
"Mas. Aku nggak masak ya, capek." Kata Agya begitu melihat Alfa yang baru pulang kerja membuka tudung saji yang kosong.
Alfa yang merasa lelah karena bekerja seharian harus menahan perih perutnya yang melilit. Ia mencoba bersabar, walau bagaimanapun Agya sedang hamil.
"Mas mau mandi dulu, nanti kita makan di luar aja." Putus Alfa berjalan lemas ke kamar lalu keluar lagi dengan handuk pundaknya.
"Gy, air panasnya nggak ada?"
"Kenapa mas?"
"Mas capek, pingin mandi pake air panas."
"Agya nggak masak air mas. Kalau mau, mas Alfa masak sendiri lah." Sahut agyal dari ruang keluarga sembari menonton tv.
Alfa mengusap kasar wajahnya. Agya benar-benar berbeda dengan Ayla. Istri yang tak pernah cacat dalam melayani nya.
Lagi-lagi Alfa harus bersabar mengingat Agya sedang hamil anaknya. Alfa tak ingin ribut hanya masalah seperti ini.
Setelah mandi dan rapi, Alfa membawa Agya berjalan-jalan sore ke alun-alun. Menikmati pemandangan sore yang ramai. Membeli beberapa jajanan dan juga bakso karena Agya ingin makan bakso.
Duduk di sebuah warung bakso di pinggir alun-alun. Alfa tersenyum melihat Agya begitu lahap makan baksonya.
"Agya, makan yang banyak." Ucap Alfa lembut mengusap kepala istrinya. Alfa akan menerima bagaimana pun perangai Agya. Demi jabang bayi yang di kandung Agya.
Warung itu cukup ramai. Karena mereka duduk agak di pinggir tanpa sengaja ada yang menyenggol lengan Agya hingga bakso yang hampir masuk ke mulutnya jatuh.
"Hei! Hati-hati dong, mas!" Tegur Alfa tak suka.
"Maaf, mas. Rame banget ini soalnya..." Ucap pria itu meminta maaf dengan ramah.
Agya yang merasa cukup mengenal suara itu menoleh seketika. Matanya melebar melihat wajah pria itu.
"Agya?"
Wajah Agya tiba-tiba terlihat gugup dan tegang.
"Kamu.... Kemana aja? Ku cari-cari..."
__ADS_1
"Maaf ya, kita bicara lain waktu aja. Aku masih ada urusan." Potong Agya cepat, lalu menarik Alfa yang bingung itu keluar dari warung bakso.
"Dia siapa, gy?" Tanya Alfa yang penasaran sejak tadi saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Temen, mas."
"Kok aku nggak tau? Teman apa?" Selidik Alfa. Karena jika teman kerja tentu pastilah Alfa mengenalnya karena mereka satu tempat kerja.
"Bu-bukan. Itu, teman waktu SMA. Makanya tadi dia bilang udah lama kan mas?"
Alfa menelan begitu saja penjelasan Agya. Tidak seperti saat dengan Ayla yang ia buru tentang hubungannya dengan Roxy. Ia tak ingin membuat kesalahan yang sama dan membuat Agya pergi. Cukup sekali itu Alfa menyesal.
Hari berganti, Alfa yang sudah menjadi seorang staf kantor merasa sangat pusing dengan pekerjaan barunya. Hampir satu bulan masa training yang dia jalani, namun, ia merasa semua terlalu berat.
Alfa memijit pelipisnya yang terasa berat.
"Kuatkan diri mu Alfa. Ingat gaji yang lebih besar. Jika lolos training kali ini, aku pasti akan diangkat jadi staf tetap. Kumpulkan uang untuk biaya bersalin dan Bayat hutang untuk acara resepsi nanti." Gumam Alfa menyemangati dirinya sendiri.
Memang Alfa berhutang di bank untuk memenuhi janjinya pada Agya membuat pesta resepsi yang mewah. Tentu saja dengan menjaminkan sertifikasi rumah milik ibunya, tanpa sepengetahuan sang ibu.
Sore itu, sepulang kerja, Alfa sengaja mampir ke sebuah gerobang STAN roti bakar. Alfa ingat Ayla sangat senang saat dulu ia pulang dengan membawa roti bakar. Alfa pun mengharapkan hal yang sama menyenangkan Agya dengan hal kecil seperti itu.
