Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 36


__ADS_3

"Tuan Roxy."


Roxy tersenyum kecil pada Alfa lalu mempersilahkan calon mantan suami dari wanita pujaannya itu untuk duduk. Alfa duduk di sebrang Roxy yang berbatas meja.


"Ke-kenapa anda ada di sini?"


Roxy mengulas senyum yang membuat Alfa segan. Roxy memajukan tubuhnya hingga menyentuh meja, lalu memangku wajahnya dengan punggung tangan yang saling bertautan.


"Sepertinya kamu punya masalah keuangan yang cukup pelik."


Alfa menatap Roxy, bagaimana bisa pria bule itu tau saat ini ia sedang kesulitan mencari uang 15juta untuk membayar denda?


"Apa dia ada di balik semua kejadian ini?" Selidik Alfa dalam hati.


"Jangan berfikir terlalu jauh, kawan! Ayla meminta ijin padaku untuk bertemu dengan mertuanya. Aku tau semua dari dia."


"Ayla tau?" Alfa mengepalkan tangannya, orang yang paling alfa tidak ingin tau tentang kejadian pengrebekan ini, adalah Ayla. Karena hanya akan memupuskan semua harapan untuk rujuk.


" Tunggu? Kenapa dia harus meminta ijin padamu?" Selidiknya kemudian.


"Kenapa?" Roxy mengulas senyum di wajahnya. "Karena dia calon istriku. Bukankah aku sudah bilang akan merebutnya darimu?"


Alfa mengepalkan tangannya, mengalirkan semua emosinya ke sana. Wajah Roxy yang terus tersenyum sangat percaya diri dan menghina itu membuat Alfa makin kesal. Tapi posisinya saat ini sangatlah tak menguntungkan. Bahkan dirinya masih tertahan dari semalam di kelurahan.


"Untuk apa anda kemari tuan Roxy?"


Roxy tersenyum lagi. "Tentu saja untuk membuat kesepakatan." Ucapnya mengambil lembaran yang Veloz sodorkan dari belakang dirinya duduk.


"Ini...." Roxy meletakkan lembaran kertas itu di atas meja dan mendorongnya hingga di depan Alfa.


Alfa membaca berkas itu, mata nya melebar dan kepalan tangannya semakin kuat hingga tampak memucat. Alfa menatap tajam pada Roxy, yang bahkan tak mengurangi wajah menyebalkannya bagi Alfa.


"Maaf, saya tidak setuju."


"Oohh ya? Bukankah kau sedang butuh uang?" Tanya Roxy datar." Ini sudah lebih dari yang kau butuhkan. 25juta. Aku bisa menambahkan nya jika kau mau."


Alfa mengepalkan tangannya semakin erat, mendelik tajam pada Roxy.


"Saya tidak akan menjual istri saya."


Roxy tergelak.


"Memangnya siapa yang membeli istrimu? Jika membeli, aku tidak akan menawarkan harga serendah itu." Kekeh Roxy semakin menyebalkan di mata Alfa.


"Kau memintaku untuk menceraikan nya. Bukankah itu sama saja?"


Roxy menggoyangkan telunjuknya di depan wajah Alfa sembari tersenyum semakin menyebalkan.


"Dia sudah mengajukan gugatan cerai. Semua berkas sudah masuk, berikut dengan bukti-bukti perselingkuhanmu dan nafkah yang kamu abaikan."


Detak jantung Alfa serasa berhenti berdetak. Rasa marah dan kecewa mengisi seluruh rongga dadanya.


"Kau pasti ingat dengan tamparan dan kalimat talak di depan umum itu kan?" Senyum menghina di wajah Roxy semakin membuat emosi Alfa di ubun-ubun.


Alfa berdiri dari duduknya dan memukul wajah Roxy.


Roxy menyungging senyum, sembari mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan merah.


"Veloz, pastikan pria ini mendekam di penjara dalam waktu yang lama. Dan denda yang sangat besar."

__ADS_1


"Baik tuan." Tunduk Veloz patuh.


Emosi Alfa semakin memuncak. Namun, siapa yang dia lawan?


Melihat wajah yang terlihat menahan sejuta emosi dan juga sesal. Roxy semakin menyungging senyum.


"Kecuali, dia menyetujui perceraian dengan Ayla, tidak mempersulit dan memberikan hak asuh Uwais pada mantan istrinya."


Wajah dan senyum penuh kemenangan itu jelas Roxy tunjukkan, bahkan wajah yang sangat mencemooh itu terlihat sangat jelas di sana.


Alfa mengepalkan tangannya semakin kuat.


______


Roxy memasuki kuda besinya sembari merapikan pakaian.


"Tuan, sebenarnya anda tak perlu menemui nya secara langsung."


"Tapi, aku ingin melihat wajah kalah itu dengan mata kepala ku sendiri."


Veloz mengulas senyum mengerti. Roxy memang semenyebalkan itu.


"Bagaimana selanjutnya tuan."


"Temui mantan mertua Ayla. Buat kesepakatan dengannya."


