tidak tumpah. "Daddy sedang bawa pesanan bunda. Nanti jatuh, boy."
Merasa ditegur dan di tolak oleh sang Daddy, Uwais cemberut. Kedua tangannya terlipat memeluk tubuhnya sendiri.
Rocky merasa gemas dengan anak sambungnya yang ngambek itu. Setelah meletakkan nampan di Gasebo tempat Ayla menunggu. Pria bule itu bergegas menangkap tubuh kecil Uwais. Memangkunya dan menggelitiki perut kecil itu. Uwais mau tak mau tertawa dan berontak kekiri dan ke kanan, menghindari serangan jari daddy-nya.
Sedangkan Ayla tersenyum melihat keakraban kedua lelakinya itu. Tangannya terayun mengambil sendok dan mencicipi seblak. Memang tak sepedas yang dia harapkan tapi, cukup untuk menggoyang lidahnya.
"Bagaimana mana?"
"Enak."
"Pedasnya pas?"
"Kurang pedas sih, tapi ini boleh juga kok."
"Alhamdulillah." Sebelum memasak tadi, Rocky menyempatkan diri menghubungi dokter kandungan. Dan dokter itu menyampaikan jika tidak masalah seorang ibu hamil makan pedas, asalkan tidak berlebihan.
Rocky bernafas lega, lalu ia memerintahkan sang juru masak untuk membuat seblak, kebab, dan sosis agak pedas. Sang juru masak pun membuatnya sesuai takaran kepedasan yang Rocky minta. Sementara menunggu Rocky membuat sendiri jus wortel untuk sang istri.
"Bagaimana rasa jus nya?" Tanya Rocky saat melihat Ayla menyeruput jus wortel.
"Seger."
"Made by Rocky, loh."
__ADS_1
"Ooh ya?" Ayla melirik geli pada pria di hadapannya. Entah kenapa, saat melihat Rocky libido Ayla tiba-tiba naik. Rasa ingin bercinta dengan pria itu tiba-tiba saja sangat besar.
Ayla mengeleng dan menertawai dirinya sendiri. "Kok sekarang jadi kebalik sih?" Gumam Ayla pada dirinya sendiri.