
"Bapak, ini sudah sangat larut, berbahaya jika memaksa pulang sekarang." Rocky mencoba menahan pak Rahman yang sudah kepalang marah itu.
Pak Rahman menatap Rocky nyalang. "Apa kamu terlibat?"
Rocky terdiam menatap mertua nya. "Tidak, saya juga baru mengetahui nya hari ini."
"Apa Ayla juga tau?"
"Saya tidak tau, tapi, Ayla tak pernah mengatakan Apapun tentang hal ini." Ucap Rocky menjawab setaunya.
Pak Rahman mengangguk lalu memandang Kayla. "Kemasi barang mu sekarang juga. Bapak tunggu di sini. Jangan sampai bapak mengulang perkataan bapak."
Kayla mengangguk patuh di sela-sela bahu yang terus berguncang. Kayla mengusap pipinya yang basah dan berjalan pelan menuju kamarnya. Kini hanya tinggal pak Rahman dan Rocky.
"Tolong, kendalikan emosi bapak, saya tau bapak pasti sangat marah, sayapun akan marah jika menjadi bapak. Tapi, ini benar-benar sudah larut, tidak ada kendaraan di luar sana." Rocky masih terus mencoba membujuk.
"Tidak. Keputusan bapak udah bulat. Bapak tak mau menyiakan waktu, mereka tak bisa di biarkan berada dalam satu atap."
"Jika itu masalahnya, saya bisa meminta Raize untuk kembali kerumahnya. Bapak tak perlu pulang." Bujuk Rocky lagi.
Pak Rahman mengangkat tangannya agar Rocky tak lagi bicara. "Kami akan pulang. Terima kasih untuk kebaikan, nak. Tolong jaga Ayla dan Uwais selama di sini."
"Bapak?" Ayla yang sempat mendengar keributan muncul dari lorong kamarnya."ada apa pak?"
"Bapak mau pulang, bersama ibuk dan juga Kayla."
__ADS_1
"Apa? Kenapa tiba-tiba?" Tanya Ayla memandang pak Rahman dan Rocky bergantian seolah meminta penjelasan dari keduanya.
"Biar saya antar, pak." Tawar Rocky akhirnya, karena membujuk sang mertua agar tetap tinggal sepertinya tak berhasil.
"Tidak perlu nak Rocky." Tolak pak Rahman halus, meski ia di penuhi oleh emosi. Namun, pak Rahman tetap berusaha lembut pada Rocky.
"Pak? Ada apa ini? Kenapa dengan kalian?" Protes Ayla yang merasa pertanyaannya diabaikan.
"Nanti aku cerita baby. Bantu saja Kayla mengemasi barang-barang nya." Ucap Rocky lembut, menyentuh lengan istrinya.
Sementara Ayla yang tak mendapatkan jawaban memilih untuk menuruti perkataan Rocky. Mungkin saja, ia akan mendapat jawaban dari Kayla.
Di kamar, Kayla yang tengah memasukkan pakaiannya ke dalam mini bag, di buat kaget oleh kehadiran Ayla. Kayla yang masih berurai air mata itu mengusap pipi dengan punggung tangan nya. Ayla menatap iba pada sang adik. Lalu ia memeluk Kayla. Dalam dekapan sang kakak, Kayla menumpahkan semua perihnya. Menangis dengan sesal dan pilu. Tak ada yang Ayla katakan ataupun lakukan, ia hanya mengusap punggung Kayla dengan lembut. Memberi Kayla kekuatan jika adiknya tak sendiri.
Setelah membantu Kayla mengemas pakaian yang tak seberapa, tentu aja, tanpa kalimat apapun. Ayla pun merasa enggan bertanya yang hanya akan membuat Kayla semakin sedih. Lagi pula, Rocky sudah berjanji akan menjelaskan semua nanti. Ayla hanya perlu bersabar.
"Hukumlah saya, saya berhak mendapatkan nya. Saya bersedia menerima hukuman seperti apapun." Ujar Raize.
"Hukum? Memangnya kamu pikir aku ini aparatur negara? Bisa main hukum seenaknya?" Sinis pak Rahman.
"Tolong, jangan sakiti Kayla. Jika bapak ingin memukul, pukulah saya."
"Hahaha, apa kamu pikir aku ini algojo yang akan main pukul pada anak ku sendiri! Aku bapaknya, aku yang menjaga dia hingga sebesar ini. Tidak kusangka kamu dengan mudahnya tidur dengan anakku!" Hardik pak Rahman.