"Baik."


"Jangan kamu. Biar orang lain yang lakukan."


"Baiklah."


_____


"Ayla!"


Bu ignis dan Ayla saling berpelukan setelah Ayla mencium tangan sang mertua.


"Apa yang terjadi?"


"Ibu malu Ayla. Malu bertemu dengan mu seperti ini. Tapi, Alfa benar-benar sangat keterlaluan. Wanita itu juga! Kalian bahkan belum resmi bercerai, bisa-bisa nya mereka tinggal di seatap di kontrakan." Tangis Bu ignis mengeluh.


Ayla menggusap punggung mertuanya. Ayla merasa iba pada wanita tua itu. Bagi Ayla, Alfa dan Agya mau tinggal seatap atau apapun dia tak perduli, toh berkas perceraian sudah masuk ke persidangan. Rasa sakit di hati Ayla dengan sikap calon mantan suaminya itu sudah tak seperti dulu. Ayla lebih tegar, dan menerima.


"Semalam mereka di grebeg, Ay. Benar-benar membuat malu. Bahkan mereka sampai di arak ke kelurahan."


"Astaghfirullah...." Lirih Ayla mengusap punggung sang mertua agar lebih sabar. Tubuh wanita tua itu berguncang oleh tangis dan sakit hatinya pada Alfa.


"Maafkan ibuk, Ay." Tatap Bu ignis penuh sesal,"Maafkan ibuk karena kelakuan Alfa."


"Sudahlah buk. Ayla nggak memikirkan nya lagi. Ibuk yang sabar dan kuat ya." Hibur Ayla karena ia sendiri tak tau harus berkata apa lagi.


Bu Ignis mendessaah susah.


"Gimana ibuk bisa kuat Ayla, sekarang Alfa masih tertahan di kelurahan. Ibu harus dapatkan uang 15juta sebagai denda nya."


"Ayla nggak punya uang sebanyak itu buk."


Bu Ignis langsung melayangkan tatapan pada Ayla.

__ADS_1


"Ibuk nggak minta sama kamu ay!" Dengan suara yang lebih keras.


Ayla menundukkan kepalanya.


"Ibuk hanya sangat marah pada anak ibuk! Kenapa dia bisa begitu bodoh? Sudah punya istri cantik dan patuh, kenapa masih saja mencari wanita yang tidak jelas itu!" Gerutu Bu Ignis.


"Mungkin, Ayla nggak bisa puasin mas Alfa di ranjang buk."


Mata Bu Ignis mendelik pada Ayla yang justru tersenyum itu. Memaksa Bu Ignis untuk ikut tersenyum kesal dan juga geli.


"Alasan saja bilang begitu. Dasarnya Alfa saja yang bodoh!"


Setelah pertemuan yang penuh emosi dengan Ayla. Bu Ignis hendak pulang untuk mengambil sertifikat rumah, hanya itu yang dia punya.


Bu Ignis terkejut, karena ada tiga orang polisi di depan rumahnya.


"Ada apa ya ini pak?"


"Benar ini rumah bapak Alfatih?"


Bu Ignis mengangguk membenarkan, meski dalam pikirannya ada beribu tanya.


"Kami kemari untuk melakukan penangkapan pada pak Alfa atas tuduhan penganiayaan...." Jelas polisi itu.


"Apa?"


Tubuh Bu Ignis lemas seketika, kepalanya semakin berdenyut kuat. Belum selesai masalah denda penggerebekan, Alfa sudah membuat masalah baru dengan kasus menganiayaan.


Beberapa saat kemudian, Bu Ignis yang tadi sempat pingsan itu. Kini menangis di sofa ruang tamu rumahnya. Sakit hatinya, Alfa sampai sedemikian rupa bertingkah. Bu Ignis ingat, dulu semasa masih bersama Ayla anak sulungnya itu tak pernah begini.


"Wanita itu benar-benar pembawa sial! Dulu Alfa tak pernah terlibat masalah, dengan wanita pelakor itu malah macam-macam saja tingkah Alfa. Huhuhu..." Tangis Bu Ignis menderu...


Feri mengusap lengan ibunya agar lebih bersabar dan tabah.


Di depan pintu terdengar suara orang bertamu.


"Permisi!"


Bu Ignis mengusap pipinya yang basah, "lihat siapa itu fer."


"Iya buk."


****


Bu Ignis menatap pria seumuran dirinya yang duduk di kursi dekat pintu. Pria itu memberikan Bu Ignis sebuah map dan memintanya untuk membaca secara teliti.


Mata Bu Ignis melebar, dan seketika menatap pria itu.


"Ap-apa maksudnya ini?" Tanya Bu Ignis,


Pria di hadapannya justru tersenyum.


"Apa jika aku menandatangani ini maka aku akan mendapatkan uang sebanyak ini?"


Pria itu mengangguk pelan.


bersambung....


nb: maaf ya readerku, hari ini othor lagi agak sibuk, jadi hanya bisa up satu bab aja di jam ini. 🥲🥲

__ADS_1


__ADS_2