"Iya mas, silahkan tunggu." Si penjual menyanggupi dengan ramah mempersilahkan Alfa duduk di kursi plastik.
Alfa pun duduk sembari melihat ke arah jalanan yang ramai oleh para penguna jalan yang berlalu lalang dengan kendaraan mereka. Alfa mengeluarkan hp nya lalu menghubungi Agya. Namun sayang, nomor malah di rijek.
"Eeehh, kok rijek?" Gumam Alfa lalu berganti mengirim pesan. Tampak jelas di layar Agya juga sedang mengetik.
("Bentar mas, lagi tanggung.")
Begitu isi pesannya, Alfa pikir mungkin saja Agya sedang membersihkan rumah atau mungkin juga sedang memasak. Lalu Alfa menyimpan hpnya di saku. Alfa melihat lagi ke arah jalanan, tak sengaja ia melihat sosok yang mirip Agya yang sedang berbonceng motor dengan seorang pria.
"Itu kek tubuh nya Agya, tapi....." Gumam Alfa cepat menepis pikiran buruk tentang istrinya.
Untuk mengusir prasaan yang bergejolak di dadanya, Alfa mengirim pesan pada Agya.
("Gy, kamu lagi dimana?")
__ADS_1
Agak lama Alfa menerima balasannya, tepat saat penjual roti bakar menyenggolnya, pesan itu masuk.
"Udah mas."
Alfa berdiri dan menyerahkan uang senominal yang penjual itu sebut kan. Alfa bernafas lega saat membaca pesan dari Agya yang mengabarkan ia sedang di rumah. Itu artinya ia tadi hanya salah lihat.
****
"Roti bakar? Mas pikir aku ini Ayla? Yang di kasih roti bakar aja mau?"
"Loh, emangnya kamu nggak suka roti bakar?"
"Enggak lah mas, yang suka roti bakar itu kan Ayla." Ketus Agya berkacak pinggang di depan pintu rumahnya."mas masih pikirin Ayla?"
"Gy, plis deh, Jangan mulai lagi." Alfa merasa semakin lelah, mengharapkan pulang mendapat sambutan yang baik dari Agya. Malah justru sebaliknya."jangan bawa-bawa Ayla."
"Abis, mas juga yang mulai sih." Agya makin ketus."mas masih cinta sama Ayla? Sok sana! Balik sama Ayla."
"Agya!" Sentak Alfa.
Agya yang memang sudah merasa sangat kesal dengan Alfa memilih masuk kedalam dan mengunci pintu kamarnya. Membuat Alfa mengusap wajah dan kepalanya dengan kasar.
_________
Roxy tak bisa lagi menahan senyum di wajahnya. Dalam perjalanan menuju pulau B. Tak jauh darinya, Ayla dan juga Uwais duduk.
Akhirnya, dengan memanfaatkan Uwais, Roxy membawa serta ibu dan anak itu ke pulau B. Roxy terus mengimingi Uwais bermain di pantai dan juga banyak hal. Tentu saja Uwais jadi merengek pada bundanya. Yang mau tak mau, Ayla akhirnya ikut juga.
Sesampai nya di pulau B. Roxy langsung melakukan peninjauan lokasi, sementara Ayla dan Uwais di antarkan ke sebuah villa pribadi di pinggir pantai.
Hingga malam tiba, bahkan sangat terlewat malam. Roxy yang sangat lelah duduk di ruang tengah, menyenderkan tubuh kekarnya di sana.
Sayup terdengar suara seorang wanita yang begitu lembut mengalun. Roxy menikmati lagu yang mengalun pelan. Mengiringi tubuhnya lelah beristirahat. Hampir setengah jam lamanya Roxy dalam suasana itu. Suara nyanyian itu berganti. Lebih bernada walau sama indahnya.
Rasa penasaran membuat Roxy bangkit. Berjalan mengikuti suara nyanyian lirih itu berasal.
Roxy berhenti di depan pintu yang sedikit terbuka. Roxy mengintip dari celah pintu. Jantung Roxy berdebar hebat, dada pria bule itu bahkan terus naik dan turun dengan cepat memburu nafasnya yang tiba-tiba berubah ritme. Mata coklat itu terpana, terpaku pada satu sosok wanita yang untuk pertama kalinya ia lihat helaian rambut hitam yang panjang hingga di bawah dada.
__ADS_1
Ya, itu adalah Ayla yang tidur sembari bersenandung di samping Uwais yang terlelap.