"Kami tidak melakukannya, pak."
__ADS_1
"Tidak? Bukankah kalian tidur satu kamar? Masih berani kamu bilang tidak melakukannya? Siapa yang akan percaya jika dua orang yang berlainan jenis berada dalam satu ruangan dan tidak terjadi apapun?!"
Ayla yang mendengar ucapan keras bapaknya seketika menoleh dan menatap Kayla. Adiknya itu menangis tersedu. Ayla bahkan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Tak percaya bahkan Kayla bisa berbuat seperti itu. Ia sedikit mengerti, kenapa Kayla tak lagi tinggal di kosan, kenapa Kayla selalu berkelit jika ia ingin berkunjung. Dan inilah jawabannya, Kayla tinggal satu atap dengan Raize.
Pak Rahman yang menyadari kehadiran Kayla yang mematung di ujung tangga. Langsung memberi tatapan mata yang merah dan beremosi.
"Cepat turun! Kita pergi sekarang!"
Dengan berat hati, Kayla menyeret koper dan menuruni tangga. Selama itu pula Raize menatap Kayla dengan segudang sesal dan sakit di dalam dada. Ia sangat ingin menanggung semua sendiri. Melihat Kayla terus berurai air mata, Raize sangat tak tega dan terus merasakan sesak yang semakin menghimpit dadanya.
Dengan sangat tak sabar, pak Rahman menarik koper Kayla. Lalu membawa semua barangnya keluar. Dimana Rocky tengah memasukkan semua barang mertuanya ke dalam bagasi.
"Anak muda, jangan dekati putriku lagi." Hardik pak Rahman memperingatkan Raize dengan sangat tegas. Raize mundur dengan perlahan, saat ini jika dia terus memaksa dan membujuk hanya akan membuat pak Rahman semakin murka. Raize menatap pilu Kayla, rasa sakit di hatinya tak bisa lagi Raize gambarkan. Membiarkan pak Rahman membawa Kayla tanpa berbuat apapun adalah pilihannya saat ini. Raize memandang Rocky dengan memohon. Sepupunya itu hanya mengangguk samar. Rocky sangat tau arti tatapan memohon dari Raize. Sebenarnya, Rocky tak tega juga melihat Raize seperti ini. Tapi, Rocky juga tak mau melakukan hal yang akan memperkeruh keadaan dan membuat pak Rahman semakin murka.
Setelah mobil yang membawa Kayla pergi. Raize terduduk lemas di atas lantai teras. Akhirnya, pria itu menitikan air mata juga. Bahu Raize berguncang pelan. Saat ia merasa ada tangan hangat yang menyentuh pundaknya, Raize menoleh. Mendapati Ayla berdiri di belakang tubuhnya. Tanpa kata, hanya diam seolah menyalurkan kekuatan padanya.
Beberapa saat kemudian.
"Apa? Kalian berpura-pura menikah, dan tinggal dalam satu atap yang sama?" Ayla memekik tak percaya saat mendengar penjelasan dari Raize.
Ayla terlihat sangat terkejut sekali. Pikirannya terus berputar pada kejanggalan yang ia rasakan. Tapi rasa percayanya pada Kayla, membuat Ayla tak memikirkan nya. Bagi Ayla, Kayla sudah dewasa untuk berpikir mana yang baik dan yang buruk. Dan harusnya, Kayla bisa berpikir untuk berdiskusi dengan nya jika memiliki masalah.
Ayla menggeleng dan memijit pelipisnya. Pikirannya terus melayang pada raut marah sang ayah dan juga tangisan Kayla. Ingatan Ayla juga kembali ke masa kecil mereka. Mengingat kembali seberapa marahnya sang ayah saat mereka melakukan kesalahan yang bertentangan dengan agama. Saat mereka pernah mencuri mangga tetangga, juga, saat mereka mandi di sungai dengan beberapa teman lelaki.
Dan kini, Ayla tak bisa membayangkan akan semurka apa ayahnya nanti. Ayla bergegas beranjak dari duduknya, lalu mengemasi beberapa pakaiannya dan pakaian Uwais.
__ADS_1
"Tidak, aku tak bisa membawa Uwais. Dia terlalu kecil untuk melihat kemurkaan bapak." Gumam Ayla ia terus berpikir, tak mungkin ia meninggalkan Uwais. Kepada siapa Ayla harus menitipkan anaknya?